Sabtu, 22 Juni 2013

Udara Jakarta dengan Racunnya

Udara Jakarta dengan Racunnya
Nyoto Santoso ;   Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor
KORAN SINDO, 22 Juni 2013



Udara Jakarta, dengan jutaan kendaraan bermotor yang lalu lalang setiap harinya, adalah bom waktu yang setiap saat bisa membunuh siapa pun. 

Bisa kita bayangkan, jika setiap 1 liter bensin yang digunakan kendaraan bermotor akan melepaskan gas karbon dioksida atau gas rumah kaca seberat 3 kg ke udara, berapa juta kilogram gas rumah kaca yang terlepas di udara Jakarta dari jutaan mobil dan motor yang setiap hari “berjalan hilir mudik” di Ibu Kota? Itu belum termasuk partikel timbal dan sulfur yang amat berbahaya bagi kesehatan (yang terdapat dalam bensin) yang juga terlepas di udara. 

Karena itulah udara Jakarta nyaris menjadi “racun” bagi penduduknya. Masyarakat sedikit banyak sudah menyadari atas kondisi itu. Ini terbukti dari laris manisnya penjual masker di Jakarta. Sekarang ini, orang memakai masker udara di Jakarta sudah menjadi pemandangan umum. Tak sedikit orang akan sakit dan pusing bila menghirup udara Jakarta tanpa masker. Tapi sebetulnya memakai masker belum cukup untuk “membersihkan” udara yang terhirup paru-paru kita. 

Tapi, setidaknya, itulah upaya terkecil yang bisa dilakukan masyarakat untuk menyaring partikel-partikel yang terbawa udara berdebu dan beracun itu. Penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK UI) 2001 terhadap 400 anak di Jakarta menyimpulkan: masa depan kesehatan anak-anak Jakarta buruk. Kenapa? Dari 400 anak yang diperiksa darahnya, 35,4% di antaranya mengandung timbal (Pb). 

Kadar timbalnya tidak main-main: jauh lebih besar ketimbang batas ambang yang ditetapkan WHO (Badan KesehatanDunia, PBB) 10mikrogram per desiliter. Kondisi tersebut terjadi karena kandungan timbal dalam udara 1,7 miligram per meter kubik. Padahal, pada 2003, kandungan timbal itu lebih tinggi lagi, mencapai 0,2 miligram per meter kubik udara. Kondisi ini jelas sangat mencemaskan karena anakanak tersebut rentan terhadap berbagai penyakit seperti kerusakan sistem saraf, jantung, metabolisme. 

Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengungkapkan, kualitas udara Kota Jakarta saat ini berada pada urutan ketiga terburuk di dunia setelah Meksiko dan Panama. Komponen terbesar yang menyumbangkan polusi udara adalah asap kendaraan bermotor. “Asap kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua menyumbangkan 80% polusi di Jakarta, sedangkan 20% sisanya berasal dari industri,” kata Sutiyoso. 

Dampaknya, banyak orang mengalami gangguan pernapasan. Efeknya yang lebih parah, bisa terkena kanker paru-paru, keguguran, dan kematian dini. Buruknya kondisi udara, menurut laporan Journal of American Medical Association 2010, ternyata dapat memicu masalah pada jantung. Hal ini setidaknya dibuktikan lewat hasil studi terbaru para ilmuwan di China yang melibatkan sebagian besar masyarakat yang tinggal di Kota Beijing selama dan sesudah Olimpiade Beijing 2008 silam. 

Penelitian ini melibatkan 125 dokter pria dan wanita sehat di sebuah rumah sakit Beijing selama dan setelah Olimpiade. Selama Olimpiade ada penurunan yang signifikan pada tingkat zat CD62Pterlarut, sebuah materi yang menjadi faktor yang menyebabkan pembekuan darah. Hal itu terjadi karena selama Olimpiade, Pemerintah Cina melakukan upaya besar-besaran untuk menekan polusi udara. 

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menutup pabrik-pabrik untuk sementara waktu dan melarang penggunaan kendaraan (mobil) di jalan-jalan raya. Namun setelah olimpiade berakhir, risiko peningkatan berbagai masalah penyakit kardiovaskular kembali meningkat yang diikuti dengan masalah tekanan darah.“Kami percaya ini adalah studi besar pertama yang jelas menunjukkan bahwa perubahan dalam paparan polusi udara memengaruhi mekanisme penyakit kardiovaskular pada orang muda sehat,” kata Junfeng (Jim) Zhang, seorang profesor di USC Medical School. 

Menurut penelitian Koalisi Jakarta 2030, pencemaran udara di Jakarta setiap tahunnya merenggut 38.000 nyawa. Jelas, ini jumlah kematian yang sangat besar yang menimbulkan beban sosial ekonomi yang amat besar bagi warga Jakarta. Shanty Syahril dari Koalisi Jakarta 2030 mengatakan polusi udara di Ibu Kota menjadi beban sosial masyarakat yang berlanjut pada peningkatan jumlah penyakit. Koalisi mencatat biaya kesehatan masyarakat Jakarta pada 2008 mencapai USD180 juta. 

Pada 2015 biaya itu diperkirakan mencapai USD430 juta. Ini jumlah yang amat besar yang bila dipakai untuk membangun taman kota, hutan lingkungan, danau buatan, dan restorasi hutan mangrove di pantai utara sangatlah memadai. Memang benar, pencemaran udara di Jakarta yang parah ini 80%-nya bersumber dari kendaraan bermotor. Saat ini jumlah kendaraan bermotor di Jakarta mencapai lebih dari 8,5 juta buah. “Biaya kesehatan akibat polusi udara ini dikeluarkan oleh individu,” ujarnya. 

Kondisi demikian, menurut anggota Dewan Transportasi Kota (DTK) Jakarta Iskandar Abubakar, sudah tergolong menyeramkan. Karena itu, harus segera didesain solusi tepat dan cepat. “Idealnya memang pertumbuhan kendaraan pribadi harus distop tanpa pengecualian,” ujar mantan Dirjen Perhubungan Darat tersebut. Memang membatasi jumlah kendaraan di Jakarta adalah salah satu cara untuk mengurangi pencemaran udara. 

Tapi, masalahnya, siapakah yang dapat mencegah aliran dan difusi udara di atmosfer? Jika jumlah kendaraan di Jakarta dikurangi, sementara kendaraan di pinggiran Jakarta—seperti Jawa Barat dan Banten— terus bertambah, dampaknya akan mengenai Jakarta pula. Karena itu, mengurangi jumlah kendaraan untuk mencegah bertambahnya polusi kurang efektif meski memang ada manfaatnya. 

Dengan demikian, harus ada solusi lain yang lebih efektif, yang akan berdampak positif terhadap polusi secara keseluruhan. Di antara solusi yang efektif, pertama, adalah memperluas ruang terbuka hijau (RTH). Sampai 2010, realisasi RTH di DKI Jakarta hanya 9,80%. Padahal, idealnya, 30%. Perluasan RTH ini harusnya tidak hanya dilakukan di Jakarta, tapi juga di daerah pendukungnya, yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Tanpa dukungan perluasan RTH di daerah sekeliling Jakarta, pembatasan jumlah kendaraan nyaris tak ada artinya. 

Solusi kedua adalah merehabilitasi hutan mangrove di pantai utara Jakarta. Hutan mangrove merupakan hutan yang sangat efektif untuk menyerap karbon dioksida yang selanjutnya mengeluarkan oksigen— gas yang amat penting dalam komposisi udara yang sehat. Pohon mangrove yang mampu menyerap gas karbon dua sampai tiga kali lipat dibandingkan pohon lain semestinya menjadi pilihan untuk memperluas ruang terbuka hijau. 

Saat ini, di Jakarta hanya ada sekitar 25 hektare hutan mangrove yang sehat, letaknya di Muara Angke. Ini jumlah yang terlalu kecil untuk “menghijaukan” Jakarta— ibu kota negeri yang memiliki hutan mangrove terbesar di dunia. Dampak lanjutan dari restorasi dan rehabilitasi hutan mangrove ini menjadikan air laut makin jernih dan sehat. Air laut yang baik dapat berfungsi untuk menyerap gas karbon dari atmosfer. 

Dengan demikian perluasan hutan mangrove di pantai utara dapat memperbaiki kualitas udara di Jakarta. Solusi ketiga, memperbanyak hutan kota, hutan lingkungan, dan waduk. Semua itu dapat mengurangi polusi udara yang berakibat makin sehatnya kehidupan penduduk Jakarta. Masih banyak strategi lain untuk mencegah bertambahnya pencemaran udara karena udara merupakan komponen penting manusia yang tak bisa dibatasi pergerakannya. 

Seluruh dunia berkepentingan untuk memperoleh udara yang sehat. Dan kontribusi Jakarta dalam menghasilkan udara yang sehat niscaya akan mendapat acungan dunia! Apalagi pemerintah SBY sudah bertekad untuk mengurangi emisi gas karbon sampai 26% pada 2020.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar