Rabu, 14 November 2012

Obama dan Pengaruh Bunda



Obama dan Pengaruh Bunda
Purbayu Budi Santosa ;  Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, Kontributor Buku Ann Dunham dalam Kenangan (2009)
SUARA MERDEKA, 13 November 2012



"Sang ibu yang banyak memberi perhatian kepada kaum lemah, ikut memengaruhi gaya kepemimpinan Obama "

SESAAT setelah diumumkan memenangi pilpres AS, Barack Hussein Obama berpidato dengan nada simpatik di hadapan ribuan pendukungnya di Chicago pada Selasa malam waktu setempat. Yang menarik dari pidatonya itu adalah nada simpatik kepada pendukung rivalnya, yang dikatakan telah berjuang keras untuk menyainginya.

Ia menjelaskan bahwa persaingan keras itu lebih karena sama-sama mencintai sekaligus ingin memajukan Amerika. Obama menyatakan siap bekerja keras pada masa jabatan kedua dan ingin bertemu pesaingnya, Mitt Romney, untuk menjalin kerja sama.

Dalam konteks kekinian di negara kita, menghadapi kompetisi seperti pilpres, pileg, atau pilkada, calon pemimpin kita tak ada salahnya meniru Obama dan Romney, yang sama-sama siap bersikap kesatria menghadapi kompetisi. Titik akhir kompetisi hanya dua: kalah atau menang. Obama sebagai pemenang pilpres berlaku simpatik pada rival utama, Romney, yakni mengajak bekerja sama. Seperti tak mau kalah simpatik, Romney menyatakan kesiapannya.

Kehebatan Bunda

Mungkin banyak orang Indonesia mengenal sosok Obama, yang pernah tinggal di Menteng Jakarta, dan sampai kini menyenangi masakan khas Indonesia yaitu sate ayam dan nasi goreng. Tetapi coba tanyakan siapa Ann Dunham? Bisa dipastikan banyak orang Indonesia tak mengenalnya. Penulis sering menanyakan kepada mahasiswa, dan hampir sebagian besar menjawab tidak mengenal.

Obama tinggal di Indonesia sekitar 5 tahun karena sang bunda, yang bernama lengkap Stanley Ann Dunham, menikah dengan Lolo Soetoro, pemuda Indonesia pada 1967. Ann Dunham lahir di Forth Leavenworth Kansas pada 29 November 1942. Dia putri tunggal pasangan Stanley Amour Dunham-Madelyn Lee Payne. Sang ayah menamai Stanley, nama laki-laki, karena begitu menginginkan anak laki-laki.

Meskipun lahir sebagai perempuan, melihat geraknya yang seperti tidak kenal  lelah, di antaranya mengantarkan anak menjadi  orang nomor satu di AS, dan kiprah sebagai akademisi yang tangguh memperjuangkan kaum marginal di berbagai negara maka harapan orang tua sebenarnya telah kesampaian karena terbukti energi dan kiprah Aan tidak kalah dari kaum lelaki.

Kehebatan Obama pun bisa dicatat, yaitu sebagai presiden pertama negara adidaya yang berkulit hitam. Sang bunda juga tak kalah hebat karena menentang arus utama kebiasaan masyarakat AS pada masa lalu yang memandang ras kulit putih lebih unggul. Dia mengawini Barack Hussein Obama Senior, asal Kenya yang berkulit hitam, dan menikah lagi dengan pemuda Indonesia yang juga berkulit berwarna. 

Lebih mengejutkan lagi, pengabdian Aan yang lebih senang meneliti dan membantu kaum marginal di negara sedang berkembang, khususnya mengenai kerajinan rakyat.
Sebagian besar waktu Aan dihabiskan di Indonesia. Di samping ia disunting pemuda Indonesia, gelar PhD yang diraih dari Departemen Antropologi Universitas Hawaii pada Agustus 1992 mengambil penelitian lapangan di Indonesia. Ia memilih disertasi bertopik ’’Kerajinan Pandai Besi Petani di Indonesia: Bertahan dan Berkembang di Tengah Segala Kesulitan’’ (’’Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving and Thriving Against All Odds’’).

Penuh Perhatian

Mengingat banyak waktu dicurahkan di Indonesia maka Ann mempelajari Bahasa Indonesia dan bisa menguasai secara fasih. Penguasaannya secara prima ia tunjukkan dengan menerbitkan beberapa artikel jurnal berbahasa Indonesia, dan memberi kuliah di berbagai universitas di Indonesia. Ia tak sempurna menguasai Bahasa Jawa tapi hal itu cukup memadai untuk mewawancarai responden atau berkomunikasi dengan warga di daerah pedesaan.

Ann Dunham memiliki keahlian dalam bidang pengembangan usaha mikro dan usaha kecil, industri kecil, industri desa, pembangunan desa, kredit usaha mikro dan perbankan desa, pekerjaan nonpertanian, wanita dalam pembangunan, wanita di sektor industri, teknologi tepat guna, ilmu sosial di universitas negara berkembang.
Meskipun secara keakademian bergelut dalam spesialisasi ilmu antropologi, penguasaannya pada berbagai disiplin ilmu sangat memadai.

Obama dalam memoarnya juga menuliskan banyak belajar dari sang ibu, yang terkenal disiplin dan penuh perhatian kepada sesama, terutama kaum pinggiran. Dampak positifnya, meski popularitas Obama lagi menurun, ia bisa memenangi pilpres. Padahal banyak analis menyoroti kinerja ekonomi yang kurang baik, terlihat dengan kemembengkakan utang luar negeri AS, dan ketidaksembuhan dari krisis ekonomi berkepanjangan.

Nilai plus lain Obama adalah keputusan menarik seluruh pasukan AS di Irak terkait penguasaan negara itu lewat kebijakan Bush, dan yang lebih mengagetkan adalah menyetujui negara Palestina yang merdeka. Sang ibu yang banyak memberi perhatian kepada pihak lain yang lemah dan menjunjung tinggi multikulturalisme, sepertinya berpengaruh terhadap karakter kepemimpinan Obama.

Publik AS mungkin sudah jenuh pada kebrutalan negara AS terhadap negara lain, sehingga peran bunda yang penuh perhatian kepada pihak lain, turut memengaruhi kebijakan luar negeri AS yang lebih lunak kepada negara lain. Pengaruh positif dari sang bunda itulah yang ikut mengantarkan kesuksesan Obama kembali memenangi pilpres.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar