|
Obama dan
Pengaruh Bunda
Purbayu Budi Santosa ; Guru Besar Fakultas
Ekonomika dan Bisnis Undip, Kontributor Buku Ann Dunham dalam Kenangan (2009)
|
SUARA
MERDEKA, 13 November 2012
|
"Sang ibu yang banyak memberi perhatian kepada kaum lemah,
ikut memengaruhi gaya kepemimpinan Obama "
SESAAT setelah diumumkan memenangi pilpres AS, Barack Hussein Obama berpidato dengan nada simpatik di hadapan ribuan pendukungnya di Chicago pada Selasa malam waktu setempat. Yang menarik dari pidatonya itu adalah nada simpatik kepada pendukung rivalnya, yang dikatakan telah berjuang keras untuk menyainginya.
Ia menjelaskan
bahwa persaingan keras itu lebih karena sama-sama mencintai sekaligus ingin
memajukan Amerika. Obama menyatakan siap bekerja keras pada masa jabatan
kedua dan ingin bertemu pesaingnya, Mitt Romney, untuk menjalin kerja sama.
Dalam konteks
kekinian di negara kita, menghadapi kompetisi seperti pilpres, pileg, atau
pilkada, calon pemimpin kita tak ada salahnya meniru Obama dan Romney, yang
sama-sama siap bersikap kesatria menghadapi kompetisi. Titik akhir kompetisi
hanya dua: kalah atau menang. Obama sebagai pemenang pilpres berlaku simpatik
pada rival utama, Romney, yakni mengajak bekerja sama. Seperti tak mau kalah
simpatik, Romney menyatakan kesiapannya.
Kehebatan
Bunda
Mungkin banyak
orang Indonesia mengenal sosok Obama, yang pernah tinggal di Menteng Jakarta,
dan sampai kini menyenangi masakan khas Indonesia yaitu sate ayam dan nasi
goreng. Tetapi coba tanyakan siapa Ann Dunham? Bisa dipastikan banyak orang
Indonesia tak mengenalnya. Penulis sering menanyakan kepada mahasiswa, dan
hampir sebagian besar menjawab tidak mengenal.
Obama tinggal
di Indonesia sekitar 5 tahun karena sang bunda, yang bernama lengkap Stanley
Ann Dunham, menikah dengan Lolo Soetoro, pemuda Indonesia pada 1967. Ann
Dunham lahir di Forth Leavenworth Kansas pada 29 November 1942. Dia putri
tunggal pasangan Stanley Amour Dunham-Madelyn Lee Payne. Sang ayah menamai
Stanley, nama laki-laki, karena begitu menginginkan anak laki-laki.
Meskipun lahir
sebagai perempuan, melihat geraknya yang seperti tidak kenal lelah, di
antaranya mengantarkan anak menjadi orang nomor satu di AS, dan kiprah
sebagai akademisi yang tangguh memperjuangkan kaum marginal di berbagai
negara maka harapan orang tua sebenarnya telah kesampaian karena terbukti
energi dan kiprah Aan tidak kalah dari kaum lelaki.
Kehebatan
Obama pun bisa dicatat, yaitu sebagai presiden pertama negara adidaya yang
berkulit hitam. Sang bunda juga tak kalah hebat karena menentang arus utama
kebiasaan masyarakat AS pada masa lalu yang memandang ras kulit putih lebih
unggul. Dia mengawini Barack Hussein Obama Senior, asal Kenya yang berkulit
hitam, dan menikah lagi dengan pemuda Indonesia yang juga berkulit berwarna.
Lebih mengejutkan lagi, pengabdian Aan yang lebih senang meneliti dan
membantu kaum marginal di negara sedang berkembang, khususnya mengenai
kerajinan rakyat.
Sebagian besar
waktu Aan dihabiskan di Indonesia. Di samping ia disunting pemuda Indonesia,
gelar PhD yang diraih dari Departemen Antropologi Universitas Hawaii pada
Agustus 1992 mengambil penelitian lapangan di Indonesia. Ia memilih disertasi
bertopik ’’Kerajinan Pandai Besi Petani di Indonesia: Bertahan dan Berkembang
di Tengah Segala Kesulitan’’ (’’Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving
and Thriving Against All Odds’’).
Penuh
Perhatian
Mengingat
banyak waktu dicurahkan di Indonesia maka Ann mempelajari Bahasa Indonesia
dan bisa menguasai secara fasih. Penguasaannya secara prima ia tunjukkan
dengan menerbitkan beberapa artikel jurnal berbahasa Indonesia, dan memberi
kuliah di berbagai universitas di Indonesia. Ia tak sempurna menguasai Bahasa
Jawa tapi hal itu cukup memadai untuk mewawancarai responden atau
berkomunikasi dengan warga di daerah pedesaan.
Ann Dunham
memiliki keahlian dalam bidang pengembangan usaha mikro dan usaha kecil,
industri kecil, industri desa, pembangunan desa, kredit usaha mikro dan
perbankan desa, pekerjaan nonpertanian, wanita dalam pembangunan, wanita di
sektor industri, teknologi tepat guna, ilmu sosial di universitas negara
berkembang.
Meskipun
secara keakademian bergelut dalam spesialisasi ilmu antropologi,
penguasaannya pada berbagai disiplin ilmu sangat memadai.
Obama dalam
memoarnya juga menuliskan banyak belajar dari sang ibu, yang terkenal
disiplin dan penuh perhatian kepada sesama, terutama kaum pinggiran. Dampak
positifnya, meski popularitas Obama lagi menurun, ia bisa memenangi pilpres.
Padahal banyak analis menyoroti kinerja ekonomi yang kurang baik, terlihat
dengan kemembengkakan utang luar negeri AS, dan ketidaksembuhan dari krisis
ekonomi berkepanjangan.
Nilai plus
lain Obama adalah keputusan menarik seluruh pasukan AS di Irak terkait
penguasaan negara itu lewat kebijakan Bush, dan yang lebih mengagetkan adalah
menyetujui negara Palestina yang merdeka. Sang ibu yang banyak memberi
perhatian kepada pihak lain yang lemah dan menjunjung tinggi
multikulturalisme, sepertinya berpengaruh terhadap karakter kepemimpinan
Obama.
Publik AS
mungkin sudah jenuh pada kebrutalan negara AS terhadap negara lain, sehingga
peran bunda yang penuh perhatian kepada pihak lain, turut memengaruhi
kebijakan luar negeri AS yang lebih lunak kepada negara lain. Pengaruh
positif dari sang bunda itulah yang ikut mengantarkan kesuksesan Obama
kembali memenangi pilpres. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar