|
Kinerja
Ekonomi Kwartal III
Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo ; Pengamat Ekonomi
|
SINDO,
13 November 2012
|
Apa yang menarik dari laporan tersebut? Dalam berbagai laporan
tentang kinerja para emiten pasar modal,tampak di kuartal ketiga lalu
pertumbuhan usaha yang mereka alami relatif masih tinggi. Bank-bank misalnya
mengalami pertumbuhan keuntungan cukup besar.Bank Mandirimisalnya membukukan pertumbuhan
keuntungan sebesar 21,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
sehingga mencapai Rp11,1 triliun. Bank CIMB Niaga bahkan membukukan
pertumbuhan keuntungan sebesar 30%.
Bank BII juga menghasilkan kinerja yang lebih fantastis yaitu dengan pertumbuhan laba 66%. Bank BCA, meskipun labanya hanya tumbuh sekitar 8%, pertumbuhan kreditnya mencapai 34%.Perkembangan ini menunjukkan, dunia usaha sektor riil yang mereka biayai tentu juga menghasilkan kinerja yang baik, sebagaimana tercermin dari pertumbuhan penjualan maupun laba mereka. Perkembangan sektor riil pertama-tama tentu diwakili oleh pertumbuhan penjualan mobil yang fenomenal. Sampai September 2012 penjualan mobil mencapai 816.000 unit atau naik 23,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perkembangan ini tentu mewarnai kinerja emiten di bidang automotif seperti Astra International dan Indomobil. Karena kinerja mereka tercampur dengan bisnis lain yang mereka geluti seperti perkebunan dan pertambangan maupun sektor usaha lainnya, laporan keuangan mereka memang tidak sepenuhnya mencerminkan bisnis automotif. Untuk usaha barang konsumsi, PT Unilever Tbk––yang sering saya anggap sebagai indikator perekonomian Indonesia karena penetrasi penjualannya ke seluruh wilayah negeri ini sudah hampir 100%––membukukan pertumbuhan penjualan lebih dari 17% selama sembilan bulan pertama 2012. Dengan inflasi yang relatif rendah, kita bisa menduga kenaikan harga barang mereka yang termasuk dalam nilai penjualan tersebut tentu juga rendah. Ini berarti pertumbuhan volume penjualan (dan ujungnya tentu volume produksi) mereka juga tumbuh sekitar 13–14%. Perusahaan serupa lainnya,PT Mayora Tbk, bahkan mengalami pertumbuhan nilai penjualan lebih tinggi lagi yaitu sebesar 29,67%. Ini berarti volume penjualan mereka, setelah dikurangi inflasi yang merefleksikan kenaikan harga,tumbuh sekitar 25%. Dengan melihat berbagai laporan kinerja emiten tersebut, laporan BPS yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III/2012 sebesar 6,17% merupakan semacam konfirmasi terhadap laporan pertumbuhan penjualan berbagai emiten tersebut. Dengan pertumbuhan sebesar itu,yang mengalami penurunan dibandingkan dengan kuartal I/2012 dan II/2012,pertumbuhan ekonomi Indonesia selama sembilan bulan pertama pada 2012 mencapai 6,29% atau sekitar 6,3%. Angka ini memang jauh lebih rendah dibandingkan dengan berbagai laporan kinerja berbagai perusahaan tersebut. Ini terjadi antara lain karena kinerja sektor pertambangan yang tumbuh rendah atau bahkan negatif selama kuartal tersebut. Berdasarkan laporan BPS itu, pertumbuhan ekonomi 6,17% antara lain disumbangkan oleh pertumbuhan yang positif dari sektor pertanian sebesar 4,80%, industri pengolahan 6,36%, konstruksi 7,98%, pengangkutan dan komunikasi 10,48%, sementara sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan meningkat 7,41%.Namun, sektor pertambangan turun 0,09%. Dari angka pertumbuhan sektoral tersebut, tampak perekonomian domestik memang tumbuh tinggi. Industri pengolahan misalnya yang selama beberapa tahun lalu seakan mengalami proses ”deindustrialisasi” dalam kuartal III/2012 ini tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Ini berarti industri pengolahan sudah tidak lagi mengalami ”deindustrialisasi”. Bahkan jika industri pengolahan nonmigas ditilik, tingkat pertumbuhan yang terjadi tentu akan lebih tinggi lagi.Kendati demikian, angka pertumbuhan tersebut memang jauh lebih rendah dibandingkan kinerja yang dilaporkan para emiten yang bergerak di sektor industri manufaktur tersebut. Ini tentu memerlukan penelitian tersendiri, di manakah sebenarnya gapyang ada. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama didukung oleh pertumbuhan konsumsi sebesar 5,68%, sementara investasi tumbuh 10,02%.Konsumsi pemerintah justru mengalami pertumbuhan negatif sebesar 3,22%. Ini berarti pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ketiga semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan dunia usaha dan masyarakat atau dikenal sebagai private sector driven growth. Pertumbuhan investasi yang tinggi itu akan menghasilkan peningkatan produksi seluruh perekonomian pada waktu-waktu mendatang. Akhirnya peningkatan permintaan yang akan terjadi dibarengi dengan pertumbuhan kapasitas produksinya sehingga akan mengurangi potensi terjadi bubble dalam perekonomian. Kontribusi konsumsi dalam perekonomian Indonesia di kuartal III/2012 mencapai 54,79%, sementara investasinya 33,18%. Share konsumsi pemerintah dalam produk domestik bruto (PDB) mencapai 8,24%, sementara net ekspor mencapai -0,61%. Ini berarti dalam perekonomian Indonesia, kontribusi perdagangan luar negeri sudah menjadi negatif. Meskipun kontribusinya negatif, yang terutama disebabkan oleh lambatnya pertumbuhan ekspor karena terkait dampak perekonomian global, sementara impornya tumbuh tinggi karena tingginya perekonomian domestik, akhirnya itu mencerminkan keberhasilan perekonomian domestik dalam meng-offset perdagangan internasional kita. Bagaimanapun suatu hal yang sungguh patut kita syukuri, di tengah krisis perekonomian global, perekonomian Indonesia justru mampu tumbuh dengan kecepatan sebesar 6,3% selama tiga kuartal terakhir ini, yang ternyata merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi nomor kedua setelah China. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar