|
“Pendidikan sangat penting bagi generasi muda agar bisa
saling menghormati dan menghargai perbedaan. Pendidikan akan membuka wawasan
manusia untuk saling belajar dan menerima perbedaan”
Sejak 1967, Vatikan selalu mengirimkan pesan Idul Fitri
kepada umat muslim seluruh dunia. Tradisi itu mengungkapkan persaudaraan sejati
untuk menghormati suadara dan saudari muslim saat merayakan Idul Fitri. Vatikan
telah menerbitkan pesan Paus Fransiskus yang ditujukan kepada umat muslim di
seluruh dunia yang menyelesaikan puasa selama Ramadan.
Tahun ini, umat muslim merayakan Idul Fitri pada 8 dan 9 Agustus. Dalam pesan yang dikeluarkan Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Paus mengatakan di awal masa kepausannya bahwa dia secara pribadi ingin mengirimkan pesan ini kepada umat muslim di seluruh dunia saat merayakan Idul Fitri. Dalam pesan tersebut, Paus mengangkat tema refleksi yang menjadi kepedulian bersama Islam dan Kristen: Meningkatkan Saling Menghormati melalui Pendidikan.
Rasa hormat adalah "proses" kebaikan bersama, maka Paus Fransiskus mengajak kaum muslim dan Kristen untuk menghormati setiap orang "pertama-tama hidupnya, integritas fisiknya, martabatnya dan hak-hak yang berasal dari martabat itu, reputasinya, hartanya, identitas etnis dan budayanya, ide-idenya, dan pilihan politiknya. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk berpikir, berbicara, dan menulis dengan penuh hormat tentang orang lain, tidak hanya di hadapannya, tapi selalu dan di mana-mana, menghindari kritik atau pencemaran nama baik yang tidak adil. Keluarga, sekolah, ajaran agama dan semua bentuk media memiliki peran untuk mencapai tujuan ini."
Bila terjadi kekhawatiran hubungan antaragama, "terutama di antara Kristen dan Islam," kata Paus, "kita dipanggil untuk menghormati agama lain, ajaran-ajarannya, simbol-simbolnya, nilai-nilainya, terutama menghormati para pemimpin agama dan tempat ibadah. Betapa menyakitkan serangan terhadap mereka!"
Terkait pendidikan terhadap orang muda, baik muslim maupun Kristen, Paus mengatakan, "Kita harus mendidik orang-orang muda untuk berpikir dan berbicara dengan menghormati agama-agama lain dan para pengikut mereka, menghindari ejekan atau merendahkan keyakinan dan praktik keyakinan mereka." Dia mengulangi "betapa pentingnya dialog dan kerja sama antarumat beragama, khususnya Kristen dan muslim."
Ia menyatakan harapannya bahwa masyarakat kedua agama "bisa menjadi promotor sejati saling menghormati dan membangun persahabatan, khususnya melalui pendidikan. Pendidikan sangat penting bagi generasi muda agar bisa saling menghormati dan menghargai perbedaan. Pendidikan akan membuka wawasan manusia saling belajar dan menerima perbedaan.
Kaum Muda
Paus mengatakan bahwa pesan ini harus diterapkan semua orang dengan menghargai kehidupan, martabat dan hak-hak setiap manusia. "Terkait pendidikan pemuda muslim dan Kristen, kita harus bisa membuat mereka untuk berpikir dan berbicara dengan penuh hormat soal agama lain dan para pengikutnya, dan menghindari dari mengejek atau merendahkan keyakinan dan ibadah pemeluk agama lain," demikian tegas Paus.
Keberagamaan kita di Nusantara ini meniscayakan perbedaan. Namun, sering kali perbedaan dijadikan alasan untuk melegalkan kekerasan atas nama agama. Itu terjadi karena klaim kebenaran yang lebih ditonjolkan daripada mencari persamaan untuk membangun kekuatan. Idul Fitri merupakan momentum yang baik untuk meneguhkan semangat keberagamaan dalam keberagaman. Karena itu, mendidik kaum muda muslim dan Kristen dalam menciptakan perdamaian dan keadilan merupakan agenda mendesak.
Adanya banyak sebab kekerasan di antara para pemeluk agama, misalnya, manipulasi agama untuk tujuan politis atau lainnya; diskriminasi atas dasar etnisitas atau identitas religius; perpecahan dan ketegangan sosial. Ketidaktahuan, kemiskinan, tertinggal dalam perkembangan juga merupakan sumber langsung atau tidak untuk kekerasan dalam komunitas-komunitas religius, juga merupakan sebab lainnya.
Disadari bahwa semangat perayaan Idul Fitri bagi kaum muslim untuk kembali pada kesucian. Momentum ini jelas sangat tepat untuk membangun tali persaudaraan antarwarga. Dengan kembali pada kefitrian, tali persaudaraan akan mudah diwujudkan sebab manusia akan lahir kembali dalam keadaan suci. Pendidikan toleransi bagi kaum muda Kristiani dan muslim bersama-sama mengatasi kekerasan antarpemeluk agama yang dewasa ini merupakan masalah begitu hangat.
Persaudaraan sejati akan melahirkan ikatan solidaritas antarwarga di tengah gejolak dunia yang dipenuhi dengan ketegangan. Ketegangan ini kita sadari dipicu oleh tata dunia yang tidak adil yang potensial melahirkan perlawanan. Bentuk perlawanan itu salah satunya ketika orang bertindak di luar batas-batas kemanusiaan. Wajah dunia tidak lagi damai, tapi penuh kecurigaan.
Pesan Vatikan tahun ini berkaitan erat dengan sebelum-sebelumnya untuk memperkuat persaudaraan guna mengatasi masalah kemanusiaan yang semakin tipis. Semuanya bertujuan agar umat Kristen dan muslim terus memperkuat hubungan persaudaraan agar lebih mudah memperjuangkan tata dunia yang adil dan damai.
Ini sejalan dengan komitmen Gereja dalam rangka membangun hubungan-hubungan baik di kalangan umat dari berbagai agama, meningkatkan dialog budaya, dan bekerja sama demi keadilan yang lebih besar dan perdamaian abadi. Pesan tradisional ini memang hanyalah sebuah kata, namun disampaikan dari hati yang sangat tulus. Sebagai umat beragama yang beriman, adalah kewajiban semuanya dalam menjadi pioner menjaga perdamaian, hak asasi manusia dan kebebasan yang menghargai setiap pribadi, sekaligus menjamin semakin kuatnya ikatan-ikatan sosial.
Setiap orang harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi. Dalam masyarakat kenegaraan, tidak seorang pun boleh dikucilkan karena kesukuan, keagamaan, atau kekarakteristikan lain. Bersama-sama, sebagai warga dari berbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk menyebarluaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia sesama ciptaan.
Dengan tindakan mencintai , setiap manusia dipanggil hidup saling berbagi satu dengan yang lain. Tindakan mencintai berarti semua mau menghargai perbedaan dan saling berbagi. Mencintai selalu memberi bukan dari kelebihan, melainkan kekurangan. Cinta selalu tulus tanpa motif tersembunyi karena cinta mengatasi segala hal yang sifatnya identitas. Dia harus meningalkan unsur indentitas melekat dalam keakuan. Diharapkan umat Kristen dan muslim mengembalikan roh kebersamaan yang didasari cinta. Semangat ini untuk mendorong kerja sama demi kesejahteran bersama. ●
Tahun ini, umat muslim merayakan Idul Fitri pada 8 dan 9 Agustus. Dalam pesan yang dikeluarkan Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Paus mengatakan di awal masa kepausannya bahwa dia secara pribadi ingin mengirimkan pesan ini kepada umat muslim di seluruh dunia saat merayakan Idul Fitri. Dalam pesan tersebut, Paus mengangkat tema refleksi yang menjadi kepedulian bersama Islam dan Kristen: Meningkatkan Saling Menghormati melalui Pendidikan.
Rasa hormat adalah "proses" kebaikan bersama, maka Paus Fransiskus mengajak kaum muslim dan Kristen untuk menghormati setiap orang "pertama-tama hidupnya, integritas fisiknya, martabatnya dan hak-hak yang berasal dari martabat itu, reputasinya, hartanya, identitas etnis dan budayanya, ide-idenya, dan pilihan politiknya. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk berpikir, berbicara, dan menulis dengan penuh hormat tentang orang lain, tidak hanya di hadapannya, tapi selalu dan di mana-mana, menghindari kritik atau pencemaran nama baik yang tidak adil. Keluarga, sekolah, ajaran agama dan semua bentuk media memiliki peran untuk mencapai tujuan ini."
Bila terjadi kekhawatiran hubungan antaragama, "terutama di antara Kristen dan Islam," kata Paus, "kita dipanggil untuk menghormati agama lain, ajaran-ajarannya, simbol-simbolnya, nilai-nilainya, terutama menghormati para pemimpin agama dan tempat ibadah. Betapa menyakitkan serangan terhadap mereka!"
Terkait pendidikan terhadap orang muda, baik muslim maupun Kristen, Paus mengatakan, "Kita harus mendidik orang-orang muda untuk berpikir dan berbicara dengan menghormati agama-agama lain dan para pengikut mereka, menghindari ejekan atau merendahkan keyakinan dan praktik keyakinan mereka." Dia mengulangi "betapa pentingnya dialog dan kerja sama antarumat beragama, khususnya Kristen dan muslim."
Ia menyatakan harapannya bahwa masyarakat kedua agama "bisa menjadi promotor sejati saling menghormati dan membangun persahabatan, khususnya melalui pendidikan. Pendidikan sangat penting bagi generasi muda agar bisa saling menghormati dan menghargai perbedaan. Pendidikan akan membuka wawasan manusia saling belajar dan menerima perbedaan.
Kaum Muda
Paus mengatakan bahwa pesan ini harus diterapkan semua orang dengan menghargai kehidupan, martabat dan hak-hak setiap manusia. "Terkait pendidikan pemuda muslim dan Kristen, kita harus bisa membuat mereka untuk berpikir dan berbicara dengan penuh hormat soal agama lain dan para pengikutnya, dan menghindari dari mengejek atau merendahkan keyakinan dan ibadah pemeluk agama lain," demikian tegas Paus.
Keberagamaan kita di Nusantara ini meniscayakan perbedaan. Namun, sering kali perbedaan dijadikan alasan untuk melegalkan kekerasan atas nama agama. Itu terjadi karena klaim kebenaran yang lebih ditonjolkan daripada mencari persamaan untuk membangun kekuatan. Idul Fitri merupakan momentum yang baik untuk meneguhkan semangat keberagamaan dalam keberagaman. Karena itu, mendidik kaum muda muslim dan Kristen dalam menciptakan perdamaian dan keadilan merupakan agenda mendesak.
Adanya banyak sebab kekerasan di antara para pemeluk agama, misalnya, manipulasi agama untuk tujuan politis atau lainnya; diskriminasi atas dasar etnisitas atau identitas religius; perpecahan dan ketegangan sosial. Ketidaktahuan, kemiskinan, tertinggal dalam perkembangan juga merupakan sumber langsung atau tidak untuk kekerasan dalam komunitas-komunitas religius, juga merupakan sebab lainnya.
Disadari bahwa semangat perayaan Idul Fitri bagi kaum muslim untuk kembali pada kesucian. Momentum ini jelas sangat tepat untuk membangun tali persaudaraan antarwarga. Dengan kembali pada kefitrian, tali persaudaraan akan mudah diwujudkan sebab manusia akan lahir kembali dalam keadaan suci. Pendidikan toleransi bagi kaum muda Kristiani dan muslim bersama-sama mengatasi kekerasan antarpemeluk agama yang dewasa ini merupakan masalah begitu hangat.
Persaudaraan sejati akan melahirkan ikatan solidaritas antarwarga di tengah gejolak dunia yang dipenuhi dengan ketegangan. Ketegangan ini kita sadari dipicu oleh tata dunia yang tidak adil yang potensial melahirkan perlawanan. Bentuk perlawanan itu salah satunya ketika orang bertindak di luar batas-batas kemanusiaan. Wajah dunia tidak lagi damai, tapi penuh kecurigaan.
Pesan Vatikan tahun ini berkaitan erat dengan sebelum-sebelumnya untuk memperkuat persaudaraan guna mengatasi masalah kemanusiaan yang semakin tipis. Semuanya bertujuan agar umat Kristen dan muslim terus memperkuat hubungan persaudaraan agar lebih mudah memperjuangkan tata dunia yang adil dan damai.
Ini sejalan dengan komitmen Gereja dalam rangka membangun hubungan-hubungan baik di kalangan umat dari berbagai agama, meningkatkan dialog budaya, dan bekerja sama demi keadilan yang lebih besar dan perdamaian abadi. Pesan tradisional ini memang hanyalah sebuah kata, namun disampaikan dari hati yang sangat tulus. Sebagai umat beragama yang beriman, adalah kewajiban semuanya dalam menjadi pioner menjaga perdamaian, hak asasi manusia dan kebebasan yang menghargai setiap pribadi, sekaligus menjamin semakin kuatnya ikatan-ikatan sosial.
Setiap orang harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi. Dalam masyarakat kenegaraan, tidak seorang pun boleh dikucilkan karena kesukuan, keagamaan, atau kekarakteristikan lain. Bersama-sama, sebagai warga dari berbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk menyebarluaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia sesama ciptaan.
Dengan tindakan mencintai , setiap manusia dipanggil hidup saling berbagi satu dengan yang lain. Tindakan mencintai berarti semua mau menghargai perbedaan dan saling berbagi. Mencintai selalu memberi bukan dari kelebihan, melainkan kekurangan. Cinta selalu tulus tanpa motif tersembunyi karena cinta mengatasi segala hal yang sifatnya identitas. Dia harus meningalkan unsur indentitas melekat dalam keakuan. Diharapkan umat Kristen dan muslim mengembalikan roh kebersamaan yang didasari cinta. Semangat ini untuk mendorong kerja sama demi kesejahteran bersama. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar