|
Saat arus balik Lebaran, urbanisasi kerap menjadi momok
bagi Jakarta, yang tak kuat lagi menampung tambahan penduduk (overpopulated). Jakarta, yang merupakan
episentrum kemajuan pembangunan negeri ini, selalu diserbu para pendatang baru
yang kepincut oleh gemerlap Ibu Kota.
Labor Institute Indonesia memperkirakan jumlah pencari
kerja yang menyerbu Jakarta pasca-Lebaran tahun ini bakal mencapai 1 juta orang
(Koran Tempo, 12 Agustus 2013). Celakanya, sebagian besar dari mereka adalah
tenaga kerja tanpa keahlian (unskilled
worker).
Biasanya, para pendatang baru ini datang ke Jakarta karena
ajakan atau pengaruh cerita "sukses" yang dikisahkan oleh
kawan/kerabat saat mudik yang lebih dulu mengadu nasib di Ibu Kota. Dalam
literatur kependudukan, fenomena seperti ini disebut migrasi berantai (chain migration).
Sayangnya, selama ini sebagian besar pelaku urbanisasi
(migrasi berantai) yang menyerbu Jakarta saat arus balik Lebaran sejatinya tak
diinginkan oleh pasar tenaga kerja di Jakarta. Pasalnya, mereka minim keahlian
dan berpendidikan rendah. Jakarta, yang perekonomiannya digerakkan oleh
kegiatan industri dan jasa, tentu saja tak membutuhkan mereka.
Alhasil, migrasi berantai ke Jakarta selalu berujung pada
kian runyamnya berbagai persoalan sosial, seperti meningkatnya kemiskinan kota
dan kekumuhan, membengkaknya jumlah pekerja di sektor informal, tingkat
pengangguran, dan kriminalitas, serta berbagai persoalan sosial lainnya.
Sisi positif
Sebetulnya, makna urbanisasi yang tepat adalah bertambahnya
proporsi atau jumlah penduduk yang mendiami daerah perkotaan (urban).
Pertambahan ini tak melulu disebabkan oleh berpindahnya penduduk dari desa ke
kota, tapi bisa juga oleh perluasan daerah perkotaan: daerah yang semula
pedesaan berkembang menjadi daerah perkotaan.
Pengelompokan daerah perkotaan atau pedesaan didasarkan
pada konsep dan definisi yang jelas dan terukur. Pengelompokan menggunakan
sebuah indeks yang dihitung berdasarkan variabel-variabel terukur: kepadatan
penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan akses terhadap fasilitas
umum.
Diketahui, saat ini Indonesia merupakan salah satu negara
dengan laju urbanisasi tercepat di Asia. Pada 2011, proporsi penduduk daerah
perkotaan di negeri ini mencapai 51 persen. Dan pada 2025 diperkirakan bakal
mencapai 68 persen (Indonesia Economic
Quarterly, Juli 2013).
Pada dasarnya, tingginya tingkat urbanisasi merupakan hal
positif dan acap kali dihubungkan dengan perbaikan kesejahteraan dan kualitas
pelayanan yang dirasakan masyarakat. Urbanisasi yang disebabkan oleh ekspansi
daerah perkotaan, misalnya, merupakan indikator kemajuan pembangunan. Bukti
bahwa perekonomian terus bertumbuh dan bertransformasi dari sektor
pertanian-pedesaan ke sektor perkotaan (industri dan jasa).
Urbanisasi jenis ini juga merupakan solusi bagi Jakarta
yang kerap dipusingkan oleh kehadiran para pendatang baru pasca-Lebaran.
Seperti yang dikatakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, "gula"
seharusnya tak hanya menumpuk di Jakarta, tapi harus disebar ke seantero
negeri. Dengan kata lain, pusat pertumbuhan, kemakmuran, dan kesejahteraan
galibnya bukan hanya di Jakarta, tapi juga di kota-kota lain. Diketahui, saat
ini sekitar 20 persen produk domestik bruto (PDB) nasional tercipta di Jakarta
(McKinsey Global Institute, 2012).
Urbanisasi juga berpotensi mereduksi kemiskinan. Secara
faktual, tingkat kemiskinan di daerah perkotaan selalu lebih rendah bila
dibandingkan dengan di daerah pedesaan. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik
pada awal Juli lalu menyebutkan Diketahui, saat ini Indonesia merupakan salah
satu negara dengan laju urbanisasi tercepat di Asia. Pada 2011, proporsi
penduduk daerah perkotaan di negeri ini mencapai 51 persen. Dan pada 2025
diperkirakan bakal mencapai 68 persen (Indonesia
Economic Quarterly , Juli 2013). Pada dasarnya, tingginya tingkat
urbanisasi merupakan hal positif dan acap kali dihubungkan dengan perbaikan
kesejahteraan dan kualitas pelayanan yang dirasakan masyarakat. Urbanisasi yang
disebabkan oleh ekspansi daerah perkotaan, misalnya, merupakan indikator
kemajuan pembangunan. Bukti bahwa perekonomian terus bertumbuh dan
bertransformasi dari sektor pertanian-pedesaan ke sektor perkotaan (industri
dan jasa). Urbanisasi jenis ini juga merupakan solusi bagi Jakarta yang kerap
dipusingkan oleh kehadiran para pendatang baru pasca-Lebaran. Seperti yang
dikatakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, "gula" seharusnya tak
hanya menumpuk di Jakarta, tapi harus disebar ke seantero negeri. Dengan kata
lain, pusat pertumbuhan, kemakmuran, dan kesejahteraan galibnya bukan hanya di
Jakarta, tapi juga di kota-kota lain. Diketahui, saat ini sekitar 20 persen
produk domestik bruto (PDB) nasional tercipta di Jakarta (McKinsey Global
Institute, 2012). Urbanisasi juga berpotensi mereduksi kemiskinan. Secara
faktual, tingkat kemiskinan di daerah perkotaan selalu lebih rendah bila
dibandingkan dengan di daerah pedesaan. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik
pada awal Juli lalu menyebutkan bahwa persentase penduduk miskin di daerah
perkotaan pada Maret 2013 sebesar 8,78 persen, jauh lebih rendah bila
dibandingkan dengan kemiskinan di daerah pedesaan yang mencapai 15,12
persen.
Dalam Global
Monitoring Report 2013 yang dirilis baru-baru ini, berjudul "Rural-Dynamics and The Millennium
Development Goals", Bank Dunia melaporkan bahwa dua dari sepuluh orang
yang berhasil keluar dari jerat kemiskinan di wilayah Asia Timur dan Pasifik
difasilitasi oleh proses urbanisasi. Sementara itu, nyaris 30 persen
peningkatan dalam pencapaian tujuan Millennium
Development Goals (MDGs) terkait dengan sanitasi merupakan resultante dari
proses urbanisasi, baik berupa migrasi penduduk dari daerah pedesaan ke daerah
perkotaan maupun ekspansi daerah perkotaan.
Membangun desa
Pada dasarnya, urbanisasi yang disebabkan oleh migrasi
penduduk dari desa ke kota merupakan proses alamiah yang tak bisa dihindari,
dan bakal terus berlangsung selama ketimpangan pembangunan antara daerah
perkotaan dan pedesaan terus menganga. Karena itu, membatasi akses penduduk
untuk bermigrasi ke kota seperti operasi yustisia yang kerap dilakukan
pasca-Lebaran sebetulnya bukanlah langkah yang tepat, karena tak menyentuh akar
masalah yang sesungguhnya.
Sekali lagi, titik persoalannya adalah ketimpangan antara
daerah perkotaan dan daerah pedesaan yang sangat tinggi. Selama ini perkotaan
merupakan pusat kemakmuran dan kemajuan. Sedangkan pedesaan adalah lumbung
kemelaratan dan simbol keterbelakangan. Secara alamiah, setiap orang tentu
bakal mendekati pusatpusat kemakmuran dan kemajuan untuk merengkuh kehidupan
yang lebih baik. Dalam soal ini, berlaku ungkapan "ada gula, ada
semut".
Karena urbanisasi merupakan proses alamiah yang tak bisa
dilawan, solusinya adalah meredam hasrat penduduk pedesaan untuk merantau ke
kota melalui penyediaan lapangan pekerjaan yang baik di daerah pedesaan dan
membekali mereka dengan aset modal manusia yang dapat meningkatkan peluang
untuk merengkuh kesuksesan jika harus mengadu nasib di kota. Dalam soal ini,
pembangunan daerah pedesaan adalah sebuah keharusan.
Penyediaan infrastruktur dasar, seperti jalan, listrik, dan
air bersih, di pedesaan sebaiknya menjadi fokus perhatian pemerintah. Begitu
pula dengan fasilitas kesehatan dan pendidikan yang berkualitas. Sulit rasanya
mengharapkan para pendatang dari desa memiliki kapabilitas yang mumpuni, jika
anak-anak di daerah pedesaan kenyataannya mengenyam pendidikan dengan kualitas
yang lebih buruk jika dibandingkan dengan anak-anak di daerah perkotaan.
Produktivitas sektor pertanian yang merupakan corak utama
dan motor penggerak pertumbuhan ekonomi pedesaan juga harus dipacu. Hasil
penelitian penulis pada 2010 menunjukkan, setiap 1 persen pertumbuhan di sektor
pertanian-pedesaan akan menginduksi pertumbuhan di sektor
non-pertanian-pedesaan sebesar 1,3 persen.
Selain itu, akses bagi produk pertanian pedesaan ke pasar
perkotaan harus dibuka seluas-luasnya. Dalam hal itu, diversifikasi kegiatan
ekonomi di daerah pedesaan juga harus ditingkatkan. Kegiatan ekonomi
non-pertanian yang memiliki tautan (linkage)
kuat dengan kegiatan pertanian harus dikembangkan, sehingga penduduk pedesaan
tak hanya bergantung pada ekonomi usaha tani.
Secara psikologis, jika desa telah menjadi tempat tinggal
yang nyaman, serta kemakmuran dan kemajuan bisa didapatkan di sana, untuk apa
berletih dan jauh-jauh merantau ke kota, meninggalkan keluarga dan kampung
halaman. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar