|
Kepada siapa kita berharap masa
depan kerukunan beragama ditegakkan? Kepada kaum muda-lah jawabannya. Kepada mereka
tugas berat ini disemaikan, sebab mereka merupakan pintu gerbang kedamaian dan
kerukunan kehidupan beragama.
Apabila tahun
lalu pesan Idul Fitri dari Vatikan mengajak untuk mendidik kaum muda dalam
rangka mendorong keadilan dan perdamaian, tahun ini kembali kita diingatkan
bahwa toleransi beragama haruslah ditekankan dalam pendidikan para pemuda.
Paus
Fransiskus dalam pesan Idul Fitri-nya menyerukan toleransi dan rasa saling
menghargai antarumat beragama. Dalam pesan ini tersirat bahwa intoleransi merupakan
awal mula lenyapnya perdamaian dan keadilan di Bumi. Dalam pesan ini jelas
bahwa sangat penting mendidik kaum muda untuk menyudahi semua bentuk kekerasan
dengan mendorong pendidikan toleransi.
Toleransi
perlu digerakkan dalam pendidikan. Pendidikan yang dialami oleh kaum muda tidak
boleh lepas dari muatan untuk menyemaikan semangat toleransi keagamaan. Pesan
ini menyiratkan suatu persaudaraan sejati dalam suasana perbedaan.
Keniscayaan
Paus
mengatakan bahwa pesan ini harus diterapkan semua orang dengan menghargai
kehidupan, martabat, dan hak-hak setiap manusia. ”Terkait pendidikan para
pemuda, kita harus bisa membuat mereka untuk berpikir dan berbicara dengan
penuh hormat soal agama lain dan para pengikutnya, dan menghindari dari
mengejek atau merendahkan keyakinan dan ibadah pemeluk agama lain,” demikian
tegas Paus.
Keberagamaan
kita di Nusantara meniscayakan perbedaan. Namun, perbedaan seringkali dijadikan
alasan untuk melegalkan kekerasan atas nama agama. Itu terjadi karena klaim
kebenaran yang lebih ditonjolkan daripada mencari persamaan untuk membangun
kekuatan.
Idul Fitri
merupakan momentum yang baik untuk meneguhkan semangat keberagamaan dalam
keberagaman. Oleh karena itu, mendidik kaum muda dalam menciptakan perdamaian
dan keadilan merupakan agenda mendesak.
Adanya banyak
sebab kekerasan di antara para pemeluk agama, misalnya manipulasi agama untuk
tujuan politis atau lainnya; diskriminasi atas dasar etnisitas atau identitas
religius; perpecahan dan ketegangan sosial. Ketidaktahuan, kemiskinan,
tertinggal dalam perkembangan juga merupakan sumber langsung atau tidak
langsung untuk kekerasan baik antara maupun dalam komunitas-komunitas religius,
menjadi faktor penyebab lainnya.
Semangat
perayaan Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian. Momentum ini jelas sangat
tepat digunakan untuk membangun tali persaudaraan antarwarga sebangsa. Dengan
kembali kepada kefitrian inilah maka tali persaudaraan akan mudah diwujudkan
sebab manusia akan lahir kembali dalam keadaan suci.
Pendidikan
toleransi bagi kaum muda akan menjadi landasan untuk bersama-sama mengatasi
kekerasan antara pemeluk pelbagai agama. Kekerasan antarpemeluk agama dewasa
ini merupakan masalah yang begitu hangat dibicarakan sebab faktanya hal itu
terjadi di berbagai belahan dunia.
Kita mesti
menyadari ini merupakan suatu masalah mendesak. Kekerasan antarpemeluk agama
terjadi akibat orang lebih banyak mengedepankan ketidaksepahaman, bukan
kesepahaman sebagai titik tolak untuk membangun persaudaraan sejati. Kekerasan
begitu mudah terjadi karena masalah-masalah sepele yang mengatasnamakan agama.
Kita merasakan
pentingnya meneguhkan kembali rasa persaudaraan itu karena ancaman dan
tantangan yang ada di hadapan kita —untuk mengoyak, memudarkan, dan
mencerabut—itu sangatlah besar, nyata, dan berbahaya. Tidak jarang hubungan
persaudaraan antarwarga sebangsa ini dirongrong oleh kepentingan politik,
ekonomi, egoisme, dan lainnya.
Persaudaraan sejati
Persaudaraan
sejati akan melahirkan ikatan solidaritas antarwarga di tengah gejolak dunia
yang dipenuhi oleh ketegangan. Ketegangan ini kita sadari dipicu oleh tata
dunia yang tidak adil yang potensial melahirkan perlawanan. Bentuk perlawanan
itu salah satunya adalah ketika orang melakukan tindakan di luar batas-batas
kemanusiaan. Wajah dunia tidak lagi damai, tetapi dipenuhi dengan prasangka.
Pesan Vatikan,
tahun ini, berkaitan erat dengan pesan-pesan sebelumnya, di mana intinya
bagaimana memperkuat persaudaraan untuk mengatasi masalah kemanusiaan yang
semakin menipis. Semuanya bertujuan supaya umat berbagai agama terus memperkuat
hubungan persaudaraan. Atas nama persaudaraan itu akan lebih mudah untuk
memperjuangkan tata dunia yang adil dan damai.
Hal ini sudah
sejalan dengan komitmen gereja dalam rangka membangun hubungan-hubungan baik di
kalangan umat dari berbagai agama, meningkatkan dialog budaya, dan bekerja sama
demi keadilan yang lebih besar dan perdamaian abadi.
Pesan
tradisional ini memang hanyalah sebuah kata-kata, tetapi disampaikan dari hati
yang sangat tulus. Sebagai umat beragama yang beriman, adalah kewajiban
semuanya dalam menjadi pionir untuk menjaga perdamaian, hak asasi manusia, dan
kebebasan yang menghargai setiap pribadi, sekaligus menjamin semakin kuatnya
ikatan-ikatan sosial.
Setiap orang
harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi. Dalam masyarakat
kenegaraan tidak seorang pun boleh dikucilkan oleh karena alasan kesukuan,
keagamaan, atau karena kekarakteristikan lain mana pun. Bersama-sama, sebagai
warga dari pelbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk
menyebarluaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia sesama ciptaan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar