Rabu, 07 Agustus 2013

Nilai Ekonomi Lebaran

Nilai Ekonomi Lebaran
Elfindri ;  Profesor Ekonomi SDM dan Koordinator Program S-3 Ilmu Ekonomi 
Universitas Andalas (Unand)
 
          KORAN SINDO, 06 Agustus 2013


Seperti roda berputar. Begitulah Lea Jellineck, seorang antropolog, mengisahkan hiruk-pikuknya kota metropolitan Jakarta. Namun, seminggu menjelang Lebaran orang per orang maupun keluarga berangsur-angsur meninggalkan kota ini. 

Kemudian mengunjungi sanak famili untuk melepas kerinduan, menikmati hari Lebaran bersama keluarga dan handai taulan. Masa Lebaran, masa hiruk-pikuk Jakarta kembali cooling down, agak sepi. Jalan-jalan yang biasa macet berubah sontak menjadi sepi, seolah-olah pada masa ini jalan-jalan mengatakan aku ingin istirahat. Fenomena bagaimana masyarakat Islam dari kota besar seperti Jakarta juga dialami oleh masyarakat kota-kota provinsi maupun kota kabupaten lain, dari satu daerah menuju daerah lain. 

Sehingga pada masa Lebaran, seminggu sebelum menjelang hari Lebaran merupakan fenomena migrasi kembali return migration terbesar dalam sejarah tahunan. Kemudian seminggu dari hari Lebaran dan setelah itu kembali bermigrasi ke daerah tujuan secara permanen. Baik untuk melanjutkan pekerjaan rutin, mencari pekerjaan, maupun berbagai kepentingan. Selama dua minggu masa Lebaran, daerah penyumbang migrasi yang tinggi biasanya dipadati oleh penduduk. Seolaholah kemacetan telah dipindah dari kota besar ke kota-kota kecil yang menjadi tujuan masyarakat untuk berlebaran. Banyak sisi ekonomi yang ditimbulkan dengan fenomena Lebaran seperti ini. 

Aktivitas Ekonomi 

Bagi pedagang pakaian, selama Ramadan sampai menjelang hari Lebaran merupakan masa dengan kegiatan jual beli pakaian tertinggi. Boleh dibilang pada masa sebulan itu dapat mengimbangi sepinya penjualan pada bulan-bulan biasa. Menjelang Lebaran, sektor perdagangan yang berkaitan erat dengan keperluan Lebaran penuh sesak. Pasar-pasar seolah tidak pernah berhenti bertransaksi untuk memenuhi segala keperluan selama hari Lebaran. 

Kegiatan rapat-rapat juga tidak ketinggalan dilakukan oleh departemen-departemen, bahkan kegiatan rapat juga semakin memuncak menjelang mendekati pekan ketiga bulan Ramadan. Honor-honor rapat mulai dibagi seolah-olah pekerjaan dapat berjalan dan kebutuhan untuk berlebaran dapat terpenuhi. Demikian juga kalau mulai tujuh hari menjelang Lebaran, jadwal segala jenis angkutan darat, laut, dan udara meningkat tajam. Selain frekuensi keberangkatan dari kota-kota ke daerah mulai naik, kenyataan demikian bahkan diikuti oleh kenaikan harga-harga tiket. 

Baik harga tiket resmi maupun harga tiket yang berlaku di pasar gelap mengalami kenaikan. Biasanya tidak banyak yang mempersoalkan, mengingat kerinduan untuk kembali ke kampung halaman dikalahkan oleh kenaikan harga tiket dan memilih jenis angkutan yang tidak selalu bisa memenuhi kenyamanan. Pada masa ini arus perpindahan uang, velocity of money, dari individu ke individu yang lain sangatlah cepat. Sehingga boleh disebut Lebaran adalah sebuah suasana di mana aktivitas ekonomi mengalami peningkatan. 

Di negara maju, upaya untuk meningkatkan aktivitas ekonomi biasanya dilakukan dengan membuat berbagai momen yang terjadi. Tidak saja hari besar keagamaan, namun juga hari-hari tematik bisa dijadikan sebagai momen untuk meningkatkan aktivitas ekonomi. Biasanya great sale mulai dibuat tema, ketika memasuki akhir tahun, awal tahun, summer season, Christmas, dan sebagainya. 

Situasi hari menjelang Lebaran aktivitas ekonomi menjadi seperti hari-hari tematik yang diciptakan oleh ekonomi di negara-negara maju. Tidak saja arus orang dan barang terjadi selama hari Lebaran, berbagai fenomena ekonomi lain juga terlihat. Arus pengiriman uang dan barang ke kampung halaman mengalami peningkatan, baik transaksi melalui transfer bank, maupun melalui pos, atau secara informal dititip ke sanak famili sehingga dapat dipastikan arus uang ke pedesaan memuncak. 

Apalagi arus informasi yang dulu disampaikan lewat kartu Lebaran, sehingga penjualan prangko naik dan merupakan pemasukan kantor pos yang signifikan. Namun, dengan arus informasi SMS, Facebook, Whatsapp, BlackBerry Messengger, dan berbagai komunikasi lain telah membuat penjualan pulsa telah pula membuat pangsa pasar informasi menjadi masif dan memuncak pada masa Lebaran. 

Konsekuensi 

Masa Lebaran juga merupakan masa di mana hubungan silaturahmi semakin intensif, baik hubungan kekeluargaan, pertemanan, maupun bentuk hubungan sosial lainnya. Selama itu pula akan terbentuk transfer of knowledge, baik yang positif maupun yang negatif. Lebaran bisa membuat transfer ilmu dan inovasi yang positif dari perantau dengan sanak keluarganya. 

Pembicaraan demi pembicaraan akan berbuah menjadi informasi. Bahkan dengan suasana itu bisa memicu terbentuknya jaringan baru, yaitu bagi mereka yang tinggal selama ini di kampung bisa ikut untuk menapak kehidupan baru di perkotaan lewat proses migrasi berantai, chain migration. Dalam kesempatan ini sebenarnya arus migrasi yang berlebaran di kampung halaman sebenarnya dapat dianggap sebagai sumber daya manusia temporer, yang kemudian dapat dioptimalkan keberadaannya untuk proses pembangunan di pedesaan. 

Mereka yang berlebaran ke kampung halaman dapat dianggap sebagai sekelompok modal manusia yang dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan kampung halaman. Ketika hal ini dapat disadari sebagai kekuatan modal baru, maka fungsi-fungsi mereka yang berlebaran ke kampung halaman tidak saja pada sebatas ritual dan sosial di kampung halaman, namun gagasan-gagasan untuk pengembangan pembangunan dapat diciptakan dan diambil momennya. Semoga manfaat dari masa Lebaran jauh melebihi kerugian yang ditimbulkan. 

Kerugian itu antara lain kecelakaan yang relatif memuncak juga, bahkan bukan tidak mungkin tingkat kejahatan dengan sedirinya juga akan meningkat, termasuk praktek kebiasaan yang buruk di perkotaan terjadi di pedesaan yang dibawa oleh orang kota. Semoga Lebaran membawa keberkahan. Setelah letih berlebaran, kemudian sebaiknya kita tidak larut dengan itu. Kerja dan bekerja keras untuk melanjutkan perjuangan hidup. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar