Rabu, 07 Agustus 2013

Menebar Berkah untuk Sesama

Menebar Berkah untuk Sesama
Haidar Bagir ;  Presiden Direktur Grup Mizan
          SINAR HARAPAN, 06 Agustus 2013

Suatu kali di siang hari bulan Ramadan, Nabi mengambil sebutir kurma dan memaksa seseorang memakannya. Orang itu terkejut dan menghindar sambil mengatakan dirinya sedang berpuasa. Nabi tetap memaksa sambil menyatakan: ”Tak ada gunanya puasamu jika kamu menyakiti tetanggamu.” Di kesempatan lain Nabi pun menyatakan bahwa puasa hanya akan melahirkan kesia-siaan jika pelakunya bersikap kasar kepada pembantunya.

Kisah-kisah kenabian di atas, dan banyak lagi lainnya, harus selalu mengingatkan kita untuk terus melakukan evaluasi terhadap ibadah puasa Ramadan. Apalagi, hari ini, tak terasa kita lagi-lagi telah berada di penghujung bulan suci ini.

Maka, kiranya ini waktu paling tepat untuk melakukan evaluasi: apakah puasa kita telah mencapai sasarannya, atau hanya penunaian kewajiban yang semata bersifat legal-formalistik dan kosong dari makna batin.

Evaluasi seperti ini kiranya harus mulai dari ajaran Tuhan sendiri tentang apa sejatinya tujuan ibadah puasa Ramadan. Dalam Alquran Tuhan berfirman:

“Puasa diwajibkan atas kalian, sebagaimana ia diwajibkan atas orang-orang sebelummu demi menanamkan ketakwaan.” (Alquran 2 : 183)

Pertanyaannya, apakah arti takwa? Banyak orang selama ini memahami kata takwa sebagai semata-mata berdimensi vertikal-ketuhanan; yakni kurang lebih identik dengan keimanan. Benarkah demikian? Mari kita renungkan salah satu ayat yang mengungkap ciri-ciri orang bertakwa:

"Bergegaslah kalian kepada ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya selangit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yakni orang-orang yang menafkahkan hartanya, di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan orang. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang menyempurnakan kualitas amal-amalnya.” (Alquran 4:133-136)

Dari ayat di atas, tampil dengan sangat jelas bahwa, di samping memiliki dimensi keimanan, takwa memiliki dimensi praksis-horizontal yang amat kuat. Dengan demikian, mudah sekali disimpulkan bahwa dimensi praksis-sosial ini juga adalah esensi ibadah puasa. Ya, ibadah puasa adalah suatu kewajiban yang amat kuat merupakan dimensi moral-sosial.

Tak dapat dipungkiri bahwa salah satu makna kata takwa adalah keimanan kepada Tuhan dan Hari Akhir, yaitu saat kebaikan diberi pahala dan keburukan diganjar hukuman. Di ayat-ayat pertama surat kedua Alquran, Tuhan berfirman:

“... Inilah Kitab yang tiada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang-orang yang bertakwa. Yakni orang-orang yang percaya pada hal-hal yang gaib (supraperseptual), menjalankan salat, memberikan infak (sedekah) yang diambil dari apa yang Kami kurniakan kepada mereka, percaya pada (kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kepada (Nabi-nabi) yang sebelum kalian, serta kepada Hari Akhir mereka memiliki keyakinan.” (Alquran 2 : 1-4)

Memang yang segera tampak dari ayat yang baru dikutip di atas adalah dimensi vertikal ketuhanan dari ketakwaan. Sedemikian sehingga takwa bisa diartikan sebagai kesadaran ketuhanan: kesadaran/keyakinan bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi manusia.

Meskipun demikian, kesadaran seperti ini tak bermakna apa-apa jika tak melahirkan dorongan untuk hidup dan berbuat sesuai ajaran-Nya. Bahkan, dalam ayat di atas, ciri semangat bersedekah segera ditegaskan Tuhan setelah ciri keimanan kepada yang gaib dan menjalankan salat – yang notabene adalah sarana memelihara hubungan spiritual dengan Tuhan.

Apalagi jika kita kembali ke ayat yang dikutip di awal-awal tulisan ini. Ayat tersebut meringkaskan empat ciri berdimensi sosial dari ketakwaan. Pertama, kedermawanan di segala situasi dan kondisi. Kedua,kemampuan menahan marah. Ketiga, kesediaan untuk memaafkan kesalahan orang kepada kita. Keempat, dorongan terus-menerus untuk menyempurnakan amal-amal baik.

Maka, jika kita kembali kepada tujuan puncak ibadah puasa, keberhasilan ibadah puasa sepenuhnya ditentukan oleh keberhasilan pelakunya dalam menanamkan ciri-ciri orang bertakwa tersebut. Bukan hanya ciri yang bersifat vertikal-ketuhanan, melainkan yang praksis sosial. Bahkan, sesungguhnya, kita bisa katakan bahwa di atas segalanya, puasa adalah ibadah sosial, yang bertujuan untuk mengembangkan budi pekerti luhur dan kepedulian sosial yang tinggi kepada sesama.

Nah, mau tahu apakah puasa kita sukses atau tidak? Mari sama-sama kita lihat perilaku kita setelah lewatnya bulan suci ini. Jika kita dapati diri kita meningkat dalam hal budi pekerti dan kepedulian sosial maka kita boleh berbahagia bahwa susah payah kita dalam berpuasa sebulan penuh telah membawa hasil sesuai dengan tujuan diwajibkannya ibadah ini.

Jika belum, mari kita berdoa pada-Nya agar kita diberi umur panjang demi dapat menemui bulan Ramadan lagi di tahun depan, dan dikaruniai kemampuan menjalankannya dengan sebaik-baiknya agar jadilah kita orang-orang yang berhasil dalam ibadah puasa kita.

Marilah, belajar dari Nabi, kita berdoa:
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau berketetapan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati bukan yang puasa hampa (makna).”


Selamat Hari Raya Fitri. Mudah-mudahan, perayaan tahun ini menandai kembalinya kita kepada kebaikan primordial kemanusiaan kita dan meningkatnya kemampuan kita dalam memberikan berkah kepada penghuni alam, seluruhnya. Amin. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar