|
Suatu kali di siang hari
bulan Ramadan, Nabi mengambil sebutir kurma dan memaksa seseorang memakannya.
Orang itu terkejut dan menghindar sambil mengatakan dirinya sedang berpuasa.
Nabi tetap memaksa sambil menyatakan: ”Tak ada gunanya puasamu jika kamu menyakiti
tetanggamu.” Di kesempatan lain Nabi pun menyatakan bahwa puasa hanya akan
melahirkan kesia-siaan jika pelakunya bersikap kasar kepada pembantunya.
Kisah-kisah kenabian di
atas, dan banyak lagi lainnya, harus selalu mengingatkan kita untuk terus melakukan
evaluasi terhadap ibadah puasa Ramadan. Apalagi, hari ini, tak terasa kita
lagi-lagi telah berada di penghujung bulan suci ini.
Maka, kiranya ini waktu
paling tepat untuk melakukan evaluasi: apakah puasa kita telah mencapai
sasarannya, atau hanya penunaian kewajiban yang semata bersifat
legal-formalistik dan kosong dari makna batin.
Evaluasi seperti ini kiranya
harus mulai dari ajaran Tuhan sendiri tentang apa sejatinya tujuan ibadah puasa
Ramadan. Dalam Alquran Tuhan berfirman:
“Puasa diwajibkan atas
kalian, sebagaimana ia diwajibkan atas orang-orang sebelummu demi menanamkan
ketakwaan.” (Alquran 2 : 183)
Pertanyaannya, apakah arti
takwa? Banyak orang selama ini memahami kata takwa sebagai semata-mata
berdimensi vertikal-ketuhanan; yakni kurang lebih identik dengan keimanan.
Benarkah demikian? Mari kita renungkan salah satu ayat yang mengungkap
ciri-ciri orang bertakwa:
"Bergegaslah kalian
kepada ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya selangit dan bumi, yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yakni orang-orang yang
menafkahkan hartanya, di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang
menahan amarahnya serta memaafkan orang. Sungguh Allah mencintai orang-orang
yang menyempurnakan kualitas amal-amalnya.” (Alquran 4:133-136)
Dari ayat di atas, tampil
dengan sangat jelas bahwa, di samping memiliki dimensi keimanan, takwa
memiliki dimensi praksis-horizontal yang amat kuat. Dengan demikian, mudah
sekali disimpulkan bahwa dimensi praksis-sosial ini juga adalah esensi ibadah
puasa. Ya, ibadah puasa adalah suatu kewajiban yang amat kuat merupakan dimensi
moral-sosial.
Tak dapat dipungkiri bahwa
salah satu makna kata takwa adalah keimanan kepada Tuhan dan Hari Akhir, yaitu
saat kebaikan diberi pahala dan keburukan diganjar hukuman. Di ayat-ayat
pertama surat kedua Alquran, Tuhan berfirman:
“... Inilah Kitab yang tiada
keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang-orang yang bertakwa. Yakni
orang-orang yang percaya pada hal-hal yang gaib (supraperseptual), menjalankan
salat, memberikan infak (sedekah) yang diambil dari apa yang Kami kurniakan
kepada mereka, percaya pada (kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan
kepada (Nabi-nabi) yang sebelum kalian, serta kepada Hari Akhir mereka memiliki
keyakinan.” (Alquran 2 : 1-4)
Memang yang segera tampak
dari ayat yang baru dikutip di atas adalah dimensi vertikal ketuhanan dari
ketakwaan. Sedemikian sehingga takwa bisa diartikan sebagai kesadaran
ketuhanan: kesadaran/keyakinan bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi manusia.
Meskipun demikian, kesadaran
seperti ini tak bermakna apa-apa jika tak melahirkan dorongan untuk hidup dan
berbuat sesuai ajaran-Nya. Bahkan, dalam ayat di atas, ciri semangat bersedekah
segera ditegaskan Tuhan setelah ciri keimanan kepada yang gaib dan menjalankan
salat – yang notabene adalah sarana memelihara hubungan spiritual
dengan Tuhan.
Apalagi jika kita kembali ke
ayat yang dikutip di awal-awal tulisan ini. Ayat tersebut meringkaskan empat ciri
berdimensi sosial dari ketakwaan. Pertama, kedermawanan di segala situasi dan
kondisi. Kedua,kemampuan menahan marah. Ketiga, kesediaan untuk memaafkan
kesalahan orang kepada kita. Keempat, dorongan terus-menerus untuk
menyempurnakan amal-amal baik.
Maka, jika kita kembali
kepada tujuan puncak ibadah puasa, keberhasilan ibadah puasa sepenuhnya
ditentukan oleh keberhasilan pelakunya dalam menanamkan ciri-ciri orang
bertakwa tersebut. Bukan hanya ciri yang bersifat vertikal-ketuhanan, melainkan
yang praksis sosial. Bahkan, sesungguhnya, kita bisa katakan bahwa di atas
segalanya, puasa adalah ibadah sosial, yang bertujuan untuk mengembangkan budi
pekerti luhur dan kepedulian sosial yang tinggi kepada sesama.
Nah, mau tahu apakah puasa
kita sukses atau tidak? Mari sama-sama kita lihat perilaku kita setelah
lewatnya bulan suci ini. Jika kita dapati diri kita meningkat dalam hal budi
pekerti dan kepedulian sosial maka kita boleh berbahagia bahwa susah payah kita
dalam berpuasa sebulan penuh telah membawa hasil sesuai dengan tujuan
diwajibkannya ibadah ini.
Jika belum, mari kita berdoa
pada-Nya agar kita diberi umur panjang demi dapat menemui bulan Ramadan lagi di
tahun depan, dan dikaruniai kemampuan menjalankannya dengan sebaik-baiknya agar
jadilah kita orang-orang yang berhasil dalam ibadah puasa kita.
Marilah, belajar dari Nabi,
kita berdoa:
“Ya Allah, janganlah Engkau
jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau
berketetapan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang
dirahmati bukan yang puasa hampa (makna).”
Selamat Hari Raya Fitri. Mudah-mudahan, perayaan tahun ini menandai
kembalinya kita kepada kebaikan primordial kemanusiaan kita dan meningkatnya
kemampuan kita dalam memberikan berkah kepada penghuni alam, seluruhnya. Amin. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar