|
Bulan puasa tahun ini, sebagaimana
terjadi pada tahun-tahun sebelumnya di masa Reformasi, telah dinodai aksi-aksi
kekerasan yang memaksa orang lain agar ”menghormati bulan puasa” atau
”menghormati orang yang sedang berpuasa”.
Aksi-aksi kekerasan atas nama amar makruf nahi mungkar itu sebenarnya bertentangan dengan tujuan
puasa itu sendiri. Sebab, esensi berpuasa itu adalah latihan mengendalikan
diri. Para ulama mengatakan bahwa nahi mungkar yang arti harfiahnya adalah
mencegah keburukan harus dilakukan juga secara makruf, artinya dengan cara yang
benar dan baik pula. Arti implisitnya: mencegah keburukan perlu dilakukan
dengan berbuat kebaikan sehingga dapat dilakukan secara damai, tanpa
menimbulkan kerusakan dan kerugian. Sementara itu, dalam penafsiran Kuntowijoyo,
amar makruf adalah humanisasi, sedangkan nahi mungkar adalah liberasi atau
pembebasan.
Memanusiakan manusia
Dalam perspektif Kuntowijoyo, humanisasi adalah proses
memanusiakan manusia dan membudayakan lingkungan hidup manusia, atau dalam
bahasa Al Quran ”memuliakan manusia”, dengan menciptakan kesejahteraan hidup,
yang secara kolektif disebut ”masyarakat mulia’ oleh Dr Soetomo ketika
merumuskan visi ”Persatuan Bangsa Indonesia”. Kemiskinan dan penindasan
umpamanya menyebabkan dehumanisasi. Sementara nahi mungkar—yang diartikan
sebagai liberasi atau pembebasan—adalah pembebasan dari sejumlah belenggu yang
menghalangi manusia mengaktualisasikan diri dan meraih kesejahteraan atas
pilihan dirinya.
Dalam teori tasawuf, liberasi dilakukan dengan membebaskan
diri dari syirik (mempersekutukan tiran dengan Tuhan atau memperlakukan tiran
sebagai Tuhan), kultus individu, mitos, takhayul, dan taklid buta. Dengan
humanisasi dan liberasi itu, menurut Kuntowijoyo, orang akan mengalami
transendensi, yaitu memperoleh kekuatan spiritualitas yang lebih tinggi dalam
menjalankan misi kekhalifahannya di bumi.
Pemikiran Amartya Kumar Sen—ekonom dan filsuf sosial India
kontemporer—mengenai ”pembangunan sebagai kebebasan” bisa menjelaskan kaitan
antara humanisasi dan liberasi atau makna amar makruf nahi mungkar. Menurut
pendapatnya, ada dua macam arti kebebasan atau kemerdekaan. Pertama, kebebasan
sebagai peluang. Kedua, kebebasan sebagai kemampuan manusia untuk
mengaktualisasi diri. Yang pertama adalah kondisi yang merupakan lingkungan
bebas. Yang kedua adalah kemampuan pelaku, yaitu manusia untuk memilih jalan
hidup yang dianggap baik. Pengertian pertama dapat dicapai melalui proses
humanisasi, pengertian kedua disebut liberasi. Proses liberasi itu dapat
dilakukan dengan membangun kapabilitas manusia mencapai yang dianggap baik bagi
hidupnya.
Bulan puasa dapat diartikan sebagai kondisi di mana manusia
memperoleh kesempatan untuk membentuk kepribadian takwa, dengan melakukan
latihan fisik dan mental melalui jalan pengendalian diri. Dengan latihan
pengendalian diri itu, manusia melakukan pembebasan diri dari belenggu materi
yang bisa membelokkan manusia dari jalan hidup yang lurus (sirath al mustaqim)
atau mengikuti kecenderungan baiknya. Dengan pembebasan diri itu, manusia memiliki
kemampuan meningkatkan kapabilitasnya untuk melakukan aktualisasi diri, atau
mengembangkan potensinya, dengan mengembangkan diri dan membangun lingkungan
hidupnya.
Idul Fitri adalah hari manusia kembali kepada fitrahnya.
Artinya, hari kemenangan manusia dalam menaklukkan dirinya sendiri dalam proses
liberasi atau pembebasan diri dari belenggu materi. Dalam ilmu tasawuf, perang
melawan dirinya sendiri atau hawa nafsunya adalah suatu ”jihad akbar”,
perjuangan besar, karena tidak mudah dilakukan. Namun, dengan melakukan puasa
secara bersama-sama itu, kondisi kebebasan sebagai peluang tersebut dapat
diciptakan, yang mempermudah perjuangan besar itu.
Pada Idul Fitri, manusia merayakan hari kemenangannya. Namun,
perayaan itu sebenarnya hanya menjadi hak orang yang menang dalam perjuangan.
Namun, pada umumnya, perayaan itu dilakukan semua orang yang telah menunaikan
ibadah puasa. Karena itu, menjelang berakhirnya bulan puasa, seseorang atau
kolektivitas orang yang berpuasa terlebih dahulu perlu menyusun ”laporan akhir”
sebagai general check-up kesehatan
dan tingkat perkembangan jiwa—berupa ”keseimbangan” aktiva dan pasiva—sebagai
evaluasi apa seseorang atau umat berhak merayakan kemenangan itu.
Fitrah artinya kondisi asli atau awal kejadian atau
penciptaan manusia, yang melalui puasa dicapai melalui proses purifikasi. Dalam
Al Quran dikatakan: manusia akan merugi dalam hidupnya jika tak mampu
menegakkan iman amal saleh atau amar makruf nahi mungkar. Apabila manusia
sebagai makhluk unggul itu ditandai dengan kemampuan akal dan kalbunya, kembali
kepada fitrahnya berarti manusia kembali kepada potensinya yang asli. Karena
itu, hasil dari berpuasa sebenarnya pencerahan yang berarti juga kebebasan
dalam arti keluasan kapabilitas, dalam pengertian Sen, yaitu kemampuan dalam
arti memiliki potensi untuk memilih jalan hidup yang diimaninya.
Dalam Al Quran dikatakan, amar makruf nahi mungkar itu adalah
kewajiban seluruh umat. Dalam bulan puasa dianjurkan agar orang
memperbanyak beramal saleh antara lain membayar zakat dan sedekah kepada
orang miskin. Zakat dan sedekah, dalam konteks kemenangan itu, adalah
instrumen untuk melakukan humanisasi dan liberasi.
Liberasi terjadi pada pembayar zakat, sedangkan humanisasi
terjadi pada orang yang menerima. Namun, pembayaran zakat dan sedekah bukan
hanya merupakan hubungan pribadi, melainkan juga hubungan kolektif atas dasar
prinsip keadilan sosial.
Kebangkitan kemanusiaan
Jadi, bulan puasa hanya tahap latihan yang merupakan peluang
untuk meningkatkan kapabilitas, dan dalam perspektif pencerahan, meningkatkan
kecerdasan intelektual atau rasional (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan
kecerdasan spiritual (SQ). Ini yang disebut Kuntowijoyo sebagai transendensi
atau peningkatan kualitas keimanan.
Namun, kemenangan harus dibuktikan dengan mewujudkan proses
humanisasi, liberasi, dan transendensi sesudah bulan puasa yang merupakan
kewajiban kolektif umat atau negara dan masyarakat. Dengan demikian, puasa
adalah tahap pencerahan yang akan menghasilkan renaisans sesudahnya. Oleh
karena itu, Idul Fitri harus dimaknai sebagai titik tolak baru kebangkitan
kemanusiaan.
Di Indonesia, Idul Fitri dirayakan juga dengan acara
halalbihalal, yang diterjemahkan sebagai tindakan saling memaafkan. Namun, halalbihalal, yang merupakan inovasi
lokal tersebut, sebenarnya adalah hari silaturahim. Itu berarti membangun
kembali tali persaudaraan yang dilakukan secara serentak sehingga
membentuk mutual trust atau
modal sosial. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar