|
Mudik
adalah sebuah ritual yang memiliki dimensi budaya (kultural), religius, dan
ekonomi. Secara kultural, mudik sudah dikenal ribuan tahun lalu sebelum zaman
Majapahit. Secara historis kegiatan ini dikenal pada masyarakat petani Jawa.
Awalnya
kegiatan mudik ini bertujuan untuk menengok dan membersih kan makam leluhur
dengan memanjatkan doa kepada para dewa. Seiring dengan masuknya pengaruh
Islam, kegiatan mudik seperti itu mulai luntur dan muncul kembali dengan
memanfaatkan momentum Idul Fitri. Dengan demikian kegiatan mudik juga salah satu
kegiatan khas, sekaligus suatu bentuk kearifan lokal bangsa kita. Mudik juga
memiliki dimensi ritual keagamaan (religius) yakni silaturahim. Suatu
bentuk ibadah agama yang dianjurkan. Dalam hari raya Idul Fitri, selalu diiringi
dengan silaturahim dan saling berbagai makanan.
Selain
dimensi kultural dan ritual, juga ada dimensi ekonomi. Hal ini bisa dilihat
dari pergerakan manusia dan sumber daya ekonomi yang demikian besar, sehingga
memiliki multiplier effect ekonomi
yang juga besar. Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik pada Idul
Fitri 2013 akan bertambah. Secara umum, kenaikan diprediksi mencapai 4,46
persen atau akan mencapai 18 juta orang. Kenaikan jumlah penumpang tertinggi
diprediksi akan terjadi pada angkutan udara, yaitu sebesar 11,7 persen. Jika
pada mudik 2012 jumlah penumpang angkutan udara sebanyak 3,36 juta orang, maka
pada 2013 diprediksi mencapai 3,75 juta orang.
Menurut
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhai min Iskandar,
transaksi pengiriman uang dari luar negeri ke Indonesia (remitansi) oleh tenaga
kerja Indonesia (TKI) ditaksir mencapai Rp 15 triliun, selama Rama dhan dan
Idul Fitri 2013. Remitansi TKI di luar negeri sudah cukup tinggi pada hari-hari
biasa. Namun, jumlah nya meningkat tajam setiap Ramadhan dan Lebaran.
Kegagalan pembangunan
Selain
faktor budaya, kegiatan mudik juga didorong oleh faktor ekonomi yakni
pembangunan nasional (terutama ekonomi) yang berpusat di Ibu Kota Jakarta.
Strategi pembangunan nasional hanya menciptakan pusat pertumbuhan dan kegiatan
ekonomi yang tersentralisasi di Jakarta dan sekitarnya. Pertumbuhan usaha
seperti pabrik dan perputaran uang hanya melimpah di Jakarta.
Sementara
di daerah, sulit mencari lapangan kerja dan miskin pembangunan. Akibatnya,
terjadi arus urbanisasi ke Jakarta dalam jumlah besar. Tatkala terjadi libur
panjang saat Idul Fitri, mudik menjadi kegiatan yang luar biasa besar.
Inilah sesungguhnya wajah asli mudik yang kolosal tersebut. Ini adalah wajah
kegagalan kita dalam menciptakan pembangunan yang berkeadilan, antara Jawa dan
Luar Jawa dan antara desa dan kota. Mudik menyimpan wajah kegagalan kita dalam
menciptakan lapangan pekerjaan yang merata di seluruh Tanah Air sekaligus wujud
kegagalan kita mewujudkan pemerataan dan keadilan sosial.
Meskipun
kegiatan mudik tidak mengenal strata dan status sosial, tetapi rakyat kecil
tetap menjadi bagian yang terlunta-lunta dalam menikmati mudik Lebaran. Warga
kelas menengah ke atas bisa menikmati mudik dengan lebih baik.
Tapi rakyat kecil, tetap saja susah.
Kesiapan mudik Bukan berita baru jika mudik selalu memakan banyak korban jiwa. Korban jiwa mudik Lebaran mengalami tren peningkatan. Pada 2007, korban tewas mencapai 798 jiwa, 2008 sebesar 633 jiwa, 2009 menjadi 728 jiwa, dan 2010 meningkat hingga 853 jiwa. Selanjutnya pada 2011 turun menjadi 779 jiwa dan pada 2012 naik mencapai 908 jiwa.
Kesiapan mudik Bukan berita baru jika mudik selalu memakan banyak korban jiwa. Korban jiwa mudik Lebaran mengalami tren peningkatan. Pada 2007, korban tewas mencapai 798 jiwa, 2008 sebesar 633 jiwa, 2009 menjadi 728 jiwa, dan 2010 meningkat hingga 853 jiwa. Selanjutnya pada 2011 turun menjadi 779 jiwa dan pada 2012 naik mencapai 908 jiwa.
Selain
korban jiwa, juga kehilangan harta benda serta korban kriminalitas dan ketidaknyamanan
lain. Semua ini ditangung pemudik dan tidak ada kompensasi dari pemerintah.
Namun, melihat tren kenaikan permasalahan sosial saat mudik, jelas menunjukkan
bahwa kapasitas pemerintah dalam mempersiapkan grand strategy memecahkan
masalah mudik, belum memuaskan.
Jika
pemerintah memahami besar nya arus urbanisasi di Jakarta, maka pemerintah
seharusnya mempersiapkan infrastruktur dari dan ke Jakarta secara memadai.
Anehnya, meski dari tahun ke tahun, kita sibuk menghadapi mudik sebagai sebuah
ritual rutin, yang bagi sebagian orang bahkan disakralkan, namun langkah yang
dilakukan pemerintah juga sekadar rutinitas tanpa ada peningkatan pelayanan
yang memadai.
Melihat
dampak kegiatan mudik yang demikian besar, terutama korban jiwa, pemerintah
perlu melakukan langkah strategis yang mendidik rakyatnya.
Apalagi kegiatan mudik juga sebuah `pemborosan' karena banyak pengeluaran.
Hasil kerja setahun, dua tahun, atau lebih, habis dipakai untuk sekali mudik.
Transportasi
darat juga memakan banyak BBM bersubsidi dan puluhan ton polutan yang
membahayakan kesehatan. Ribuan hektare tanah juga sering kali menjadi korban
pemudik dan kerusakan infrastruktur juga meningkat.
Kegiatan semacam ini cenderung tidak produktif atau lebih banyak nilai hura-hura
yang terbungkus nilai budaya dan religius. Bagaimana kita bisa memaknai dengan
logika kita, di mana sebuah kegiatan silaturahim yang dianjurkan dalam agama
tetapi juga diikuti dengan risiko kehilangan nyawa?
Di sini
jelas bahwa ritual mudik dekat dengan motif ekonomi yang banyak mengandung
unsur-unsur konsumerisme, memanjakan pola hidup konsumtif, hedonis, dan bentuk
kemewahan lainnya yang cenderung demonstration
effect.
Budaya hemat dan kegiatan investasi atau tabungan tampaknya sudah harus dipikirkan
sejak sekarang. Budaya investasi harus ditingkatkan mengingat tekanan ekonomi
yang berat mengharuskan dilakukannya investasi yang dananya berasal dari
tabungan. Masyarakat harus bersikap hemat dan mampu menabung dan
berinvestasi. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar