Senin, 05 Agustus 2013

Manajemen Mudik

Manajemen Mudik
Aunur Rofiq ;  Ketua DPP PPP Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan,
Praktisi Bisnis Pertambangan dan Perkebunan
          REPUBLIKA, 03 Agustus 2013


Mudik adalah sebuah ritual yang memiliki dimensi budaya (kultural), religius, dan ekonomi. Secara kultural, mudik sudah dikenal ribuan tahun lalu sebelum zaman Majapahit. Secara historis kegiatan ini dikenal pada masyarakat petani Jawa.

Awalnya kegiatan mudik ini bertujuan untuk menengok dan membersih kan makam leluhur dengan memanjatkan doa kepada para dewa. Seiring dengan masuknya pengaruh Islam, kegiatan mudik seperti itu mulai luntur dan muncul kembali dengan memanfaatkan momentum Idul Fitri. Dengan demikian kegiatan mudik juga salah satu kegiatan khas, sekaligus suatu bentuk kearifan lokal bangsa kita. Mudik juga memiliki dimensi ritual keagamaan (religius) yakni silaturahim.  Suatu bentuk ibadah agama yang dianjurkan. Dalam hari raya Idul Fitri, selalu diiringi dengan silaturahim dan saling berbagai makanan.

Selain dimensi kultural dan ritual, juga ada dimensi ekonomi. Hal ini bisa dilihat dari pergerakan manusia dan sumber daya ekonomi yang demikian besar, sehingga memiliki multiplier effect ekonomi yang juga besar. Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik pada Idul Fitri 2013 akan bertambah. Secara umum, kenaikan diprediksi mencapai 4,46 persen atau akan mencapai 18 juta orang. Kenaikan jumlah penumpang tertinggi diprediksi akan terjadi pada angkutan udara, yaitu sebesar 11,7 persen. Jika pada mudik 2012 jumlah penumpang angkutan udara sebanyak 3,36 juta orang, maka pada 2013 diprediksi mencapai 3,75 juta orang. 

Menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhai min Iskandar, transaksi pengiriman uang dari luar negeri ke Indonesia (remitansi) oleh tenaga kerja Indonesia (TKI) ditaksir mencapai Rp 15 triliun, selama Rama dhan dan Idul Fitri 2013. Remitansi TKI di luar negeri sudah cukup tinggi pada hari-hari biasa. Namun, jumlah nya meningkat tajam setiap Ramadhan dan Lebaran. 

Kegagalan pembangunan

Selain faktor budaya, kegiatan mudik juga didorong oleh faktor ekonomi yakni pembangunan nasional (terutama ekonomi) yang berpusat di Ibu Kota Jakarta.
Strategi pembangunan nasional hanya menciptakan pusat pertumbuhan dan kegiatan ekonomi yang tersentralisasi di Jakarta dan sekitarnya. Pertumbuhan usaha seperti pabrik dan perputaran uang hanya melimpah di Jakarta.

Sementara di daerah, sulit mencari lapangan kerja dan miskin pembangunan. Akibatnya, terjadi arus urbanisasi ke Jakarta dalam jumlah besar. Tatkala terjadi libur panjang saat Idul Fitri, mudik menjadi kegiatan yang luar biasa besar.
Inilah sesungguhnya wajah asli mudik yang kolosal tersebut. Ini adalah wajah kegagalan kita dalam menciptakan pembangunan yang berkeadilan, antara Jawa dan Luar Jawa dan antara desa dan kota. Mudik menyimpan wajah kegagalan kita dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang merata di seluruh Tanah Air sekaligus wujud kegagalan kita mewujudkan pemerataan dan keadilan sosial.

Meskipun kegiatan mudik tidak mengenal strata dan status sosial, tetapi rakyat kecil tetap menjadi bagian yang terlunta-lunta dalam menikmati mudik Lebaran. Warga kelas menengah ke atas bisa menikmati mudik dengan lebih baik.
Tapi rakyat kecil, tetap saja susah.

Kesiapan mudik Bukan berita baru jika mudik selalu memakan banyak korban jiwa. Korban jiwa mudik Lebaran mengalami tren peningkatan. Pada 2007, korban tewas mencapai 798 jiwa, 2008 sebesar 633 jiwa, 2009 menjadi 728 jiwa, dan 2010 meningkat hingga 853 jiwa. Selanjutnya pada 2011 turun menjadi 779 jiwa dan pada 2012 naik mencapai 908 jiwa.

Selain korban jiwa, juga kehilangan harta benda serta korban kriminalitas dan ketidaknyamanan lain. Semua ini ditangung pemudik dan tidak ada kompensasi dari pemerintah. Namun, melihat tren kenaikan permasalahan sosial saat mudik, jelas menunjukkan bahwa kapasitas pemerintah dalam mempersiapkan grand strategy memecahkan masalah mudik, belum memuaskan.

Jika pemerintah memahami besar nya arus urbanisasi di Jakarta, maka pemerintah seharusnya mempersiapkan infrastruktur dari dan ke Jakarta secara memadai. Anehnya, meski dari tahun ke tahun, kita sibuk menghadapi mudik sebagai sebuah ritual rutin, yang bagi sebagian orang bahkan disakralkan, namun langkah yang dilakukan pemerintah juga sekadar rutinitas tanpa ada peningkatan pelayanan yang memadai.
Melihat dampak kegiatan mudik yang demikian besar, terutama korban jiwa, pemerintah perlu melakukan langkah strategis yang mendidik rakyatnya.
Apalagi kegiatan mudik juga sebuah `pemborosan' karena banyak pengeluaran. Hasil kerja setahun, dua tahun, atau lebih, habis dipakai untuk sekali mudik.

Transportasi darat juga memakan banyak BBM bersubsidi dan puluhan ton polutan yang membahayakan kesehatan. Ribuan hektare tanah juga sering kali menjadi korban pemudik dan kerusakan infrastruktur juga meningkat.
Kegiatan semacam ini cenderung tidak produktif atau lebih banyak nilai hura-hura yang terbungkus nilai budaya dan religius. Bagaimana kita bisa memaknai dengan logika kita, di mana sebuah kegiatan silaturahim yang dianjurkan dalam agama tetapi juga diikuti dengan risiko kehilangan nyawa?


Di sini jelas bahwa ritual mudik dekat dengan motif ekonomi yang banyak mengandung unsur-unsur konsumerisme, memanjakan pola hidup konsumtif, hedonis, dan bentuk kemewahan lainnya yang cenderung demonstration effect.
Budaya hemat dan kegiatan investasi atau tabungan tampaknya sudah harus dipikirkan sejak sekarang. Budaya investasi harus ditingkatkan mengingat tekanan ekonomi yang berat mengharuskan dilakukannya investasi yang dananya berasal dari tabungan. Masyarakat harus bersikap hemat dan mampu menabung dan berinvestasi.  ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar