Jumat, 16 Agustus 2013

Kloning Gaya Jokowi

Kloning Gaya Jokowi
W Riawan Tjandra Pengajar Pada FH Universitas Atma Jaya Yogyakarta,
Dewan Penasihat Lembaga Strategi Nasional (LSN)
KORAN TEMPO, 14 Agustus 2013

Jokowi, yang lekat dengan ikon manajemen blusukan-nya, telah menginspirasi banyak elite politik ataupun para (calon) pemimpin di negeri ini. Gaya Jokowi tak ubahnya seperti "reinkarnasi" dari genealogi kepemimpinan di masa awal berdirinya republik ini. Era ketika the founding fathers and mothers mengajarkan spiritualitas kepemimpinan yang "bersatu jiwa" dengan rakyatnya dalam sebuah "republik desa" atau laku bertapa dengan berjalan kaki di malam hari sambil menyembunyikan identitas jabatan raja/pemimpin agar dapat berdialog bebas dengan sungguh memahami aspirasi wong cilik/kawula yang dipraktekkan oleh Sultan HB IX di Yogyakarta.
Terdapat sebuah peribahasa dalam bahasa Jawa yang menyatakan "curiga manjing warangka, warangka manjing curiga". Peribahasa tersebut merupakan sebuah gambaran dari sikap ideal hubungan pemimpin dengan bawahan. Sikap ideal tersebut ditandai dengan kondisi di mana seorang pemimpin memahami aspirasi bawahan, mengenal dengan baik kondisi bawahan, serta mau menyantuni mereka dengan baik dan selayaknya. Sikap pemimpin seperti itu dapat membuat bawahan bersedia berbakti dengan ikhlas kepada sang pemimpin. Sikap menyantuni rakyat seperti itu akhir-akhir ini kian jarang ditunjukkan oleh para elite politik ataupun para pemimpin di negeri ini. Kebanyakan sikap yang ditunjukkan adalah menyantuni parpol untuk kepentingan diri sendiri maupun keluarga serta kroninya. Hal inilah yang di kemudian hari menyebabkan banyak elite politik dan pemimpin tersandung berbagai masalah hukum.
Manajemen kepemimpinan publik bergaya blusukan ala Jokowi kini mulai diimitasi, direplikasi, serta diduplikasi oleh banyak (calon) pemimpin dan elite politik. Pesona dan citra yang dipoles dengan manajemen virtual telah dimaklumi publik adalah penipuan atas realitas dan sebuah tanda dusta (false sign) yang menopengi bopengnya realitas. Pemimpin yang ingin diakui rakyatnya haruslah pemimpin yang berasal dari bawah, selalu melihat ke bawah, dan setiap saat mau turun ke bawah. Meskipun sebagian ahli manajemen birokrasi klasik akan menghujat gaya kepemimpinan seperti itu sebagai tidak prosedural, memotong hierarki pemerintahan dan dianggap cenderung tidak mempercayai bawahan, transformasi radikal gaya kepemimpinan publik semacam itu sangat diperlukan.
Sistem hierarki dalam birokrasi publik di masa lalu oleh banyak pihak sekurang-kurangnya oleh Max Weber diyakini mampu menjaga sistem pengawasan dalam manajemen pemerintahan melalui rentang kendali organisasi (span of control) yang ketat dan rigid. Namun realitasnya, yang berkembang sebagai dampak negatifnya justru paradoks dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketertiban (legal order) yang ditegakkan oleh birokrasi yang efisien dan berwibawa dengan dukungan instrument-instrumen pemaksa kepatuhan rakyat berupa paksaan pemerintahan (bestuursdwang), pencabutan/anulasi izin, denda, dan uang paksa (dwangsom) kini dinilai tak lebih efektif jika dibandingkan dengan persuasi, penyerapan aspirasi, negosiasi dalam perspektif demokrasi deliberatif dan legitimasi dalam gaya kepemimpinan Jokowi.
Abu Hasan Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkam as-Sulthaniyah menyebutkan, salah satu syarat bagi seorang pemimpin adalah memiliki kecerdasan sampai pada tingkat sanggup memimpin rakyat dan mengurus kesejahteraan rakyatnya. Tentulah, logos kepemimpinan blusukan adalah rasionalitas untuk menjadikan rakyat "bersatu hati" dengan pemimpinnya. Tak semua masalah mampu diselesaikan oleh sang pemimpin, karena pemimpin juga makhluk terbatas yang mendapat mandat kuasa untuk memenuhi kesejahteraan rakyatnya. Namun yang diperlukan oleh rakyatnya adalah empati, karena sang pemimpin turut merasakan apa yang diderita rakyatnya. Dia hadir di saat rakyat membutuhkan kehadiran konkret pemimpinnya, bukan hanya sekadar dengan bahasa instruksi, regulasi, surat edaran, dan sejenisnya.

Menjelang hajatan politik pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2014, rakyat sebenarnya sudah punya preferensi bahkan dengan kewaskitaan jauh melampaui lembaga-lembaga survei. Rakyat telah cukup banyak belajar bahwa yang dibutuhkan dari seorang pemimpin bukanlah banyaknya janji, melainkan sikap hati dan empati dari kepemimpinan yang peduli. Semoga gaya manajemen blusukan yang kini dikloning, tak sekadar jenis tebar pesona baru, tapi juga sungguh merupakan wujud kesantunan dan sikap empati dari para (calon) pemimpin yang mau melayani dan "bersatu jiwa" dengan rakyatnya. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar