|
Puncak dari ritus puasa adalah Idul
Fitri. Secara harfiah id artinya hari
raya dan fitri bermakna kesucian.
Puasa sebagai ”tapabrata”
mengandaikan roh yang tak lagi terpenjara hasrat kebendaan sehingga tatkala
usai berpuasa tak ubahnya bayi yang baru keluar dari rahim sang bunda: suci dan
bening. Kesucian niscaya dirayakan sebab posisi inilah yang pada gilirannya
akan menjadi ”modal rohaniah” untuk membangun semesta kemanusiaan yang tidak
kehilangan adab. Fitri atau fitrah sangat bertalian erat dengan ikrar
primordial alam spiritual insan yang menyiratkan daya untuk selalu menjadikan
Tuhan dengan segenap nilai-nilai kebaikannya sebagai haluan utama dalam praksis
sosial.
Kembali dalam suasana fitri ini
sejatinya yang menjadi modus utama peran profetik kenabian. Para nabi
dilahirkan tak lain sebagai interupsi moral atas banalitas kemanusiaan. Dalam
idiom keagamaan, dirumuskan secara semantik dalam ungkapan jahiliah. Jahiliah
politik berwujud totalitarianisme; ekonomi berupa monopoli; budaya ketika
kehilangan visi spiritualitas dan atau bahkan jahiliah agama manakala keyakinan
tidak membersitkan sikap toleran dan pencerahan.
Sila
pertama
Epos kitab suci sesungguhnya
menating sebuah tema besar
tentang humanisme universal (ummatan wahidah) dan kesadaran ilahiah yang kudus dan pasrah (hanif). Tema yang kemudian dapat suntikan energi mengagumkan ketika para pembawanya (rasul) memberi keteladanan nyata ihwal kebenaran kitab suci itu.
tentang humanisme universal (ummatan wahidah) dan kesadaran ilahiah yang kudus dan pasrah (hanif). Tema yang kemudian dapat suntikan energi mengagumkan ketika para pembawanya (rasul) memberi keteladanan nyata ihwal kebenaran kitab suci itu.
Kebenaran yang diacukan bukan hanya
kepada wibawa kekuatan sakralitas senarai firman Tuhan, tetapi lebih kepada
internalisasi nilai dan keteladanan langsung di tengah hamparan sejarah
pengalaman keseharian. Maka, dapat dipahami ketika para sahabat gaduh
mendiskusikan kebenaran sebuah teks Tuhan, Umar bin Khattab berujar, ”Untuk apa
berbicara kebenaran, seandainya kebenaran ini mandul di lapangan.” Senapas
dengan ini mungkin seperti yang pernah dibilang WS Rendra: ”Perjuangan adalah
pelaksanaan kata-kata.”
Ungkapan minal aidzin wal faizin menjadi bermakna tatkala diterapkan
dalam spirit seperti itu: kembali dan berbahagia. Kembali kepada fitrah
dan
berbahagia karena telah mendapat bekal utama untuk menata diri (personal) lebih
baik dan menata kehidupan (sosial) lebih terarah.
Konteks fitrah dalam nalar politik
bernegara telah diwadahi oleh kaum pergerakan dengan sangat visioner dalam
Pancasila sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini yang disebut-sebut
Bung Karno sebagai nilai-nilai ketuhanan yang berkebudayaan. Hatta menyebutnya
siasat pemenuhan cita-cita kemerdekaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa
yang berdaulat, adil, makmur, dan mengandung kewajiban moral.
Kembali ke fitrah dalam semangat
kebangsaan adalah kembali memunculkan kesaktian Pancasila dengan cara istikamah
menjalankan dan menjalani seluruh silanya. Memuliakan ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, musyawarah, dan kesejahteraan sosial.
Tentu sila-sila itu tidak hanya
merefleksikan kekayaan penghayatan alam batin manusia Indonesia tempo
dulu, sesungguhnya juga adalah pantulan total dari realitas keimanan yang
dihayatinya dengan sangat intim.
Pancasila hadir sebagai fitrah
bernegara, sekaligus beragama. Dengan falsafah Pancasila, sesungguhnya kita
telah selesai mendiskusikan hubungan agama tautannya dengan negara. Perdebatan
ideologis dan kontestasi ras, suku, agama, bahasa dengan elegan telah
dipadatkan dalam sila yang hanya lima itu.
Fantasi politik kaum radikal lewat
kehadiran Pancasila dengan sendirinya telah terkunci. Dan, negara harus
bertindak tegas ”menertibkan” ormas yang merongrong karisma falsafahnya, bukan
malah melakukan pembiaran, apalagi ”merawatnya” atas nama kepentingan politik
sesaat. Dalam bahasa almarhum Cak Nur, Pancasila sebagai titik temu (kalimatun sawa) dari seluruh realitas
sosial keindonesiaan yang majemuk.
Menghidupkan politik aliran, baik
yang dijangkarkan kepada sentimen etnisitas maupun label keagamaan, tidak hanya
mencerminkan nalar terbelakang, tetapi juga tanda dari absennya rasa syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi kalau politik aliran itu diartikulasikan
dalam wujud kekerasan, termasuk kekerasan simbolik. Atas nama dan alasan apa
pun politik macam ini adalah bentuk lain dari kemungkaran sosial yang
seharusnya menjadi musuh bersama karena dapat mengancam keutuhan NKRI.
Kontestasi itu—agar selaras dengan
formula fitrah bernegara dan beragama—seharusnya lebih diarahkan pada ”politik
kesejahteraan” yang diselesaikan melalui prosedur demokrasi sekaligus substansi
demokrasi itu sendiri. Caranya: melalui mekanisme hukum dan perundang-undangan
yang berlaku.
Mudik
kultural
Id yang berarti kembali dalam makna
lokal-kultural sering diartikan mudik. Dalam tradisi kita, biasanya
dilambangkan dengan migrasi besar-besaran masyarakat urban ke kampung
halamannya untuk bersilaturahim, merajut hubungan kekerabatan, termasuk
berziarah kepada keluarga yang telah wafat. Ini pula yang ditulis antropolog
Andre Moller bahwa puasa sebagai ”ritus pokok” dan di bawahnya subritus yang
berhubungan erat dengan Ramadhan. Clifford Geertz menyebut Idul Fitri sebagai
puncak ritual yang menasional dengan kemampuan mengokohkan kembali ikatan
sosial. Ritual yang menguatkan solidaritas sosial (Emile Durkheim), meneguhkan
hasrat kebersamaan (Victor Turner), sekaligus manifestasi mosaik dari realitas
universal (Marshal Hodgson).
Persoalan mudik kultural untuk
membangun solidaritas sosial sesungguhnya yang sangat dibutuhkan bangsa kita
akhir-akhir ini. Sering kali kehancuran itu bermula tatkala spirit mudik absen
sehingga akhirnya lama-kelamaan kita lupa terhadap ”ibu” (pertiwi) yang telah
membesarkan. Menjadi bangsa Malin Kundang yang dengan jemawa merasa ada ketika
menampik kehadiran ”ibu”. Terhijab pesona benda. Merasa materi sebagai daulat
utama.
Padahal, justru materialisme dan
perburuan rente yang kelewat batas inilah yang hendak dipangkas puasa: agar
puasa menemukan fitrahnya; supaya bangsa kembali ke jalan lurus. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar