|
Bagi umat
Islam, Idul Fitri merupakan momen yang paling penting setelah menjalani ritual
puasa selama kurang lebih sebulan. Ia merepresentasikan sebuah kemenangan dan
terutama kesucian diri laiknya fitrah manusia seperti tecermin dalam ungkapan minal aidin wal-faizin. Dengan Idul
Fitri manusia seolah ditempa kembali menjadi orang yang benar-benar terbebas
dari semua noda dan dosa bagaikan bayi yang baru dilahirkan.
Tak heran
kalau umat Islam di seluruh dunia menyambut tibanya hari Idul Fitri tersebut
dengan penuh suka cita. Berbagai hal mereka persiapkan untuk menyambutnya dari
yang bersifat fisik-lahiriah sampai psikis-batiniah. Meski kerap muncul
perbedaan dalam menetapkan hari tersebut di kalangan umat Islam, seperti halnya
juga dalam penentuan awal Ramadhan, tetapi tidak menghilangkan keagungan dan
kesakralan momentum Idul Fitri.
Namun,
sayangnya ada satu fenomena yang cukup ironis jika melihat praktik pemaknaan
umat Islam di negeri terhadap Idul Fitri. Yakni, kecenderungan untuk menjadikan
Idul Fitri sebagai puncak dari semua bentuk ritual selama Ramadhan. Idul Fitri
seolah terminal akhir di mana perjalanan manusia.
Dengan
kata lain, setelah sampai pada hari Idul Fitri, pola dan gaya hidup mereka
cenderung kembali ke masa sebelum puasa. Seolah berbagai pelajaran dan hikmah
selama Ramadhan tidak berbekas sama sekali di dalam kehidupan mereka. Ada mata
rantai yang terputus (missing link)
antara praktik kehidupan mereka selama bulan Ramadhan dengan bulan-bulan
setelahnya.
Secara
kasat mata terlihat bahwa selama Ramadhan umat Islam berlomba- lomba untuk
menampilkan diri mereka sepantas mungkin dengan momentum puasa. Menjauhi
tempat-tempat maksiat, kecenderungan untuk menutup aurat bagi sebagian
perempuan, menjadi hal yang lazim di bulan tersebut. Tetapi, semua itu berhenti
ketika Idul Fitri berlalu.
Padahal,
seharusnya ada semacam kontinuitas yang mesti dilakukan umat Islam setelah
mereka sampai pada hari Idul Fitri dan sesudahnya. Ia bukanlah puncak, atau
terminal akhir dari sebuah perjalanan. Ia justru merupakan langkah awal, kawah
candradimuka sebagai tempat penempaan umat Islam sehingga menjadi pribadi yang
bersih dan suci.
Justru setelah
menjadi pribadi-pribadi yang sucilah diharapkan mampu mempraktikkan semua
pelajaran selama Ramadhan pada bulan-bulan berikutnya. Nilai-nilai
kedisiplinan, kejujuran, dan kepedulian seyogianya menjadi denyut nadi
kehidupan umat Islam di sepanjang waktu.
Politik humanis
Sebegitu
agungnya makna Idul Fitri maka seharusnya bisa menyentuh semua aspek kehidupan
manusia termasuk politik. Sudah selayaknya bagi para elite politik di republik
ini untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum humanisasi politik. Meski
kerap menampilkan berbagai hal yang buruk: intrik, kepalsuan, dan kecurangan,
tetapi politik sebenarnya tidak harus tampil seperti itu.
Politik
juga bisa tampil berwajah humanis, mengedepankan kepedulian dan kebersamaan
sosial. Filsup Plato sendiri menekankan politik pada aspek kebaikan bersama (common goodness). Dalam bahasa agama
(Islam) sesuai dengan makna kemaslahatan bersama (al-mashlahah al-ammah). Dengan demikian, politik semestinya diorientasikan
untuk kebaikan bersama. Karena itu, Idul Fitri sebagai akhir dari ritual puasa
yang membawa nilai- nilai kebaikan bersama itu seyogianya menjadi momentum
untuk menampilkan politik secara lebih humanis dan manusiawi. Kedisiplinan,
kejujuran, dan kepedulian akan sesama yang terpancar dari ibadah puasa
semestinya juga terejewantahkan dalam praktik-praktik politik di negeri ini.
Seperti
yang dapat kita saksikan bersama, pada saat Ramadhan ada kecenderungan dari
para politisi atau calon-calon politisi (baca: caleg) memanfaatkan momentum
Ramadhan untuk memperlihatkan kepedulian mereka akan sesama. Sebagian ada yang
menyelenggarakan mudik gratis, ada pula yang membangun posko-posko bantuan
untuk membantu para pemudik.
Tentu
saja semua itu merupakan perbuatan baik karena jelas-jelas menunjukkan
kepedulian para politisi terhadap nasib sesama. Masalahnya adalah apakah mereka
melakukan itu hanya sekadar meraih simpati publik sehingga bersifat temporer,
atau hanya napas kehidupan politik sesaat untuk mengabdi pada kepentingan
bersama.
Jika
pilihan kedua yang terjadi, tentu merupakan kabar baik bagi dunia politik di
Indonesia. Bagaimanapun yang paling menentukan dalam politik adalah siapa yang
menggunakannya (man behind the gun).
Sedangkan politik itu sendiri hanyalah sebuah cara (means). Maka, kalau yang melakukan praktik-praktik politik
adalah pribadi-pribadi fitri yang telah lulus dari proses penggodokan puasa,
jelas politik akan berwajah humanis. Inilah hal terpenting dari momentum Idul
Fitri bagi kehidupan politik di republik ini. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar