Kamis, 15 Agustus 2013

Berbelanja dan Konstruksi Identitas

Berbelanja dan Konstruksi Identitas
Hartono Dosen Fakultas Bahasa Universitas Islam Sultan Agung
(Unissula) Semarang
SUARA MERDEKA, 13 Agustus 2013


"Ada link antara identitas dan kepemilikan material; serta belanja adalah langkah awal menuju kepemilikan itu"

SETIDAK-TIDAKNYA ada dua aktivitas yang dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia, yang mendahului perayaan Lebaran. Pertama; berbelanja besar. Kemeningkatan  aktivitas ini menjelang Idul Fitri sangat nyata terlihat, ditandai dengan keberjubelan calon pembeli di toko, pasar swalayan, mal, bahkan pasar tradisional sekalipun.

Gayung bersambut, demi memuaskan hasrat berbelanja, pengelola pusat perbelanjaan menawarkan beragam program promotif, dari diskon dan super sale, beli 2 dapat 3, sampai belanja tengah malam (midnight sale). Banyak orang termakan oleh promosi itu, berbelanja tanpa kendali, kadang membeli barang yang belum benar-benar dibutuhkan.

Untuk keperluan belanja itu, banyak anggota masyarakat menghabiskan gaji dan THR, uang tabungan yang dikumpulkan beberapa bulan sebelumnya, atau uang kiriman dari orang tua, anak, atau saudara yang bekerja di luar negeri. Beberapa orang, meskipun terpaksa, menjual  harta benda yang dimiliki untuk keperluan belanja Lebaran. Ada semacam kenikmatan luar biasa ketika pada akhirnya aktivitas belanja tersebut bisa dilakukan dengan sempurna.

Kedua; mudik. Berlebaran tanpa mudik terasa kurang afdal. Meski untuk memenuhi kewajiban itu, keselamatan diri dan keluarga selama perjalanan berada dalam ancaman, minimal kurang diperhatikan. Hal ini ditandai dengan tingginya angka kecelakaan lalu lintas, semisal dipicu oleh mengantuk atau kendaraan yang tidak laik jalan. Kegiatan mudik juga menyedot pengeluaran uang yang tidak sedikit, antara lain untuk biaya transpor  dan konsumsi selama perjalanan, oleh-oleh atau ”angpau” untuk orang tua dan saudara di kampung halaman.

Konstruksi Identitas

Aktivitas belanja dan mudik acap menjadikan kondisi keuangan keluarga kembali ke titil nol dan cerita duka. Semua simpanan dan tabungan terbelanjakan dalam waktu singkat dan jiwa orang tersayang hilang karena keganasan jalan raya. Tetapi aktivitas tersebut terus menemukan urgensinya meski tingkat pendidikan masyarakat meningkat, dan tersedia fasilitas layanan komunikasi yang memungkinkan orang yang berjauhan tetap bisa berhubungan satu sama lain dengan cara mudah dan murah.

Salah satu jawabannya adalah karena orang perlu terus-menerus mempertahankan, membangun, dan mengasosiasikan identitas. Hal itu mengingat identitas merupakan cerminan diri yang bersifat personal sekaligus sosial dan menjadi pembeda atau persamaan dengan yang lain, bersifat sangat cair dan terpecah-belah (fragmentary).

Ada link antara identitas dan kepemilikan material, dan belanja adalah langkah awal menuju kepemilikan itu. Ketika seseorang berbelanja berarti ia tengah mengkonstruksikan identitasnya. Barang-barang material sudah pasti memiliki fungsi praktis. Tetapi lebih dari itu, barang-barang tersebut akan menandai afiliasi kelompok, kedudukan sosial, status ekonomi, bahkan keterkelompokannya pada subkultur tertentu. Ketika seseorang berada dalam kerumunan orang berbelanja di mal menjelang Lebaran sejatinya ia sedang membangun identitas dengan cara membedakan diri dari orang lain yang tidak melakukan kegiatan itu. Begitu pula halnya ketika ia memakai baju baru atau mengendarai mobil baru.

Sebagai tanda identitas personal, barang tersebut mewakili kualitas, nilai, sikap unik seseorang yang terekam dalam memori dan sejarah pribadi, sekaligus menyimbolisasikan hubungan antarpersonal dengan teman ataupun keluarga. Jadi ketika seseorang melakukan aktivitas mudik, pada dasarnya dia sedang menegosiasikan kembali identitas diri, yang terjabarkan dalam makna bahwa ia bukanlah liyan (orang lain).  Meskipun sekian lama telah meninggalkan kampung halaman, ia tidak tercerabut, masih merupakan bagian dari keluarga, kelompok, dan habitat tanah asal dengan segala atributnya.

Kendati keindonesiaan yang satu telah mulai dibangun sejak 85 tahun lalu, saat kali pertama mengumandangkan Soempah Pemoeda, ikatan tanah asal ternyata masih mengemuka. Realitas tersebut terlihat nyata ketika kita memperhatikan diskursus pertemanan baru, dan  salah satu informasi yang sering ditransaksikan adalah tanah asal. Dengan demikian belanja dan mudik adalah usaha mengonstruksi identitas, dan Lebaran adalah momentumnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar