|
RAMADAN berakhir dan akan kembali
lagi di tahun depan jika kita berumur panjang. Begitulah yang diajarkan Nabi,
berharap kita dapat bertemu lagi dengan Ramadan tahun depan agar tak pernah ada
kata bosan untuk terus belajar. Begitulah, Ramadan memang penuh keberkahan
sekaligus misteri. Siapa saja yang menjemput Ramadan dengan senang hati, Allah
menjanjikan surga-Nya. Ramadan menjadi semacam katalisator bagi setiap usaha
mengembalikan peran dan posisi jiwa manusia di jalan kemanusiaan.
Dalam Ramadan, kita juga belajar
tentang awal dan tentang akhir. Apa yang diawali kesadaran yang lurus akan
berakhir bagus, dan apa yang berakhir dengan kebaikan pasti diawali serangkaian
niat baik. Siklus tersebut seolah mengajari kita bahwa hidup memang berawal
dari ketidaktahuan dan harus berakhir dengan sebanyak mungkin pengetahuan. Jika
ketidaktahuan merupakan sifat dasar bayi, mungkinkah pengetahuan bisa membawa
manusia kembali dalam kesucian seorang bayi? Jawabannya bisa asalkan kita
memercayai dan menjalani proses kehidupan secara bersungguh-sungguh.
Bersungguh-sungguh (man jadda) tampak sekali ketika Ramadan
tiba. Pada titik itu kita sesungguhnya sedang belajar untuk mengembalikan
kefitrian jiwa yang memiliki janji primordial hakiki dengan Tuhan. Namun ketika
Ramadan berakhir, kita pun kembali tersadar untuk secara bersungguh-sungguh
kembali belajar arti kefitrian selama 11 bulan lainnya. Sebagai salah satu dari
beberapa bulan mulia, Ramadan merupakan oase bagi setiap jiwa yang rindu akan
kebenaran hakiki. Kehadirannya sungguh dirindu jutaan umat dan kepergiannya
selalu dirayakan dengan suka cita seperti tecermin dalam Hari Raya Idul Fitri.
Benarkan kita merindukan lagi kedatangan Ramadan tahun depan?
Jejak positif
Jika indikasinya ialah tingginya
tingkat konsumerisme masyarakat pada saat menjelang, sedang, dan sesudah
Ramadan, kerinduan tersebut tak lebih dan tak kurang sebatas kerinduan ritual
biasa dan sangat formal. Itu berarti kita gagal untuk belajar kembali makna
hakiki kemanusiaan. Sebagai sebuah bulan yang sarat dengan nilai kesucian secara
individual, seharusnya rekam jejaknya dapat kita lacak pada konstelasi relasi
sosial masyarakat kita. Jika Ramadan memang memberikan peningkatan
spiritualitas pada setiap individu, seharusnya relasi sosial juga menjadi lebih
baik.
Ramadan, seperti biasa, agaknya
tak akan meninggalkan jejak positif bagi kehidupan sosial masyarakat kita. Itu
berarti kita akan gagal untuk belajar kembali makna penting eksistensi Ramadan
yang sesungguhnya. Penandanya bisa jadi dari masih mengembaranya sikap
primordial yang mengental, kebencian antaretnik dan golongan masih tumbuh
subur, kekerasan antariman yang juga kerap terjadi. Maka, Ramadan tak memberi
efek terhadap perubahan sosial. Belum lagi jika ditambah dengan daftar
kebijakan pemerintah yang menyebabkan semua simpul yang sensitif terhadap
segregasi sosial menjadi terlukai.
Selo Soemardjan (1998) pernah
berujar bahwa perubahan sosial merupakan perubahanperubahan yang terjadi pada
lembaga kemasyarakatan yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya
nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
Dalam konteks pascaRamadan, jika nilai-nilai yang terkandung di dalam ibadah
puasa tak menyebabkan terjadinya perubahan pola perilaku sosial dan rendahnya
sikap kebersamaan, dapat dipastikan tak akan muncul kesalehan sosial. Itu
berarti kita gagal untuk kembali belajar arti nilai-nilai yang kita yakini ada
selama Ramadan.
Kesalehan sosial sesungguhnya
merupakan efek positif setiap ibadah yang berlaku secara terus-menerus dan
menumbuhkan kohesi sosial yang kuat. Secara simbolis kesalehan sosial ditandai
kesadaran untuk saling membuka diri, memberi sekaligus meminta maaf, membuka
kembali kerankeran saluran komunikasi yang selama ini terhambat, baik sengaja
maupun tidak dise ngaja.
Makna simbolis kesalehan sosial
dalam Idul Fitri (kembali kepada kemanusiaan) patut dipertahankan dalam 11
bulan lainnya dalam bentuk bangunan relasi sosial yang lebih kuat dan beradab.
Dapat dibayangkan, jika tradisi memberi dan meminta maaf dan simbol kefitrian
lainnya terus berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan kita, proses
pembelajaran pastilah membekas sangat dalam di lubuk hati anak-anak kita.
Rekonsiliasi
Secara pedagogis, makna kesalehan
sosial dari Idul Fitri ialah keberanian untuk kembali kepada kesadaran bahwa
manusia dan kehidupannya adalah semata titipan Tuhan. Di dalamnya terdapat
agenda dan kepentingan bersama antarmanusia sehingga persinggungan emosional
dan perilaku merupakan konsekuensi yang wajar meski rawan menimbulkan konflik.
Itulah sebabnya mengapa di dalam Islam kefitrian seseorang sangat ditentukan
seberapa sering ia menyadari kesalahan, baik terhadap Tuhan maupun kepada
sesamanya. Ramadan pun dipercaya sebagai tempat persemaian paling baik untuk
mengembalikan fungsi kesucian manusia yang memiliki janji memulangkan kesucian
Tuhan. Akan tetapi hati-hati, kesalehan sosial dari Idul Fitri tak akan berarti
apa-apa bagi manusia yang tak menepati janji untuk membuka hati bagi sesama.
Rekonsiliasi. Itulah makna penting
dan paling berharga dari kesalehan sosial Idul Fitri lainnya. Ramadan dan puasa
yang berujung pada Idul Fitri hanya akan berfungsi jika kepada sesama kita
berusaha memulihkan atau memperbarui keadaan semula. Dalam rekonsiliasi, ada
pengampunan. Pengampunan sesama ataupun pengampunan Tuhan. Karena itu secara
didaktik dan substantif, kita harus melihat proses belajar sebagai jalan untuk
kembali kepada Tuhan sambil tak lupa untuk terus kembali belajar dari setiap
kesalahan dan alpa.
Kenikmatan berpuasa Ramadan
sesungguhnya hanya bisa dimaknai secara mutual-perspective, yakni sebagai
pembelajar (learner) kita harus terus
menggali kesucian Ramdan. Jika dalam perspektif bisnis berlaku adagium a happy customer is a return customer, dalam
berpuasa berlaku pula a happy learner is a return learner. Selamat Idul Fitri. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar