|
SUARA MERDEKA, 05 Juni 2013
PENERJEMAHAN tema peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia
2013: ’’Think.Eat.Save’’ ke dalam
Bahasa Indonesia adalah ’’Ubah Perilaku
dan Pola Konsumsi untuk Selamatkan Bumi’’. Sebuah peringatan serius
mengingat tema itu menyiratkan kerusakan lingkungan yang makin akut dipicu oleh
perilaku manusia yang tidak berwawasan lingkungan. Isu tentang konsumsi yang
boros lingkungan telah dibahas pada KTT Bumi di Johannesburg Afsel tahun 2002.
Salah satu pilar rumusan pembangunan berkelanjutan dalam
konferensi itu adalah mengurangi konsumsi yang tidak berkelanjutan.
Negara-negara maju dengan jumlah penduduk yang ’’hanya’’ sepertiga penduduk
dunia tetapi mengonsumsi dua per tiga sumber daya alam, dituding sebagai biang
keladi kerusakan bumi ini.
Negara-negara maju pun tak kalah tangkas, balik menuduh
negara-negara berkembang yang jumlah penduduknya dua per tiga penduduk dunia,
sebagai pemicu kerusakan lingkungan.
Berdasarkan data yang dirilis Maplecrotf dan dikutip media
nasional, penyumbang besar CO2, salah satu komponen gas rumah kaca, secara
berturutan adalah China, Ame-rika Serikat, Jepang, India, Rusia, Jepang, dan
Brasil.
Indonesia dikelompokkan sebagai negara yang berisiko dalam
kaitan dengan hutan. Data itu mengindikasikan negara maju yang diwakili Amerika
dan Jepang, serta negara berkembang dengan penduduk besar seperti China dan
India berada pada urutan terdepan penyumbang emisi global.
Makin Masif
Makin masifnya konsumsi sumber daya alam global mendorong
Wackernagel (1996), aktivis lingkungan berkebangsaan Swiss yang bermukim di
Amerika melakukan penelitian dan menuangkan hasilnya dalam buku Ecological Footprint of the Nations
(Jejak Ekologis Bangsa-Bangsa).
Ia menyimpulkan konsumsi penduduk dunia telah melampaui
tiga kali kemampuan lingkungan untuk memulihkan.
Mendasarkan konsep jejak ekologi Wackernagel, konsumsi kita
sesungguhnya juga telah melampaui daya dukung lingkungan.
Jejak ekologi diartikan sebagai apa yang kita konsumsi
dalam bentuk energi, pangan, dan perumahan, serta limbah yang kita buang yang
menjadi beban lingkungan. Jejak ekologi merupakan wilayah sebagai ekosistem
yang diperlukan untuk memproduksi sumber daya yang dikonsumsi, dan mengolah
limbah yang dibuang. Konsumsi kita meliputi pangan, perumahan,
transportasi, serta barang konsumsi dan jasa.
Untuk memproduksi berbagai produk itu dibutuhkan sumber
daya alam yang dikonversi dalam bentuk lahan, seperti lahan untuk memproduksi
energi, lahan terbangun, kebun, peternakan, dan pertanian.
Kebutuhan lahan bagi masyarakat di negara maju yang
lebih konsumtif diasumsikan 4,18 ha/orang/tahun, sedangkan Indonesia
hanya 1,250 ha/tahun/ orang. Kendati pola konsumsi kita masih
rendah, jejak ekologi di semua provinsi di Jawa (belum termasuk Banten) telah
terlampaui.
Terlampauinya daya dukung lingkungan dipicu oleh perilaku
individu ataupun kebijakan pemerintah yang mendorong konsumsi tidak
berkelanjutan. Itu perilaku kita sejak bangun pagi, beraktivitas seharian
sampai masuk ke peraduan membawa implikasi pada lingkungan. Volume air
yang kita gunakan, pakaian yang kita kenakan, makanan yang kita konsumsi, moda
transportasi yang kita pilih, energi yang kita konsumsi, merupakan potret jejak
ekologi.
Menurut data tahun 2008, CO2 per kapita di kota-kota besar
mencapai 0,6 kg, sedangkan di kota metropolitan 1,3 kg. Produksi sampah per
kapita per hari 3-5 liter. Berdasarkan kriteria mutu kelas dua, 35 sungai di
Indonesia dalam kondisi tercemar. Kadar pencemaran udara kota-kota besar
mencapai 36 kali lipat standar WHO. Semuanya menjadi indikasi jejak ekologi
kita telah melampaui daya dukung ataupun daya tampung lingkungan. Banjir dan
tanah longsor yang terjadi hampir di seluruh wilayah negeri ini menjadi
pertanda terlampauinya daya dukung lingkungan.
Program Ritual
Konsumsi berkelanjutan seharusnya menjadi agenda kebijakan
publik. Dalam menanggulangi kemacetan di kota misalnya, pemkot/ pemkab pada
umumnya hanya bertumpu pada pembuatan jalan tol, jalan layang, underpass, dan jalan lingkar. Kebijakan
itu justru mendorong masyarakat menggunakan mobil pribadi, mengonsumsi lebih
banyak bahan bakar fosil, menimbulkan kemacetan lalu lintas, dan pencemaran
udara. Akibatnya, selain tidak berkelanjutan, kebijakan itu memicu konsumsi
sumber daya alam secara masif dan berdampak buruk pada lingkungan.
Kita pun sering terjebak dalam program yang bersifat
ritual. Dalam mendorong efisiensi energi misalnya, kita sudah merasa puas
dengan setahun sekali melaksanakan gerakan Earth
Hour (Satu Jam Tanpa Listrik).
Dalam mencegah kemacetan dan pencemaran udara, kota-kota metropolitan, dari
Jakarta, Medan, Palembang, Semarang, Pekanbaru, Solo sampai kota kecil seperti
Klaten, Purwodadi, Kendal terjangkiti wabah car
free day tiap Minggu pagi.
Secara fungsional, car
free day tidak memecahkan masalah karena kemacetan dan pencemaran udara
justru menjadi beban jalur alternatif di sekitar lokasi car free day. Seiring dengan ’’wabah’’ hari bebas kendaraan
bermotor, komunitas pesepeda tumbuh bagai jamur di musim hujan. Namun karena
penggunaan sepeda sekadar untuk fun dan tidak fungsional, sumbangannya dalam
mengurangi kemacetan dan pencemaran udara juga belum dirasakan.
Kalau saja sepeda bukan hanya dipakai untuk pit-pitan (bersepeda santai) melainkan
juga untuk ngepit, artinya secara fungsional dipakai untuk berangkat sekolah
dan bekerja atau segosegawe (sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe),
upaya itu akan memberikan sumbangan siginifikan bagi keterwujudan konsumsi
berkelanjutan. Mewujudkan konsumsi yang berwawasan lingkungan, memerlukan
perubahan kultural, bukan sekadar ritual. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar