|
REPUBLIKA,
17 Juli 2013
SBY marah
karena harga pangan naik menjelang Ramadhan dan Lebaran tahun ini. Kemarahan
SBY dipicu karena lambannya para Menteri merespons instruksi untuk pengendalian
kenaikan harga pangan pascakenaikan BBM. Menurut penulis, kemarahan SBY tidak
tepat. Masyarakat sudah tahu bahwa pasti ada kenaikan harga pangan menjelang
Lebaran, apalagi SBY menaikkan harga BBM. Harusnya SBY jujur dan minta maaf
kepada rakyat karena tidak mampu menjaga harga pangan.
Sejarah
membuktikan bahwa pangan menjadi alat politik. Praktik seperti ini sudah
terjadi sejak zaman dulu. Kekalahan pasukan Sultan Agung Mataram dalam melawan
VOC diakibatkan oleh gudang/lumbung pangan prajurit Mataram dibumihanguskan
oleh VOC. Kisah Nabi Muhammad yang diboikot oleh suku Qurais dan diasingkan
di sebuah lembah dan dilarang melakukan transaksi jual beli bahan pangan
mengakibatkan `penderitaan' pengikut Islam waktu itu terasa berat.
Saat ini
hampir 1 miliar penduduk dunia mengalami kelaparan akibat adanya krisis
pangan. Petani dan peternak saat ini merasakan kondisi pangan yang naik
sedikit lega karena adanya kenaikan harga rata-rata lima sampai sepuluh persen
dari harga normal. Keributan soal mahalnya harga daging dan cabai rawit yang dirisaukan
oleh SBY sebenarnya tidak beralasan sehingga harus melakukan impor.
Sebenarnya,
yang butuh daging dalam jumlah banyak siapa? Pengusaha atau rakyat? Jangan-jangan
impor ini juga karena desakan importir yang tidak mau berbagi keuntungan dengan
peternak dan petani. Ya, selama puluhan tahun importir sudah merasakan
keuntungan berlipat-lipat dari impor daging dan sapi yang mengakibatkan
peternak sengsara.
Kondisi gejolak
pangan di atas disebabkan oleh politik. Politik sebagai alat melahirkan
kebijakan dan pengaruh yang kuat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani.
Indonesia yang 80 persen penduduknya tinggal di wilayah pedesaan dan pesisir
membutuhkan politik pangan yang jelas dari SBY dan wakil rakyat.
Politik
pangan menempatkan urusan pangan sebagai urusan pokok rakyat harus
diprioritaskan. Bukan seperti saat ini di mana urusan pertanian yang menangani
masalah produksi pangan hanya menjadi "lipstik" dengan istilah urusan
pilihan, bukan urusan wajib, yang artinya kalau dipilih ya akan diberikan
dukungan anggaran, namun jika tidak dipilih cukup ada saja dan tidak bisa
memberikan kontribusi bagi pemenuhan pangan masyarakat.
Politik
pangan harus didukung langsung oleh SBY dan para wakil rakyat di DPR. Karena,
pangan menjadi salah satu pilar ketahanan nasional di samping energi, keamanan,
dan moral. Politik pangan telah menjadikan negara-negara besar seperti Amerika,
Cina, menguasai hampir 60 persen produk pangan dunia.
Mereka leluasa menjajah negara di kawasan Asia dan dunia umumnya karena kebijakan politik pangan mereka jelas.
Mereka leluasa menjajah negara di kawasan Asia dan dunia umumnya karena kebijakan politik pangan mereka jelas.
Politik
pangan yang diterapkan adalah berorientasi kepada proses mengangkat harkat dan
kesejahteraan petani dan peternak. Jadilah petani dan usaha pertanian di
negara-negara tersebut anak emas yang mendapatkan perhatian besar dalam sisi
kebijakan politik, anggaran, dan perlindungan dari berbagai gangguan.
Kebijakan politik pangan
Petani
sebagai objek akan politik pangan harus ditempatkan sebagai `mitra'
dalam penentuan kebijakan pangan. Selama ini petani hanya menerima kebijakan tanpa adanya keterlibatan dalam menentukan arah kebijakan pangan nasional. Adanya Bulog, Kementan, Kementerian Perdagangan sering membuat arus kebijakan tidak sinkron, kadang malah berbenturan satu dengan yang lain.
dalam penentuan kebijakan pangan. Selama ini petani hanya menerima kebijakan tanpa adanya keterlibatan dalam menentukan arah kebijakan pangan nasional. Adanya Bulog, Kementan, Kementerian Perdagangan sering membuat arus kebijakan tidak sinkron, kadang malah berbenturan satu dengan yang lain.
Sebagai contoh, kebijakan penanganan kenaikan harga daging sapi yang telah
ditetapkan bahwa 2014 akan swasembada daging, walaupun data BPS 2012 menyatakan
bahwa jumlah sapi cukup untuk kebutuhan dalam negeri, tidak digubris dan bahkan
SBY melalui Bulog mengimpor daging sapi 3.000 ton bulan Juli ini.
Ini memang
ironisnya koordinasi dan konsistensi birokrasi negeri ini.
Operasi
pasar sebagai obat penenang menjadi senjata utama untuk intervensi harga di
pasar, jelas bahwa operasi pasar sangat tidak efektif dalam upaya membangun
perekonomian ke depan. Melihat kondisi masih lemahnya koordinasi dan sinkronisasi
antardepartemen, munculnya ego sektoral serta rendahnya implementasi kebijakan
politik pangan nasional rasanya sulit bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan
kemandirian dan kedaulatan pangan secara nasional.
Melihat
masalah di atas, pemerintah harus kembali kepada kebijakan politik pangan yang
berorientasi kepada kesejahteraan petani dan kemandirian pangan nasional. Untuk
mencapai itu, politik pangan dikembalikan sebagai soko guru politik nasional
melalui pendekatan dalam berbagai perspektif yang utuh.
Pertama,
politik pangan sebagai pilar kesejahteraan nasional. Artinya, bahwa politik
harus mengembalikan urusan pangan sebagai masalah pokok yang harus segera diselesaikan.
Urusan pangan yang meliputi pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat seperti
beras, jagung, lauk pauk harus mendapatkan dukungan yang penuh. Sebagai contoh
lahirnya UU Perlindungan Petani untuk melindungi petani dan usaha pertanian
agar tidak hancur oleh kebijakan luar.
Perspektif
politik pangan sebagai penyelamatan dan optimalisasi potensi pertanian. Potensi
pertanian Indonesia ibarat laut yang tidak pernah habis airnya, artinya bahwa
kekayaan alam pertanian Indonesia selalu mampu memberikan pangan kepada rakyat
selama potensi ini dipelihara secara berkelanjutan.
Kalau politik pangan sebagai pilar kesejahteraan nasional menghadirkan regulasi yang berpihak kepada petani, maka perspektif penyelamatan dan optimalisasi adalah upaya memanfaatkan kekayaan alam pertanian untuk petani. Hasilnya bukan hanya dinikmati oleh kaum pemodal.
Kalau politik pangan sebagai pilar kesejahteraan nasional menghadirkan regulasi yang berpihak kepada petani, maka perspektif penyelamatan dan optimalisasi adalah upaya memanfaatkan kekayaan alam pertanian untuk petani. Hasilnya bukan hanya dinikmati oleh kaum pemodal.
Keberadaan
dunia pertanian nasional merupakan aset anak negeri yang akan kita wariskan
kepada generasi mendatang. Pertanyaannya adalah, apakah dunia pertanian 100
tahun ke depan akan bisa menjawab tantangan kebutuhan pangan dunia? Tergantung
saat ini apa yang kita lakukan.
Jika kita
menghancurkan pertanian sendiri, maka generasi ke depan akan selalu mengingat
bahwa penyebab kelaparan dan kemiskinan adalah kita saat ini yang
mengeksploitasi pertanian secara tersistem dan terencana. Terutama oleh pemilik
modal yang selalu haus dengan keuntungan tanpa melihat petani dan peternak
lokal yang telah susah payah membangun negeri ini dari desa.
SBY tidak
perlu marah soal kenaikan harga, biarkan petani dan peternak ikut menikmati
jerih payah mereka. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar