|
SUARA
MERDEKA, 17 Juli 2013
SUASANA menjelang Idul Fitri biasa ditandai oleh
melonjaknya harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok, dan masyarakat mulai
merasakan lonjakan harga itu jauh hari sebelum memasuki Ramadan. Akan halnya
daging sapi, kenaikan harga dipastikan terjadi akibat kemeningkatan volume
permintaan, padahal pasokan dari dalam negeri relatif tidak banyak berubah.
Saat ini harga daging sapi berada pada kisaran Rp 90
ribu-Rp 95 ribu per kg. Angka itu sudah mengalami penurunan dari harga
tertinggi Rp 150 ribu beberapa waktu lalu. Namun berbagai kalangan
memperkirakan menjelang Idul Fitri lonjakan harga daging sapi bisa menembus
angka Rp 120 ribu per kg.
Seandainya perkiraan itu jadi kenyataan maka sangat
memberatkan masyarakat. Pada harga sekarang ini saja konsumen masih menganggap
terlalu tinggi. Perlu ada campur tangan pemerintah untuk mengantisipasi
lonjakan harga tersebut.
Untuk mengantisipasi lonjakan harga menjelang Lebaran,
pemerintah kembali membuka keran impor daging sapi yang sementara dihentikan
pada awal 2013. Pemerintah, melalui Menteri Perdagangan, telah menugaskan Bulog
mengimpor daging sapi guna menstabilkan harga dan menjaga stok konsumsi selama
Ramadan (SM, 13/7/13).
Rencana pemerintah kembali membuka keran impor daging sapi
pasti berdampak negatif pada peternak sapi potong yang tersebar di berbagai
daerah. Padahal saat ini mereka sedang bergairah menikmati kemembaikan
harga. Demikian pula kegiatan pendukungnya, seperti bergairahnya
aktivitas pemotongan ternak di berbagai rumah potong hewan (RPH).
Saat ini peternak mulai bisa tersenyum setelah pada
tahun-tahun sebelumnya harus menangis karena menderita kerugian besar akibat
harga ternak yang sangat rendah. Karena itu, saat ini pemerintah harus lebih
bijak dalam menentukan besaran ideal volume impor.
Jawa Tengah sebagai salah satu pemasok terbesar daging sapi
nasional, setelah Jawa Timur, menunjukkan jumlah ternak sapi potong 1.937.661
ekor, dengan 966.242 rumah tangga peternak (sensus 2011). Jumlah besar
peternak sapi potong tersebut perlu mendapat perhatian dari pemerintah supaya
kebijakan impor daging sapi tidak merugikan mereka.
Belum lagi di Jawa Tengah banyak peternak memanfaatkan
fasilitas kredit bersubsidi dari pemerintah melalui program Kredit Usaha
Pembibitan Sapi (KUPS) dan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE).
Tahun 2012 program KKPE menggulirkan dana Rp 112,5 miliar lebih untuk peternak
di provinsi ini, dan melalui program KUPS tidak kurang dari Rp 5,6 miliar.
Posisi Sulit
Seandainya peternak mengalami kerugian sebagai dampak
kebijakan impor daging sapi maka nasib dana kredit miliaran rupiah tersebut
sangat mengkhawatirkan. Bisa terjadi kemacetan akibat peternak tidak mampu
membayar cicilan. Karena itu, pemerintah juga harus mempersiapkan kebijakan antisipasi
terjadinya kerugian bagi peternak, terkait rencana kembali membuka keran impor
daging sapi.
Dibukanya kembali keran impor daging sapi oleh pemerintah
memang sebuah keniscayaan dalam rangka menstabilkan harga dan menjaga stok
daging sapi agar cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen, terlebih terkait
dengan Lebaran.
Namun menyangkut besaran volume harus dibicarakan
lebih jauh supaya tidak secara drastis menurunkan harga daging sapi yang secara
simultan akan menurunkan harga ternak sapi, sehingga merugikan peternak.
Seyogianya distribusi daging impor khusus untuk memenuhi
kebutuhan hotel, restoran, dan katering (terma internal: horeka) tidak perlu masuk pasar ‘’becek’’ agar tidak berdampak
secara langsung pada harga jual sapi peternak yang saat ini tengah bergairah.
Pemerintah harus duduk bersama dengan beberapa asosiasi terkait, seperti PPSKI,
ASPIDI, Lembaga Perlindungan Konsumen atau asosiasi lain dalam rangka
menentukan angka ideal volume impor, teknik pendistribusian dan berbagai
permasalahan yang terkait. Pelibatan pihak terkait niscaya membuat
kebijakan yang diambil akurat dan dapat dipahami, serta mendorong kebijakan
tersebut tidak menimbulkan kerugian pada salah satu pihak.
Pemerintah harus menyiapkan kebijakan antisipasi jika
peternak pada akhirnya tetap merugi sebagai dampak kebijakan impor daging sapi.
Pola itu antara lain dengan memberikan subsidi pakan, sebagaimana dilakukan
pada petani dengan memberikan subsidi pupuk, atau kebijakan BLT sebagai
antisipasi kenaikan BBM beberapa waktu lalu.
Pemerintah memang berada pada posisi sulit. Pada satu sisi
harga daging sapi harus distabilkan supaya konsumen mempunyai daya beli, namun
pada sisi lain peternak juga harus diperhatikan supaya tidak dirugikan. Mari
kita tunggu kebijakan yang benar-benar ideal untuk semua pihak. ●
Cara Bermain Slot China Bandar Sbobet Yuk Gabung Disini aja.. Penuh Dengan Kejutan Bonus Berlimpah Setiap Hari!!!
BalasHapus