|
SUARA
MERDEKA, 17 Juli 2013
“Pertanyaannya, kenapa jalanan di negeri ini
mudah rusak? Terlebih jalur sestrategis pantura Jawa?”
TIAP
kali Lebaran hampir tiba, masyarakat di Pulau Jawa selalu disuguhi pemandangan
perbaikan jalan, terutama di jalur pantai utara, dari Jakarta hingga Surabaya.
Tiap tahun pemerintah juga selalu berjanji, H-10 jalur pantura siap dilewati
pemudik. Perta-nyaannya, kenapa jalanan di negeri ini mudah rusak? Terlebih
jalur sestrategis pantura Jawa?
Jawabnya
barangkali ada dua. Pertama; jalan itu sengaja dibuat tidak awet supaya
ada anggaran abadi untuk proyek itu. Siapa pun sepakat bahwa sumber korupsi
berada di wilayah proyek besar seperti itu. Kedua; karena ketidaktegasan
pemerintah menerapkan kebijakan kelaikan kendaraan yang melewati jalanan.
Lihat
saja, jembatan timbang kini jadi sumber ‘’proyek’’ dana abadi karena hanya
menarik retribusi dan denda, dan tidak berfungsi mencegah kendaraan yang lewat
melebihi batasan tonase, yang berisiko merusak jalan. Lihatlah, ratusan truk
tronton berbaris kayak siput dengan berat muatan di atas 30 ton tiap hari melintasi
jalur pantura dan jalur strategis lain.
Akibatnya
jalan cepat rusak, dan kemacetan memanjang tiap hari. Yang untung oknum pejabat
yang memberi izin dan pengusaha yang membawa barang dagangan. Yang rugi
masyarakat pengguna jalan lain yang harus antre di belakang tronton yang
berjalan seperti siput.
Jalur
jalan pantura sepanjang sekitar 1.300 kilometer lebih dari Anyer Banten hingga
Banyuwangi Jatim itu menjadi jalur moda transportasi darat terpenting di
Indonesia, khususnya di Jawa. Data yang ada yang menyebutkan, tiap hari tak
kurang 40 ribu unit kendaraan, skala kendaraan berat dan ringan, melintas di
jalan yang menyusuri garis pantai di Jawa tersebut. Kuantitas kendaraan itu tak
sebanding dengan desain kapasitas badan jalan yang maksimal bisa dilintasi
sekitar 25 ribu unit kendaraan tiap hari.
Karenanya,
saya berharap gubernur dan bupati di Jawa, syukur mengajak Menteri PU, untuk
jalan-jalan menyusuri jalanan (utama) di Jawa. Tujuannya agar mengalami sendiri
betapa susahnya rakyat mencari nafkah kalau harus melewati jalan raya.
Mohon
dinikmati betapa padat arus lalu lintas dan buruk mutu jalan. Lihat saja,
jalanan menjadi rebutan proyek sehingga tidak pernah selesai. Akibatnya lalu
lintas nyaris lumpuh karena jarak normal yang mestinya ditempuh 2 jam, bisa 4
jam atau lebih. Kenapa jalan tidak dapat dibuat bermutu dan tahan lama? Adakah
kesengajaan hingga menjadi objek proyek belaka? Mengapa jalan tol lebih tahan
lama dan bagus?
Belum
lagi kalau kita lewat jalan antarkecamatan atau antardesa maka kita akan
menyaksikan betapa sengsara bepergian di wilayah Indonesia ini. Jalan bukan
lagi berlubang melainkan bagai kubangan kerbau yang membahayakan pengendara
serta mengganggu kenyamanan dan keselamatan.
Nyaman Aman
Kalau
kita lihat, jalanan saat ini bagaikan hutan rimba liar, Truk tronton puluhan
ton melenggang, bahkan sampai di jalan kecamatan. Tampak bahwa aturan main
tidak ditegakkan, di sisi lain tidak ada perencanaan dan koordinasi. Mestinya
jalan dibuat awet, kalau pun diperbaiki harus ada koordinasi, semisal ada jalur
alternatif yang nyaman dan aman sehingga tidak mengganggu aktivitas ekonomi
masyarakat.
Jalan
ibarat urat nadi aliran darah. Jika aliran darah tidak lancar maka tubuh akan
terkena sumbatan dan mengakibatkan stroke. Karena stroke itu penyakit mematikan
maka jalanan di negeri ini yang jelek dan berlubang di jalan utama, juga mampu
membunuh ratusan jiwa. Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Naufal
Yahya menyebutkan selama 2011 jumlah angka kecelakaan lalu-lintas di Jawa
Tengah cukup tinggi, yakni 19.380 kasus, telah menyebabkan 4.660 orang
meninggal dunia.
Kendati
rakyat tidak pernah telat bayar pajak, pelayanan sosial tidak pernah beres.
Terdapat minimal 10 karakteristik jalan yang demokratis, democratic street yang dikonsepsikan Francis, yakni accessibility: jalan untuk diakses siapa
pun; equity: pemanfaatannya
didistribusikan merata dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat; livable: memiliki iklim mikro yang
menyamankan; publicness: membuka
seluas-luasnya untuk berkembangnya budaya publik; dan vitality: memberikan tantangan untuk bereksplorasi, mengembangkan
diri, dan meningkatkan kompetensi.
Kemudian
identity: memberikan peluang
tampilnya karakter khas; safety and child
use: menjamin keselamatan dan keamanan bagi anak-anak; diversity: terbuka bagi keberadaan pemakai dari berbagai latar
belakang tanpa ada dominasi kelompok tertentu atas yang lain; participation and modification: membuka
kebebasan publik untuk menggunakan, mengubah, dan memberikan partisipasi; dan sense of control: menumbuhkan rasa
adanya kontrol dan rasa ikut memiliki.
Sudahkah
kesepuluh aspek itu muncul pada jalanan di Jawa? Silakan para pejabat
jalan-jalan dulu keliling
Jawa, dan jangan pakai pengawalan. Syukur kalau mau
naik angkutan umum supaya dapat merasakan ‘’amanat
penderitaan rakyat’’. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar