|
KOMPAS,
22 Juli 2013
Mengiringi kesuksesan revolusi shale-gas—walaupun ditentang oleh
sejumlah kalangan di dalam negeri, terutama aktivis lingkungan—Pemerintah
Amerika Serikat akhirnya mengumumkan izin bersyarat kepada proyek LNG Freeport
di Texas untuk mengekspor gas bumi ke negara-negara yang tidak memiliki
perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan AS.
Freeport mendapat izin mengekspor
gas 1,4 miliar kaki kubik per hari selama 20 tahun. Ini adalah pemberian izin
yang kedua, sebelumnya Terminal LNG Sabine Pass di Lousiana diberi otorisasi
untuk mengekspor 2,2 miliar kaki kubik per hari. Hingga hari ini, ekspor belum berjalan
karena masih menghadapi beberapa kendala domestik.
Seandainya ekspor gas dari AS sudah
berjalan, diperkirakan akan terjadi pergeseran peta geo-energi yang berdampak
terhadap kebijakan energi di sejumlah negara, yang berimbas terhadap harga
komoditas, baik gas maupun minyak bumi.
Keberhasilan
revolusi shale-gas AS akan segera diikuti oleh beberapa negara lain,
seperti Arab, China, bahkan Indonesia. Arab Saudi sudah mencanangkan rencana
eksplorasi shale-gas yang diklaim memiliki potensi terbesar kelima di
dunia. Tidak mau kalah, China juga mengklaim memiliki potensi
cadangan shale-gas, yang katanya lebih besar daripada AS dan berambisi
memproduksi 100 miliar kubik meter gas sebelum 2020.
Indonesia melalui Pertamina sudah
menandatangani kontrak bagi hasil shale-gas yang pertama pada 15 Mei
2013. Pemerintah RI memprediksi potensi cadangan shale-gas di Indonesia mencapai 574 triliun kaki kubik,
tersebar di 60 cekungan. Kendati banyak kalangan yang meragukan angka-angka
tersebut, Pemerintah Indonesia telah menerima sedikitnya 75 proposal dari
sejumlah perusahaan asing untuk mengembangkan shale-gas di Indonesia. Diperkirakan potensi shale-gas di Indonesia dapat
dikembangkan secara komersial dalam satu dasawarsa.
Australia
jadi sekutu AS?
Di luar dugaan, dalam waktu yang
tidak terlalu lama, Australia siap jadi sekutu AS membangun poros energi baru
sebagai sentrum penghasil dan pengekspor gas bumi yang penting di Asia Pasifik.
Australia dewasa ini memiliki cadangan gas nomor 12 terbesar di dunia, yaitu
110 triliun kaki kubik dan akan terus bertambah dengan ditemukannya beberapa
cekungan migas baru.
Bahkan Australia kini sudah menjadi
negara pengekspor gas keempat terbesar di dunia dan berkemas jadi salah satu
sentrum gas dunia. Australia tengah mempersiapkan pembangunan tujuh kilang LNG
baru dengan anggaran 200 miliar dollar AS. Apabila kelak seluruh kilang siap
berproduksi, Australia sanggup mengekspor 95,7 juta ton per tahun, lima kali
lipat volume ekspor Indonesia sekarang.
Kesuksesan AS mengembangkan shale-gas diikuti oleh
keberuntungan luar biasa dalam meningkatkan cadangan dan produksi minyak bumi.
Sejak 2011, produksi minyak AS meningkat sekitar 30 persen dari 5,5 juta barrel
per hari menjadi 7,2 juta barrel per hari. International
Energy Agency (IEA) memprediksi, pada 2017, produksi minyak AS akan
melampaui produksi minyak Arab Saudi.
Sementara itu,
mengiringi booming minyak di AS, Irak diprediksi akan bangkit dan
mampu menaikkan produksi hingga 6 juta barrel per hari pada 2020, bahkan bisa
melebihi 8 juta barrel per hari pada 2035, dengan ongkos produksi jauh lebih
murah dibandingkan di AS. IEA memprediksi, dalam dua dekade, Irak akan
menggeser kedudukan Rusia sebagai negara pengekspor minyak terbesar kedua di
dunia.
Kendati produksi minyak di AS dan
Irak akan mengalami pelonjakan yang luar biasa, kapasitas produksi minyak di
kawasan lain—seperti Arab Saudi, sebagian negara OPEC, bahkan
Indonesia—diprediksi akan terus turun, sehingga banyak kalangan percaya harga
minyak dunia tak bakal jatuh. Sebaliknya cenderung meningkat walaupun tidak
sedahsyat perkiraan awal.
Pertumbuhan ekonomi negara-negara
Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memang tidak setinggi China. Namun, sebagian
bertahan pada kisaran 6 persen sehingga permintaan energi tetap meningkat
secara konsisten. Sementara itu, kemampuan ekspor negara-negara OPEC, terutama
Arab Saudi, tertekan karena melonjaknya kebutuhan domestik.
Dampak
bagi Indonesia
Dari kontroversi di atas, dengan
fenomena booming minyak AS
ditambah Irak, harga minyak dunia dipercaya tidak akan turun bahkan cenderung
naik kendati tidak sedahsyat perkiraan awal. Sebagian analis IEA menduga harga
minyak dunia mencapai 125 dollar AS per barrel pada 2035, bandingkan harga
minyak Brent pada hari ini yang bergerak sekitar 100 dollar AS per barrel.
Bagaimana dengan Indonesia?
Kenaikan harga BBM baru-baru ini memang untuk sementara berhasil menekan volume
impor minyak mentah dan BBM. Namun, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sekitar
6 persen per tahun, konsumsi BBM akan meningkat secara konsisten. Sayangnya hal
itu belum diimbangi peningkatan produksi migas yang sepadan sehingga defisit
neraca perdagangan migas yang pada tahun 2012 mencapai 5,6 miliar dollar AS
akan sulit ditekan, bahkan cenderung terus membesar.
Serupa dengan minyak, dampak booming gas—jika AS benar- benar
merealisasikan ekspor gas ke negara-negara non-FTA, ditambah membanjirnya gas
dari Australia—adalah penurunan harga gas, terutama bagi kontrak-kontrak gas
baru. Indonesia terancam kehilangan devisa cukup signifikan apabila
proyek-proyek gas baru, seperti Masela, Donggi-Senoro, dan East Natuna,
terlambat dan baru berproduksi selepas 2017.
Tak heran bila para kontraktor
pengembang gas di Indonesia cenderung mengulur-ulur waktu pengembangan lapangan
serta meminta berbagai tambahan insentif. Hal itu karena para investor khawatir
setelah 2020 harga gas bumi, khususnya untuk ekspor, akan jatuh di bawah 10
dollar AS per seribu kaki kubik. Adapun harga gas domestik tidak beranjak naik,
sementara semakin banyak volume gas dibutuhkan di dalam negeri. Ini adalah
kesempatan untuk ”memaksa” kontraktor mengalokasikan gas ke dalam negeri
sebanyak mungkin.
Pergeseran peta ”geo-energi” dunia
tampaknya belum berpihak kepada peningkatan cadangan migas Indonesia. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar