Selasa, 23 Juli 2013

Ekuilibrium Baru Rupiah dan Suku Bunga

Ekuilibrium Baru Rupiah dan Suku Bunga
A Tony Prasetiantono ;  Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM
KOMPAS, 22 Juli 2013


Rupiah masih terus melemah hingga mencapai Rp 10.129 per dollar AS, sedangkan level terendah adalah Rp 10.205 per dollar AS. Mengapa rupiah masih melemah, padahal suku bunga acuan BI Rate sudah dinaikkan menjadi 6,50 persen? Apa yang masih bisa kita lakukan?

Pelemahan rupiah atau penguatan dollar AS tentunya disebabkan oleh dua pihak, dari sisi Indonesia dan dari sisi Amerika Serikat (AS). Kita bahas dulu dari sisi AS. Bermula dari data yang menunjukkan mulai tercipta lapangan pekerjaan baru pada Mei 2013 sehingga level pengangguran turun menjadi 7,6 persen. Turun drastis dari level tertinggi mereka 10 persen.

Karena tanda positif ini, Gubernur Bank Sentral AS (Fed) Ben S Bernanke memberi sinyal menurunkan laju kebijakan quantitative easing (QE). Ini adalah kebijakan membeli kembali obligasi Pemerintah AS sebesar 40 miliar dollar AS per bulan. Tujuannya untuk menstabilkan harga obligasi tersebut, sekaligus memberi suntikan likuiditas di pasar, agar perekonomian tumbuh. Melimpahnya likuiditas dollar AS di pasar uang tersebut menyebabkan kurs dollar AS melemah.

Karena itu, jika kebijakan QE dikurangi (suatu saat distop), terbitlah optimisme pada perekonomian AS dalam jangka pendek. Respons positif ini diterjemahkan menjadi menguatnya kurs dollar AS dan indeks saham Dow Jones di New York. Sejak Mei 2013, indeks saham cenderung menguat ke 15.500.
Kurs dollar AS juga praktis menguat terhadap hampir semua mata uang. Dari data Bloomberg (21 Juli), dollar AS menguat atas rupiah dalam setahun terakhir hingga 8 persen (dari kurs rupiah terkuat Rp 9.448 dan terlemah Rp 10.205 per dollar AS). Sebagai perbandingan, dalam setahun ini, dollar AS menguat atas yen Jepang hingga 33 persen, baht Thailand (22 persen), rupee India (19 persen), won Korea (10 persen), ringgit Malaysia (9 persen), peso Filipina (9 persen), dollar Singapura (6 persen), yuan China (4 persen), dan dollar Hongkong (hanya 0,2 persen). Posisi rupiah tidak jelek-jelek amat.

Kebijakan pengurangan QE tersebut segera menuai kritik, di antaranya dari Paul Krugman (The New York Times, 23 Juni). Krugman berpendapat, perekonomian AS masih perlu stimulus agar bisa keluar dari krisis. Suku bunga acuan yang naik dari 1,7 persen menjadi 2,65 persen dikritik bisa menghambat pemulihan ekonomi. Kebijakan likuiditas longgar solusi penting bagi AS.

Bernanke menjelaskan, dia akan mereduksi kebijakan QE apabila prospek perekonomian AS memang tampak membaik serta inflasi di bawah 2 persen. Sejauh ini, inflasi AS hanya 1,4 persen, tetapi pertumbuhan ekonominya hanya 1,6 persen pada triwulan I-2013. Karena itu, Bernanke diduga belum akan mengurangi kebijakan QE-nya. Apresiasi dollar AS belum berlanjut.

Meski demikian, tidak berarti rupiah akan secara otomatis menguat ke level di bawah Rp 10.000 per dollar AS. Mengapa? Situasi sekarang berbeda dengan dua tahun lalu, saat rupiah melesat hingga di bawah Rp 9.000 per dollar AS. Hal yang paling membedakan adalah tekanan inflasi yang semakin besar serta defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan yang sulit ditahan.

Dua atau tiga tahun yang lalu, kita masih menikmati harga komoditas tinggi. Hal ini tidak lagi sehingga neraca perdagangan kita defisit. Bahkan, tahun ini saya perkirakan defisit mencapai 4 miliar dollar AS, situasi yang tak pernah kita alami sebelumnya. Defisit tahun lalu 1,6 miliar dollar AS.
Dari kondisi ini, kita harus menyadari dua hal. Pertama, rupiah memang harus menemukan ekuilibrium (keseimbangan) barunya, yang kemungkinan besar di atas level Rp 10.000 per dollar AS. Kedua, tingkat suku bunga juga perlu menemukan ekuilibrium baru karena tekanan inflasi yang besar sesudah harga bahan bakar minyak dinaikkan.

Kedua hal tersebut memang pahit. Sesudah AS terkena krisis subprime mortgage (2008-2009), rupiah terus menguat hingga Rp 8.600 per dollar AS (2011) berkat kinerja bagus neraca pembayaran dan inflasi rendah. Sementara itu, BI juga hampir berhasil menciptakan rezim suku bunga rendah, dengan penurunan BI Rate terus-menerus hingga 5,75 persen−, terendah dalam sejarah perekonomian Indonesia. Pencapaian ini yang menyebabkan kita ”berbunga-bunga” dan mulai merancang program redenominasi rupiah. Namun, asa tersebut kini agak tersendat.

Rupiah tidak punya urgensi lagi untuk menguat ke level, katakanlah, Rp 9.000-an per dollar AS. Alasannya, neraca perdagangan kita perlu insentif dari depresiasi rupiah. Kita perlu dorong daya saing ekspor serta mengurangi laju impor melalui rupiah yang sedikit melemah. Kalau rupiah menguat sendirian, kita akan kalah bersaing dengan negara-negara emerging market lainnya.

Masalah terbesar di seputar pelemahan rupiah adalah faktor psikologis. Pelemahan rupiah dari Rp 8.600-an (2011), lalu Rp 9.400-an (2012), dan Rp 10.000-an (2013) memang bisa menimbulkan interpretasi menyeramkan. Padahal, depresiasi rupiah tidak sendirian. Situasi ini harus disosialisasikan BI dan pemerintah kepada pelaku bisnis dan masyarakat sehingga lebih tenteram.

Soal suku bunga, kini terjadi semacam dualisme. Di satu sisi, BI Rate masih di level 6,5 persen, tetapi dalam praktik perbankan, suku bunga deposito saat ini sudah 7 persen ke atas. BI menghadapi dilema. Di satu sisi, BI tak ingin menaikkan lagi BI Rate agar tak membebani kinerja kredit dan pertumbuhan ekonomi. Namun, jika tidak dinaikkan, BI Rate seperti tak berwibawa di mata pasar. Pasar sudah menetapkan sendiri suku bunga sesuai kebutuhan, tanpa menunggu BI.


Saya merekomendasikan BI melanjutkan dulu instrumen lelang foreign exchange swap yang pekan lalu menyerap 600 juta dollar AS. Sambil menunggu yang terjadi di AS,− apakah kebijakan QE mau diteruskan atau dikurangi,− kita tunggu respons pasar terhadap kurs rupiah. Jika rupiah masih melemah dan likuiditas perbankan tertekan, BI Rate terpaksa harus dinaikkan lagi secara konservatif (25 basis poin) bulan depan. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar