|
KOMPAS,
22 Juli 2013
Rupiah masih terus melemah hingga
mencapai Rp 10.129 per dollar AS, sedangkan level terendah adalah Rp
10.205 per dollar AS. Mengapa rupiah masih melemah, padahal suku bunga acuan BI
Rate sudah dinaikkan menjadi 6,50 persen? Apa yang masih bisa kita lakukan?
Pelemahan rupiah atau penguatan
dollar AS tentunya disebabkan oleh dua pihak, dari sisi Indonesia dan dari sisi
Amerika Serikat (AS). Kita bahas dulu dari sisi AS. Bermula dari data yang
menunjukkan mulai tercipta lapangan pekerjaan baru pada Mei 2013 sehingga level
pengangguran turun menjadi 7,6 persen. Turun drastis dari level tertinggi
mereka 10 persen.
Karena tanda positif ini, Gubernur
Bank Sentral AS (Fed) Ben S Bernanke memberi sinyal menurunkan laju
kebijakan quantitative easing (QE).
Ini adalah kebijakan membeli kembali obligasi Pemerintah AS sebesar 40 miliar
dollar AS per bulan. Tujuannya untuk menstabilkan harga obligasi tersebut,
sekaligus memberi suntikan likuiditas di pasar, agar perekonomian tumbuh.
Melimpahnya likuiditas dollar AS di pasar uang tersebut menyebabkan kurs dollar
AS melemah.
Karena itu, jika kebijakan QE
dikurangi (suatu saat distop), terbitlah optimisme pada perekonomian AS dalam
jangka pendek. Respons positif ini diterjemahkan menjadi menguatnya kurs dollar
AS dan indeks saham Dow Jones di New York. Sejak Mei 2013, indeks saham
cenderung menguat ke 15.500.
Kurs dollar AS juga praktis menguat
terhadap hampir semua mata uang. Dari data Bloomberg (21 Juli), dollar AS
menguat atas rupiah dalam setahun terakhir hingga 8 persen (dari kurs rupiah
terkuat Rp 9.448 dan terlemah Rp 10.205 per dollar AS). Sebagai perbandingan,
dalam setahun ini, dollar AS menguat atas yen Jepang hingga 33 persen, baht
Thailand (22 persen), rupee India (19 persen), won Korea (10 persen), ringgit
Malaysia (9 persen), peso Filipina (9 persen), dollar Singapura (6 persen),
yuan China (4 persen), dan dollar Hongkong (hanya 0,2 persen). Posisi rupiah
tidak jelek-jelek amat.
Kebijakan pengurangan QE tersebut
segera menuai kritik, di antaranya dari Paul Krugman (The New York Times, 23 Juni). Krugman berpendapat, perekonomian AS
masih perlu stimulus agar bisa keluar dari krisis. Suku bunga acuan yang naik
dari 1,7 persen menjadi 2,65 persen dikritik bisa menghambat pemulihan ekonomi.
Kebijakan likuiditas longgar solusi penting bagi AS.
Bernanke menjelaskan, dia akan
mereduksi kebijakan QE apabila prospek perekonomian AS memang tampak membaik
serta inflasi di bawah 2 persen. Sejauh ini, inflasi AS hanya 1,4 persen,
tetapi pertumbuhan ekonominya hanya 1,6 persen pada triwulan I-2013. Karena
itu, Bernanke diduga belum akan mengurangi kebijakan QE-nya. Apresiasi dollar
AS belum berlanjut.
Meski demikian, tidak berarti
rupiah akan secara otomatis menguat ke level di bawah Rp 10.000 per dollar
AS. Mengapa? Situasi sekarang berbeda dengan dua tahun lalu, saat rupiah melesat
hingga di bawah Rp 9.000 per dollar AS. Hal yang paling membedakan adalah
tekanan inflasi yang semakin besar serta defisit perdagangan dan defisit
transaksi berjalan yang sulit ditahan.
Dua atau tiga tahun yang lalu, kita
masih menikmati harga komoditas tinggi. Hal ini tidak lagi sehingga neraca
perdagangan kita defisit. Bahkan, tahun ini saya perkirakan defisit mencapai 4
miliar dollar AS, situasi yang tak pernah kita alami sebelumnya. Defisit tahun
lalu 1,6 miliar dollar AS.
Dari kondisi ini, kita harus
menyadari dua hal. Pertama, rupiah memang harus menemukan ekuilibrium
(keseimbangan) barunya, yang kemungkinan besar di atas level Rp 10.000 per
dollar AS. Kedua, tingkat suku bunga juga perlu menemukan ekuilibrium baru
karena tekanan inflasi yang besar sesudah harga bahan bakar minyak dinaikkan.
Kedua hal tersebut memang pahit.
Sesudah AS terkena krisis subprime
mortgage (2008-2009), rupiah terus menguat hingga Rp 8.600 per dollar
AS (2011) berkat kinerja bagus neraca pembayaran dan inflasi rendah. Sementara
itu, BI juga hampir berhasil menciptakan rezim suku bunga rendah, dengan
penurunan BI Rate terus-menerus hingga 5,75 persen−, terendah dalam sejarah
perekonomian Indonesia. Pencapaian ini yang menyebabkan kita ”berbunga-bunga”
dan mulai merancang program redenominasi rupiah. Namun, asa tersebut kini agak
tersendat.
Rupiah tidak punya urgensi lagi
untuk menguat ke level, katakanlah, Rp 9.000-an per dollar AS. Alasannya,
neraca perdagangan kita perlu insentif dari depresiasi rupiah. Kita perlu
dorong daya saing ekspor serta mengurangi laju impor melalui rupiah yang
sedikit melemah. Kalau rupiah menguat sendirian, kita akan kalah bersaing
dengan negara-negara emerging market lainnya.
Masalah terbesar di seputar
pelemahan rupiah adalah faktor psikologis. Pelemahan rupiah dari Rp 8.600-an
(2011), lalu Rp 9.400-an (2012), dan Rp 10.000-an (2013) memang bisa
menimbulkan interpretasi menyeramkan. Padahal, depresiasi rupiah tidak
sendirian. Situasi ini harus disosialisasikan BI dan pemerintah kepada pelaku bisnis
dan masyarakat sehingga lebih tenteram.
Soal suku bunga, kini terjadi
semacam dualisme. Di satu sisi, BI Rate masih di level 6,5 persen, tetapi dalam
praktik perbankan, suku bunga deposito saat ini sudah 7 persen ke atas. BI
menghadapi dilema. Di satu sisi, BI tak ingin menaikkan lagi BI Rate agar tak
membebani kinerja kredit dan pertumbuhan ekonomi. Namun, jika tidak dinaikkan,
BI Rate seperti tak berwibawa di mata pasar. Pasar sudah menetapkan sendiri
suku bunga sesuai kebutuhan, tanpa menunggu BI.
Saya merekomendasikan BI
melanjutkan dulu instrumen lelang foreign exchange swap yang pekan
lalu menyerap 600 juta dollar AS. Sambil menunggu yang terjadi di AS,− apakah
kebijakan QE mau diteruskan atau dikurangi,− kita tunggu respons pasar terhadap
kurs rupiah. Jika rupiah masih melemah dan likuiditas perbankan tertekan, BI
Rate terpaksa harus dinaikkan lagi secara konservatif (25 basis poin) bulan
depan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar