|
OKEZONENEWS,
17 Juli 2013
Pembangunan
infrastruktur di Indonesia terus menunjukkan kemajuan. Setelah tahun 2009 lalu
diresmikan Jembatan Nasional Suramadu yang menghubungkan antara Surabaya (Pulau
Jawa) dengan Bangkalan (Pulau Madura) sepanjang 5,438 km, kini pemerintah
tengah mempersiapkan pembangunan infrastruktur besar lain berupa Jembatan Selat
Sunda. Jembatan ini akan menghubungkan Pulau Jawa (Banten) dengan Pulau
Sumatera (Lampung). Keseriusan pemerintah dalam merealisasikan pembangunan
Jembatan Selat Sunda ditunjukkan dengan melakukan uji kelayakan Jembatan Selat
Sunda.
Keberadaan Jembatan Selat Sunda akan meringankan beban Pelabuhan Bakauheni (Lampung) dan Merak (Banten) yang saat ini sudah terlalu padat. Diperkirakan setiap hari rata-rata ada sekira 3.500 kendaraan dan 35.000 orang melintasi kedua pelabuhan tersebut. Selain itu, jika terjadi gangguan di laut seperti cuaca ekstrim, maka puluhan kapal tidak bisa beroperasi dengan maksimal sehingga antrean panjang pun terjadi.
Keberadaan Jembatan Selat Sunda akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi pertumbuhan perekonomian Banten, Lampung dan provinsi di sekitarnya. Jembatan Selat Sunda akan menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia karena dalam proses pembangunannya memerlukan keuletan yang luar biasa yang disertai teknologi tingkat tinggi.
Nasib megaproyek Jembatan Selat Sunda semakin jelas. Pemerintah berketetapan merealisasikan proyek senilai lebih dari Rp100 triliun. Berbagai kendala dan perbedaan pandangan seputar proyek tersebut akan segera diatasi sehingga proyek fisik jembatan sepanjang 29 km bisa segera dimulai.
Hal itu ditunjang oleh Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yang salah satunya mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi untuk menciptakan konektivitas dan melancarkan logistik. Kehadiran Jembatan Selat Sunda juga diarahkan untuk mengembangkan kawasan sekitar mulut jembatan, yakni Banten dan Lampung. Rencana itu untuk menarik minat investor, sehingga meringankan beban pemerintah dalam hal pembiayaan.
Kehadiran jembatan antarpulau bukanlah proyek mercu suar. Sejumlah negara sudah lama memasuki era tersebut, dan telah merasakan dampak positif bagi perekonomian dan integrasi nasional. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyebutkan Jembatan Selat Sunda layak untuk dibangun pemerintah.
Bahkan, Malaysia berhasrat membangun Jembatan Selat Malaka, yang menghubungkan dengan Indonesia. Hal itu mencerminkan, betapa negara tetangga telah melihat pentingnya konektivitas regional guna mengambil manfaat bagi perekonomiannya. Dengan demikian, semua masalah yang melingkupi rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda hendaknya segera dituntaskan pemerintah.
Gagasan menyatukan Jawa dan Sumatera melalui sebuah jembatan tentu sesuatu yang patut untuk diapresiasi. Secara fungsional kehadiran Jembatan Selat Sunda akan membawa banyak manfaat bagi kepentingan nasional. Apalagi, di dalam MP3EI telah ditetapkan bahwa penguatan konektivitas nasional merupakan salah satu strategi atau pilar utama, yang di dalamnya tercakup proyek Jembatan Selat Sunda.
Mobilitas manusia, barang, dan jasa antara Jawa dan Sumatera, selama ini rawan gangguan, sebab, hanya menggantungkan pada pelabuhan penyeberangan Merak-Bakauheni. Faktor alam, kurangnya daya dukung infrastruktur pelabuhan, dan minimnya sarana kapal penyeberangan, sangat mengganggu kelancarannya. Kondisi tersebut mencerminkan konektivitas yang lemah. Hal itu jelas menimbulkan ekonomi biaya tinggi, melemahkan daya saing, dan juga memperlambat penanggulangan kemiskinan.
Kehadiran jembatan itu tentu akan memudahkan mobilitas 186 juta penduduk Jawa dan Sumatera, atau 80 persen dari total populasi Indonesia. Di samping itu juga akan memperlancar distribusi dari 151 kabupaten/kota di Sumatera menuju 118 kabupaten/kota di Jawa dan sebaliknya. Sejalan dengan itu pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa dan Sumatera akan tersambung.
Manfaat lain dari pembangunan Jembatan Selat Sunda adalah munculnya wilayah pertumbuhan baru, terutama di sekitar mulut jembatan dan area sepanjang jalan akses menuju jembatan. Hal ini dapat membantu menyebarkan manfaat pembangunan secara luas melalui pertumbuhan yang inklusif di wilayah-wilayah setempat. Dengan demikian, perekonomian di kawasan itu akan berkembang, dan dengan sendirinya masyarakat akan sejahtera. Pada akhirnya, ketimpangan pembangunan dapat diatasi, dan kemiskinan pun berkurang. ●
Keberadaan Jembatan Selat Sunda akan meringankan beban Pelabuhan Bakauheni (Lampung) dan Merak (Banten) yang saat ini sudah terlalu padat. Diperkirakan setiap hari rata-rata ada sekira 3.500 kendaraan dan 35.000 orang melintasi kedua pelabuhan tersebut. Selain itu, jika terjadi gangguan di laut seperti cuaca ekstrim, maka puluhan kapal tidak bisa beroperasi dengan maksimal sehingga antrean panjang pun terjadi.
Keberadaan Jembatan Selat Sunda akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi pertumbuhan perekonomian Banten, Lampung dan provinsi di sekitarnya. Jembatan Selat Sunda akan menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia karena dalam proses pembangunannya memerlukan keuletan yang luar biasa yang disertai teknologi tingkat tinggi.
Nasib megaproyek Jembatan Selat Sunda semakin jelas. Pemerintah berketetapan merealisasikan proyek senilai lebih dari Rp100 triliun. Berbagai kendala dan perbedaan pandangan seputar proyek tersebut akan segera diatasi sehingga proyek fisik jembatan sepanjang 29 km bisa segera dimulai.
Hal itu ditunjang oleh Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yang salah satunya mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi untuk menciptakan konektivitas dan melancarkan logistik. Kehadiran Jembatan Selat Sunda juga diarahkan untuk mengembangkan kawasan sekitar mulut jembatan, yakni Banten dan Lampung. Rencana itu untuk menarik minat investor, sehingga meringankan beban pemerintah dalam hal pembiayaan.
Kehadiran jembatan antarpulau bukanlah proyek mercu suar. Sejumlah negara sudah lama memasuki era tersebut, dan telah merasakan dampak positif bagi perekonomian dan integrasi nasional. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyebutkan Jembatan Selat Sunda layak untuk dibangun pemerintah.
Bahkan, Malaysia berhasrat membangun Jembatan Selat Malaka, yang menghubungkan dengan Indonesia. Hal itu mencerminkan, betapa negara tetangga telah melihat pentingnya konektivitas regional guna mengambil manfaat bagi perekonomiannya. Dengan demikian, semua masalah yang melingkupi rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda hendaknya segera dituntaskan pemerintah.
Gagasan menyatukan Jawa dan Sumatera melalui sebuah jembatan tentu sesuatu yang patut untuk diapresiasi. Secara fungsional kehadiran Jembatan Selat Sunda akan membawa banyak manfaat bagi kepentingan nasional. Apalagi, di dalam MP3EI telah ditetapkan bahwa penguatan konektivitas nasional merupakan salah satu strategi atau pilar utama, yang di dalamnya tercakup proyek Jembatan Selat Sunda.
Mobilitas manusia, barang, dan jasa antara Jawa dan Sumatera, selama ini rawan gangguan, sebab, hanya menggantungkan pada pelabuhan penyeberangan Merak-Bakauheni. Faktor alam, kurangnya daya dukung infrastruktur pelabuhan, dan minimnya sarana kapal penyeberangan, sangat mengganggu kelancarannya. Kondisi tersebut mencerminkan konektivitas yang lemah. Hal itu jelas menimbulkan ekonomi biaya tinggi, melemahkan daya saing, dan juga memperlambat penanggulangan kemiskinan.
Kehadiran jembatan itu tentu akan memudahkan mobilitas 186 juta penduduk Jawa dan Sumatera, atau 80 persen dari total populasi Indonesia. Di samping itu juga akan memperlancar distribusi dari 151 kabupaten/kota di Sumatera menuju 118 kabupaten/kota di Jawa dan sebaliknya. Sejalan dengan itu pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa dan Sumatera akan tersambung.
Manfaat lain dari pembangunan Jembatan Selat Sunda adalah munculnya wilayah pertumbuhan baru, terutama di sekitar mulut jembatan dan area sepanjang jalan akses menuju jembatan. Hal ini dapat membantu menyebarkan manfaat pembangunan secara luas melalui pertumbuhan yang inklusif di wilayah-wilayah setempat. Dengan demikian, perekonomian di kawasan itu akan berkembang, dan dengan sendirinya masyarakat akan sejahtera. Pada akhirnya, ketimpangan pembangunan dapat diatasi, dan kemiskinan pun berkurang. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar