Senin, 22 Juli 2013

Alexei de Tocqueville di Beijing (2)

Alexei de Tocqueville di Beijing (2)
A Dahana ; Peneliti pada Lembaga Persahabatan Indonesia-China (LIC)
SINAR HARAPAN, 17 Juli 2013

  
Kembali ke istilah “paradoks Tocqueville”, keadaan masyarakat pra-peruntuhan Dinasti Bourbon seperti yang digambarkan penulis itu ada kemiripannya dengan situasi di China menjelang berakhirnya abad ke-19.
Dinasti Qing (1844-1611) tetap berdiri tegap walaupun terjadi berbagai pemberontakan besar. Sebut saja misalnya dua yang paling hebat, Pemberontakan Taiping (Taiping Tianguo, 1850-1864) atau Pemberontakan Boxer (Yihetuan, 1898-1901).

Ratusan ribu, bahkan mungkin lebih dari satu juta orang menjadi korban dalam kedua kerusuhan bersenjata itu. Krisis yang dihadapi pemerintah Qing terjadi antara lain akibat dari kedua kerusuhan tersebut, dan hanya setelah intervensi tentara kolonial dikerahkan, kedua gejolak sosial itu dapat ditindas.

Sama seperti di Prancis, revolusi terjadi ketika penguasa Qing berusaha melakukan reformasi dengan memberi kebebasan kepada kaum intelektual untuk memikirkan bagaimana cara keluar dari krisis masional. Dampaknya, sejak 1898 timbullah berbagai wacana dalam masyarakat, terutama di kalangan kaum terpelajar untuk mencari “obat” demi menyelamatkan bangsa dan negara.

Ada golongan yang mengampanyekan “Gerakan untuk belajar dari dari orang asing (baca: Barat), di bawah slogan Yangwu Yundong. Ada juga kelompok yang mengumandangkan “Kepribadian China sebagai dasar, teknologi Barat untuk hal-hal praktis”.

Dua tokoh intelektual terkenal Kang Youwei dan Liang Qichao malahan lebih progresif lagi. Mereka memunculkan gagasan untuk tetap mempertahankan pemerintah Qing dengan mempraktikkan monarki konstitusional, meniru sistem yang dilakukan di Inggris.

Masa antara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 itulah waktu ketika berbagai pemikiran beradu argumentasi tentang bagaimana China keluar dari krisis nasional sebagai akibat dari penjajahan Barat dan Jepang.

Masa itu juga yang disebut dalam perbendaharaan pepatah Tionghoa disebut sebagai “berbagai bunga berkembang dan berbagai aliran berlaga” (baihua qifang, baijia zhengming). Persaingan pemikiran itu tidak hanya lewat perdebatan, tetapi juga melalui polemik dalam surat kabar dan majalah.

Periode 1898 sampai menjelang dasawarsa pertama abad ke-20 merupakan masa keemasan penerbitan di China. Pada periode itulah terbit surat kabar dan majalah seperti Xin Qingnian (Pemuda Baru) yang memuat pemikiran para pemuda, dan Minbao yang menyuarakan nasionalisme.

Pada umumnya sebagian besar para pemikir generasi muda waktu itu sampai pada kesimpulan bahwa, penyebab utama krisis nasional adalah Ajaran Konghucu yang selama berabad-abad telah mengungkung bangsa China. Pemikiran itulah yang menjadi penyebab timbulnya Gerakan 4 Mei 1919.

Mirip Revolusi 1911

Di tengah perdebatan yang sedang hangat-hangatnya itulah seorang dokter, Sun Yat-sen (Sun Zhongshan), memunculkan pemikiran tentang kesadaran etno nasionalis yang mengatakan bahwa, mayoritas bangsa China adalah bangsa Han, dan bahwa dinasti Qing yang dikuasai orang Manchu, yang berarti non-Han.

Maka, pemerintahan dinasti Qing adalah penjajahan oleh orang asing dan harus digulingkan dengan revolusi. Sebagai gantinya harus didirikan republik demokratis yang didasarkan pada San Min Zhuyi (Nasionalisme, Demokrasi, dan Keadilan Sosial), harus dibentuk.

Seruan Sun Yat-sen itulah yang mamatangkan suasana, walaupun dengan proses yang berliku-liku, membawa China ke Revolusi 1911 atau Xinhai Geming. Kesimpulannya, revolusi pecah pada saat rezim penguasa berusaha mencari jalan perbaikan demi keluar dari krisis.

Suasana China sekarang ada miripnya dengan keadaan menjelang Revolusi 1911, khususnya keadaan ketika pemerintah sedang melakukan reformasi di tengah hiruk-pikuk berbagai protes. Suasana antara akhir abad ke-19 hingga menjelang pecahnya Revolusi Xinhai dapat dikatakan sejalan dengan “paradoks Tocqueville.”

Dalam suasana seperti sekarang ini, apakah pemerintah China dan dominasi Partai Komunis China (PKC) terancam? Pertanyaan ini merupakan bahan perdebatan yang tak akan habis-habisnya. Sudah sejak pertengahan dasawarsa 1980-an muncul berbagai prediksi bahwa akhir dari pemerintah sudah dekat.

Perkiraan yang paling terkenal adalah terbitnya buku Gordon Chang, di bawah judul The Coming Collapse of China. Karya Chang ini antara lain mengatakan, China akan kolaps sebagai akibat dari berbagai krisis seperti defisit anggaran belanja.

Justru keanggotannya dalam WTO, dan keengganan sebagian dari aparat pemerintahnya yang sebenarnya tak menginginkan reformasi. Chang juga mengatakan, PKC sudah kehilangan kekuatan untuk tetap berkuasa sebagai akibat dari reformasi itu sendiri, karena identitasnya sebagai partai yang menjunjung sosialisme/komunisme.

Disebutkan juga tentang berbagai perlawanan yang dilakukan Falungong, kaum minoritas, dan rakyat Taiwan. Masa kolaps nyang diprediksi Chang adalah tahun 2006. Seterusnya dalam edisi baru dari buku tersebut ia mengeluarkan perkiraan baru, yakni 2011. Krisis yang menghinggapi China seperti yang disebutkan Chang memang fakta yang tak dapat dibantah. Namun, sampai sekarang RRC dan PKC masih berdiri tegak.

Topik baru yang diperkirakan akan membuat China kolaps adalah pertumbuhan ekonomi yang akan turun sampai angka 7 persen, korupsi di kalangan elite, produksi yang tetap tinggi, namun permintaan merosot, dan apa yang yang disebut sebagai housing bubble.

Dikatakan dalam ancaman yang disebut terakhir itu, para pengembang sibuk membangun perumahan dan apartemen, namun ketakmampuan konsumen untuk membeli tempat untuk berteduh telah menyebabkan bangunan yang dibuat itu tak berpenghuni. Masih harus ditunggu apakah housing bubble dan faktor ekonomi dan non-ekonomi lainnya akan membuat ekonomi China kolaps.

Akan tetapi, yang menarik untuk diamati adalah bagaimana para pemimpin China sekarang bereaksi atas teori Tocqueville dan ancaman kemungkinan meletusnya revolusi atau kerusuhan besar itu. Mungkin yang patut patut juga menjadi perhatian popularitas buku Jiu Zidu Yu Da Geming itu tidak datang dari bawah, tapi justru dimulai dari kalangan para pemimpin. Kalau saja buku itu muncul pada masa Mao Zedong, pasti peredarannya akan dilarang dan penerbitnya akan dimasukkan ke dalam kamp kerja paksa.

Yang dilakukan para pemimpin justru sebaliknya. Wang Qishan, seperti yang disebutkan di atas menganjurkan, lewat Hua Sheng, yang seorang sejarawan, agar publik membaca buku tersebut. Popularitas buku itu menanjak bukan karena peredarannya dilakukan dengan diam-diam. Ini merupakan suatu kemajuan besar bila mengingat pemerintah China masa lalu selalu sangat terobsesi dengan “rahasia negara”.

Mengundang Publik

Yang juga menarik untuk dicermati adalah langkah-langkah pemerintah China untuk mengantisipasi ancaman itu. Xi Jinping dan Wang Qishan menganjurkan buku itu dibaca khalayak. Rekomendasi Xi dan Wang itu juga dimuat media resmi, yang tentu saja menambah popularitas Jiu Zhidu Yu Da Geming itu.
Pemikir politik China mengatakan, rekomendasi kedua pemimpin itu mencerminkan hadirnya apa yang disebut sense of crisis di kalangan para pemimpin China.

Buku itu tidak memberikan solusi untuk keluar dari situasi yang mengandung ancaman. Bahkan, itu mungkin semacam undangan kepada publik—terutama kaum intelektual untuk memberikan saran kepada pemerintah, berpartisipasi dalam mencari jalan keluar dari krisis.

Langkah-langkah yang rencananya akan diambil pemerintah China juga mengacu pada kehadiran paradoks Tocqueville. Pemerintah tampaknya akan serius menangani korupsi, ancaman yang paling menonjol sekarang ini.

Perdana Menteri Li Keqiang misalnya mengumandangkan tentang bagaimana mengatasi angka urbanisasi yang terlalu tinggi, karena faktor itulah yang menimbulkan adanya jurang kemiskinan dan kekayaan di wilayah kota.

Xi banyak sekali berbicara tentang bahayanya korupsi yang mengancam segala sendi kehidupan. Perdana Menteri Li juga menyarakan kemungkinan pengurangan campur tangan pemerintah dalam aktifitas ekonomi, lantaran itulah yang menyebabkan adanya persekutuan hitam antara birokrasi dengan kalangan bisnis.

Bagaimana dengan di Indonesia? Berbagai persoalan yang dihadapi para pengelola negara di negeri ini, sepertinya tak terlalu jauh berbeda dengan ancaman krisis yang dihadapi para penguasa di China. Artinya, paradoks Tocqueville juga mungkin juga sedang melanda Indonesia.


Sayangnya, berita tentang popularitas buku Tocqueville di China sama sekali tak bergema di sini. Bahkan mungkin, tak banyak yang tahu atau kalaupun tahu tak peduli dengan perkembangan di sana selama beberapa bulan terakhir ini. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar