Senin, 22 Juli 2013

Dunia Gelap vs Wisata Sehat

Dunia Gelap vs Wisata Sehat
Dewa Gde Satrya ;   Dosen Tourism Business Universitas Ciputra
JAWA POS, 17 Juli 2013



TRADISI tutupnya dunia bisnis hiburan dalam bulan Ramadan memberikan inspirasi untuk menumbuhkan model wisata yang sehat. Sebagian leisure business, bagian ranah leisure tourism, tidak boleh beroperasi selama bulan suci ini. Di Surabaya, sandarannya Perda Nomor 23/2012 tentang Kepariwisataan. Tujuh usaha hiburan umum harus tutup. Yakni, spa, diskotek, pub, kelab, panti pijat, karaoke keluarga, dan karaoke dewasa.

Minuman beralkohol, dunia malam, dan kebutuhan bersenang-senang untuk kaum dewasa lainnya ditengarai merupakan sisi gelap kehidupan. Fakta kehidupan tersebut telah menjadi bagian yang melekat, khususnya di daerah perkotaan. Pemerintah berikhtiar untuk mengikis dimensi gelap ini. Namun, ''permintaan'' masyarakat tiada surut.

Adalah hal menarik, leisure business (rekreasi dan hiburan umum/RHU) berada di bawah kewenangan dinas pariwisata. Logikanya mungkin karena pariwisata banyak berkaitan dengan kegiatan bersenang-senang dan mencari hiburan. Namun, ada yang menggelisahkan. Seakan-akan, pariwisata mengesahkan dan melindungi dunia gelap.

Beberapa destinasi wisata internasional berdekatan dengan wisata seks. Thailand, misalnya, tidak hanya menjual wisata alam, namun juga mengumbar seksualitas. Di Thailand, wisatawan sangat familier dengan kawasan Phat Pong, Pattaya, dan Phuket. Di sana ada suguhan tarian eksotis sampai live show. Cukup merogoh kocek 600 bath (sekitar Rp 180 ribu), wisatawan bisa menikmati sajian tersebut. Bisnis wisata esek-esek terkesan dilegalkan dan dijadikan satu daya tarik bagi wisatawan.

Padahal, jika mau dipikirkan lebih jernih, segmen pasar ''naughty tourists'' (turis ngeres) yang doyan mengumbar dosa seksual tidak seluas pasar wisatawan sejati. Meski menjadi daya tarik wisatawan kalangan tertentu, wisata seksual justru membangun citra jelek di kalangan pasar wisatawan umumnya, baik domestik maupun mancanegara. Wisatawan sejati yang pasarnya lebih dominan menjadi enggan ke destinasi dengan image wisata esek-esek.

Dilihat dari segi pengeluaran (spend of money) dan lama tinggal (length of stay), ''naughty tourist'' tidak berkontribusi besar. Bagi hotel, misalnya, wisatawan semacam itu menginap dalam waktu terbatas. Berbeda, misalnya, wisatawan keluarga dan keperluan bisnis, (khususnya MICE/meetings, incentives, conferences, and exhibitions), memiliki lama tinggal dan tingkat pengeluaran yang cukup tinggi. Karena wisatawan sejati lebih banyak belanja, logis memperkuat penggarapan segmen pasar itu dan mengurangi wisata seksual. Apalagi, keberadaan RHU rentan menimbulkan persoalan sosial susulan.

Ada paparan tajam dari Dr Terence H. Hull, Dr Endang Sulistyaningsih, dan Prof Dr Gavin W. Jones yang menulis buku berjudul Pelacuran di Indonesia, Sejarah dan Perkembangan (1997). Menurut mereka, tidak usah munafik mengutuk pekerjaan para pelacur karena mereka tidak pernah ada tanpa desakan para pelanggan, yang kalau mau jujur, kian hari kian meningkat oleh berbagai alasan yang secara rasional (bukan moral) bisa dipahami. Misalnya, mundurnya usia perkawinan, tingginya angka perceraian, dan meningkatnya mobilitas penduduk, gaya hidup, pendapatan masyarakat, serta tantangan yang dihadapi (James J. Spillane, 2002).

Persoalan yang besar dan akut berada di balik praktik komersialisasi seks. Berdasar pengakuan para pelaku, ''area hitam'' itu menunjukkan kegagalan keluarga. Semestinya keluarga menjadi rumah yang mengayomi jiwa-jiwa yang membutuhkan kasih sayang untuk menjaga ketahanan hidup di tengah berbagai tekanan serta kesulitan. Keluarga kadang menjadi semacam rongrongan jiwa-jiwa dan menghancurkan ketahanan hidup. Siapa korban yang paling utama? Tak lain dan tak bukan adalah kaum ibu dan anak.

Konon, sejarah komersialisasi tubuh di dunia ini adalah sepanjang peradaban manusia. Mungkin pernyataan itu bisa diterima ketika kita merasa sumber pelacuran ada pada kegagalan untuk mengendalikan diri dari setia kepada pasangan hidup. Terkesan klise. Tetapi, di sini ada dimensi yang sulit sekaligus rumit untuk mengentaskan tata sosial dari jerat-jerat lembah hitam. 

Mengentaskan praktik komersialisasi tubuh dan sex tourism sama halnya mengentaskan setiap pribadi kita sendiri dari kebiasaan negatif yang merendahkan martabat luhur seks. Jelas, di negara Pancasila ini, memperdagangkan tubuh hanya menambah dosa.

Kita wajib mempertajam model wisata yang sehat, yang menemukan ruang dan waktu yang tepat dalam bulan suci ini. Hal-hal yang direferensikan Hermawan Kartajaya dapat menjadi acuan dalam pemetaan kebutuhan wisata yang sehat. Pertama, wisata yang mempertajam intelligence quotient (IQ). Saat kita berwisata merupakan waktu yang kondusif untuk menggali dan menemukan ide-ide baru yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kedua, melatih emotional quotient (EQ) melalui hidup bersama komunitas global (ekspatriat dan turis) di tengah masyarakat yang plural. Ketiga, memanfaatkan waktu yang berharga dalam berwisata untuk membangun inner spiritual quotient (SQ) kita. Bukan dalam arti spiritualitas keberagamaan semata, melainkan kesadaran jati diri kita sebagai manusia. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar