Selasa, 05 Juni 2012

Meningkatkan Daya Saing


Meningkatkan Daya Saing
Pande Raja Silalahi ; Ekonom CSIS
SUMBER :  SUARA KARYA, 5 Juni 2012


Selama krisis Eropa belum menunjukkan kecenderungan mereda, maka sikapyang lebih bersifat proteksionis akan mencuat. Dalam situasi seperti ini, solusi paling tepat bagi Indonesia adalah melakukan diversifikasi pasar ekspor. Akibat krisis Eropa, produk buatan Indonesia besar kemungkinan makin sulit memasuki pasar Eropa atau besar kemungkinan terjadi perlambatan pertumbuhan volume perdagangan dengan Eropa. 

Kebutuhan modal negara-negara tertentu di Eropa dapat saja menyebabkan usaha memperoleh dana yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia menjadi makin sulit.
Pada kuartal pertama tahun 2012 ini kekhawatiran atas perkembangan ekonomi eksternal Indonesia makin mengemuka. Data yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada kuartal pertama tahun 2012, neraca perdagangan internasional Indonesia secara keseluruhan masih surplus, tetapi untuk migas telah defisit.

Gambaran ini sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia telah menjadi net importer migas walaupun negara ini menghasilkan migas yang volumenya cukup berarti. Yang cukup memprihatinkan adalah current account atau transaksi berjalan Indonesia pada tahun 2011 telah mengalami defisit dan hal ini telah mulai berlangsung pada kuartal keempat tahun 2011 lalu.

Dalam situasi seperti yang digambarkan ini, Indonesia menjadi sangat membutuhkan terciptanya aliran modal masuk ke dalam negeri. Dengan kata lain, Indonesia sangat membutuhkan penanaman modal asing (PMA) atau aliran modal lainnya.

Yang menjadi pertanyaan, apakah dalam situasi "butuh" seperti ini, Indonesia masih tepat melakukan tindakan yang dapat dianggap antipenanaman modal? Apakah Indonesia tepat mengenakan pajak-pajak atau pungutan tertentu yang dalam perputarannya memperlemah daya saing Indonesia? Sedangkan di sisi lain, dapat juga dipertanyakan apakah tepat waktu menerapkan pembatasan kepemilikan asing pada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia?

Keadaan perdagangan Indonesia atau kemampuan daya saing Indonesia yang kurang menggembirakan pada saat ini dengan sendirinya memaksa Indonesia berpikir keras untuk melakukan tindakan yang bersifat proteksionis agar dapat memperoleh hasil yang sejalan dengan tuntutan perkembangan ekonomi yang diharapkan. Bagaimanapun, menciptakan kemandirian dan atau ketahanan ekonomi harus dilakukan.

Namun, untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, dibutuhkan kehati-hatian dan mungkin kesabaran. Sungguh, sangat diharapkan sebagian terbesar kegiatan ekonomi di negara ini dapat dikelola oleh anak bangsa. Tetapi melihat situasi, sebelum sampai ke sana, dibutuhkan langkah-langkah strategis. Langkah yang dimaksudkan adalah meningkatkan daya saing.

Selama ini ada anggapan yang salah bahwa peningkatan daya saing adalah urusan para pengusaha. Padahal, peningkatan daya saing bukan monopoli para pengusaha saja.
Pemerintah dan masyarakat secara luas dapat mengambil peran yang sangat berarti. Dalam situasi seperti sekarang ini, peran pemerintah sangat menentukan. Yaitu, melalui tindakan, peraturan, dan berbagai macam usaha yang pada perputarannya menjadikan ekonomi lebih efisien.

Dengan secara sungguh-sungguh meningkatkan daya saing dan mengefisienkan ekonomi, Indonesia akan dapat membelokkan kecenderungan buruk yang sedang berlangsung.