Selasa, 26 Juni 2012

Gagasan Berbagi dalam Pendidikan 2.0


Gagasan Berbagi dalam Pendidikan 2.0
Iwan Pranoto ;  Guru Besar Institut Teknologi Bandung
Sumber :  MEDIA INDONESIA, 25 Juni 2012


PADA Era Industri di abad yang lampau, dunia bisnis berkompetisi satu sama lain. Satu industri berkompetisi untuk mengalahkan industri pesaingnya.

Untuk dapat bertahan, industri pesaing harus dikalahkan. Itulah pakem dalam dunia industri masa itu. Lalu, apakah sifat berkompetisi masih sesuai dengan masa kini? Lebih penting lagi, apakah sikap berkompetisi itu sejalan dengan dunia pendidikan masa modern ini? Jika diamati, kehidupan di dunia global masa modern ini sangat berbeda. 

Saat ini kehidupan menuntut manusianya semakin bijak. Manusia modern dituntut memanfaatkan jagat semesta untuk diwariskan dalam bentuk yang baik bagi generasi mendatang. Greed atau keserakahan yang kerap mendasari kehidupan era terdahulu telah digantikan gagasan berbagi di era saat ini.

Kompetisi Sudah Kuno

Apakah inovasi Google dan Facebook dipicu kompetisi? Tidak, inovasi keduanya lahir sama sekali bukan dipicu kompetisi atau semangat ingin mengalahkan pesaing. Google diciptakan pada saat belum ada mesin pencari. Jadi, belum punya pesaing. Google dibuat pertama kali dengan tujuan memudahkan orang dalam menggali informasi di internet.

Facebook diciptakan mulanya hanya untuk memudahkan mahasiswa berbagi rujukan atau referensi dalam penulisan tugas. Jadi, inovasi dua perusahaan modern itu dipicu gagasan berbagi. Inovasi modern lain yang fenomenal seperti Youtube, Dropbox, TEDx, Khan Academy, Udacity, dan banyak lainnya juga dipicu gagasan berbagi.

Seorang guru besar dari Universitas Stanford, Sebastian Thrun, beberapa bulan lalu mengundurkan diri dari Stanford dan memutuskan mengembangkan Udacity, yang menyediakan perkuliahan gratis secara online. Dalam situs pribadinya, dia menegaskan pendidikan bermutu harus dapat dirasakan siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Salman Khan pun keluar dari pekerjaannya di Wall Street untuk membangun pendidikan gratis bagi semua melalui Khan Academy-nya. Itu semua menunjukkan gagasan berbagi benar-benar sudah menjadi pakem paling penting di kehidupan modern ini.

Sebaliknya, semangat mengalahkan orang lain sudah sangat kuno. Dalam filmnya, An Inconvenient Truth, Al Gore menyindir pemerintahan masa modern yang sering menerapkan old habits plus new technology. Sikap serakah mengeksploitasi alam, gemar berperang, dan kompetisi untuk mengalahkan orang lain yang subur di masa lalu, jika diterapkan sekarang dengan menggunakan teknologi modern, dampaknya akan luar biasa. Jika skala dampak perilaku kuno itu dahulu kecil, dengan teknologi atau senjata modern sekarang ini, dampaknya dahsyat dan sangat sulit dikoreksi.

Jika Indonesia dahulu selalu dibanggakan dalam sifat gotong royongnya, kenyataan yang tumbuh subur saat ini justru semangat individualistis untuk mengalahkan orang lain. Mungkin dalam olahraga, spirit mengalahkan orang lain itu wajar. Namun dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, gagasan berbagi jauh lebih dibutuhkan bangsa ini.

Pada masa lalu, semangat kompetisi telah disisipkan dalam dunia pendidikan. Sampai-sampai bagi sebagian besar orang, kompetisi itu sudah dianggap normal. Keadaan kompetensi satu anak diadu dengan anak lain dianggap normal. Produktivitas satu guru diadu dengan guru lainnya juga dianggap normal.

Itu mirip dengan adu jangkrik. Jangkrik yang kalah dibuang. Sangat mungkin, cara pandang seperti itu disebabkan menganalogikan sekolah dengan pabrik. Kalau sebuah pabrik hendak memproduksi kursi, kayu yang tak memenuhi standar tentu dibuang.

Namun, pantaskah analogi tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan? Pendidikan tidak berhadapan dengan benda mati, tetapi manusia. Sungguh tak manusiawi melabel satu anak manusia sebagai apkiran/produk gagal dalam proses pendidikan, walaupun dia tak mencapai standar kompetensi yang diharapkan. Perlu dicatat, pendidikan umum sangat berbeda dengan pelatihan atau ujian profesi.

Pendidikan 2.0

Pengelolaan pendidikan yang meniru cara mengelola pabrik pada Era Industri -kita sebut saja Pendidikan 1.0--mengidealkan lulusan yang memiliki kompetensi seragam. Saat itu pendidikan memang dituntut untuk menghasilkan buruh yang patuh dan berketerampilan seragam yang diperlukan pabrik. Jadi, semangat kompetisi merupakan gagasan yang cocok saat itu. Keinginan buruh bekerja keras dengan berkompetisi tentunya juga sangat menyenangkan pabrik. Lulusan pendidikan yang kreatif dan pemikir kritis tak dibutuhkan pada masa itu.

Kemudian, Pendidikan 1.0 yang mendewakan budaya kompetisi membenarkan upaya memacu siswa agar belajar keras dengan cara mengadu satu siswa dengan siswa lainnya. Indikator numerik seperti nilai ujian secara sempit menjadi tolok ukur tunggal yang digunakan untuk mengevaluasi siswa.

Dampaknya, satu siswa biasa berusaha mengalahkan siswa lain dalam indikator tersebut. Sudah sangat biasa kita amati seorang siswa kita tidak mau membantu temannya karena takut nilainya dikalahkan temannya itu. Itulah sikap yang tumbuh di Pendidikan 1.0.

Namun, pendidikan di era sekarang yang disebut Pendidikan 2.0 sangat berbeda. Pendidikan 2.0 tidak meletakkan kompetisi sebagai nilai yang paling penting. Semangat mengalahkan orang lain sudah diganti dengan gagasan berbagi. Dalam kaitan ini, jika dimaknai sebagai suatu proses rekayasa sosial dalam upaya menawarkan gagasan alternatif bagi masyarakat, pendidikan berperan sangat penting dalam pengembangan kebudayaan. Khususnya, jika budaya berkompetisi serta sifat individualistis dan nafsu mengalahkan orang lain sekarang bertumbuh subur di masyarakat, itu merupakan tugas Pendidikan 2.0 untuk menawarkan gagasan alternatif. Gagasan alternatif yang ditawarkan Pendidikan 2.0 ialah budaya berbagi.

Sekolah di Era Berbagi

Tugas guru di Pendidikan 2.0 ialah mengajak semua siswa terlibat dalam kegiatan belajar. Kata `semua' di sini berarti bahwa dari siswa yang paling pandai sampai yang paling lemah atau yang paling enggan belajar pun harus menjadi berhasrat terlibat pembelajaran.

Permasalahan muncul jika kompetisi digunakan dalam pembelajaran. Siswa yang pandai dalam mata pelajaran tertentu itu memang akan terlibat. Namun, bagaimana dengan siswa lemah dan yang sudah enggan belajar? Sangat wajar jika siswa-siswa lemah akan bereaksi menjadi pasif dan tak berminat terlibat aktif dalam kelas yang bernorma kompetisi.

Kalau suasana kompetisi antarindividu seperti itu dipaksakan di dalam kelas, siswa lemah akan semakin enggan belajar dan mereka akan semakin jauh tertinggal. Dampaknya, siswa-siswa tersebut akan menjadi pasif atau malah bereaksi dengan mengganggu kelas. Itu reaksi yang manusiawi untuk survive atau bertahan. Apakah tidak ada siswa lemah yang menjadi giat belajar karena iklim kompetitif? Mungkin saja ada, tetapi peluangnya sangat kecil. Umumnya, mereka akan semakin tidak ingin terlibat dalam pembelajaran.

Lalu, apakah memang tidak boleh sama sekali menggunakan suasana kompetisi dalam kelas? Jika kompetisi yang dimaksud ialah kompetisi antarindividu, sebaiknya tidak. Namun, kompetisi antarkelompok itu baik. Keadaan psikologis individu dan kelompok dalam menghadapi suasana kompetisi sangat berbeda. Terutama, sangat berbeda pada siswa yang sudah enggan belajar.

Akan tetapi, walaupun sikap kompetisi mungkin saja punya sisi positif dalam pendidikan di era sekarang, sikap sekaligus karakter berbagi tetap jauh lebih relevan dan mulia jika dibandingkan dengan semangat mengalahkan orang lain. Pendidikan 2.0 perlu mengirimkan pesan ke masyarakat kita bahwa gagasan berbagi itu prinsip utama dalam era modern ini.

Pesan ini antara lain dapat dicetuskan melalui sebuah sistem rubrik yang secara tegas meletakkan sikap membantu orang lain sebagai nilai termulia dan paling dihargai di sekolah.

Misalnya, sekolah dapat menetapkan nilai C untuk siswa yang memenuhi standar minimum, nilai B untuk siswa yang melebihi standar minimum, dan A untuk siswa yang sudah melebihi standar minimum dan berhasil mengajar siswa lain yang tadinya bernilai D menjadi C. Dengan sistem rubrik seperti itu, pesan kita sebagai Guru 2.0 sangat jelas, semangat kolaborasi dan membantu orang lain ialah sikap paling mulia. Pendidikan 2.0 bertanggung jawab menyuburkan budaya berbagi untuk bangsa.