Senin, 15 Mei 2017

Pendidikan Multikultural

Pendidikan Multikultural
IB Putera Manuaba  ;   Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unair;
Peneliti Masyarakat Multikultural
                                               MEDIA INDONESIA, 13 Mei 2017



                                                           
KENISCAYAAN keberagaman SARA dalam masyarakat kita, sampai saat ini, masih saja dianggap sebagai sebuah ancaman. Betapa pun sudah banyak upaya yang kita lakukan untuk meminimalisasi penyalahgunaan SARA dalam masyarakat multikultural, penyalahgunaan SARA acap kali dijadikan komoditas politik dan alat pemaksa keinginan oleh kelompok aliran garis keras. Dalam menjaga komitmen NKRI, keniscayaan keberagaman atau multikultural seharusnya bisa dikelola dengan baik. Keberagaman dalam masyarakat multikultural mesti bisa diterima sebagai sebuah potensi kekayaan dalam kesatuan negara bangsa.

Dalam pandangan HAR Tilaar, kita perlu memiliki sikap multikulturalisme, yakni sikap bagaimana setiap kelompok bersedia untuk menyatu tanpa merisaukan keragaman budaya yang dimiliki. Mereka semua melebur sehingga pada akhirnya ada proses 'hidridisasi' yang meminta setiap individu untuk tak menonjolkan perbedaan masing-masing. Untuk itu, kita perlu mengoptimalkan pengelolaan keniscayaan masyarakat multikultural. Optimalisasi ini penting karena kita hidup dalam 'rumah bersama' NKRI yang karakteristiknya niscaya beragam. Memang sudah ada banyak upaya untuk itu. Namun, strategi intensif ke arah yang optimal untuk mengantisipasi terjadinya intoleransi masih belum kita lakukan secara sistemis dalam pendidikan.

Oleh karena itu, pendidikan multikultural amat potensial untuk mengoptimalkan pengelolaan keberagaman dalam masyarakat multikultural. HAR Tilaar juga pernah menekankan pentingnya pendidikan multikultural sebagai proses pengembangan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, pelatihan, proses, perbuatan, dan cara-cara mendidik yang menghargai pluralitas dan heterogenitas secara humanistis. Berkait dengan pendidikan, tentunya tak hanya pendidikan di sekolah, tapi juga di keluarga dan masyarakat. Langkah optimalisasi dalam pendidikan tak hanya untuk penciptaan persepsi yang positif atas keberagaman, tetapi juga agar terealisasi dalam interaksi sosial dan tindakan nyata.

Jadi, kita perlu melakukan pendidikan multikultural yang utuh dan optimal dalam pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat karena masyarakat kita memang niscaya multikultural. Dalam pendidikan di sekolah, pendidikan multikultural dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran yang ada. Itu bertujuan agar anak didik dapat dan terbiasa bersikap toleran dalam keberagaman. Dalam arti, menciptakan sikap ikhlas dan sukarela untuk bisa menerima segala apa pun yang berbeda secara positif. Di samping itu, sekolah sebenarnya juga merupakan ruang yang potensial untuk menyemaikan proses pembauran dalam keniscayaan keragaman dan perbedaan. Pembiasaan anak didik berbaur satu sama lain sejak dini berpotensi menciptakan sikap toleran.

Alangkah baik dan bijaknya jika sejak dini anak sudah dibiasakan mengalami interaksi sosial dalam keberagaman SARA karena semua itu pasti akan amat bermanfaat. Tentang hal itu sudah banyak contohnya di masyarakat kita. Anak perlu berbaur satu sama lain agar anak tak saling tersegmentasi. Dalam penelitian masyarakat multikultural pada 2013 yang pernah saya lakukan, ada temuan bahwa semakin tersegmentasi suatu masyarakat, semakin berpotensi terjadinya konflik. Untuk itu, dalam masyarakat, anak tak perlu dibatasi bergaul dengan anak-anak lainnya yang beragam. Jika pola pergaulan ini sudah terbiasakan sejak dini, niscaya setelah remaja dan dewasa, anak tumbuh menjadi generasi yang punya persepsi dan sikap toleran dalam keberagaman dan perbedaan SARA. Alangkah indahnya jika kita bisa menerima keberagaman dan perbedaan SARA.

Harmoni sosial akan tercipta. Radikalisme akan terminimalisasi. Nasionalisme dalam NKRI akan makin tumbuh kuat. Kesemuanya itu akan bermuara pada dinamisnya masyarakat, bangsa, dan negara kita menjadi negara yang damai dan maju. Dengan kondisi seperti itu, kita tak perlu lagi membuang energi untuk mempersoalkan sesuatu yang tak perlu dipersoalkan. Demo-demo yang bermuatan SARA tentu saja akan tak akan menarik lagi. Wacana, stigma, dan sikap yang mendikotomikan satu SARA-beda SARA dalam masyarakat kita juga akan sirna.

Sikap toleran dapat dibangun dengan menumbuhkan kesadaran multikultural. Kesadaran multikultual dalam satu 'keluarga besar' negara bangsa yang dinaungi berbagai komitmen nasional. Kesadaran ini penting sebagai tanda kita memang benar-benar sebagai satu bangsa dan negara yang sama. Jika kita benar-benar mencintai negara dan bangsa, kita mesti dapat menumbuhkan rasa dan sikap cinta pada semua warga bangsa dalam keniscayaan keberagaman SARA. Sikap egosentrisme berlebihan yang hanya ingin menang dan merasa paling berhak sendiri patut dihilangkan.

Oleh karena itulah, kita mesti bisa mengedepankan titik-titik kesamaan dalam masyarakat yang multikultural ini, bukan justru memperbesar titik-titik perbedaan. Titik-titik kesamaan itulah yang akan menyatukan kita sebagai satu negara bangsa. Sebaliknya, jika membesar-besarkan titik-titik perbedaannya, justru akan membuat negara bangsa kita terpecah belah. Jadi, terciptanya persepsi yang positif dan sikap toleran atas keberagaman SARA dalam masyarakat kita, salah satunya, dapat dilakukan dengan pendidikan multikultural.

Untuk itu, pendidikan multikultural merupakan kunci penting agar ke masa depan masyarakat kita mampu membangun harmoni sosial sehingga semua warga negara bangsa dapat hidup saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Untuk itu, kita perlu menciptakan generasi yang makin toleran dan positif dalam menerima keniscayaan multikultural masyarakat kita.