Selasa, 02 Mei 2017

NU Suka Gergeran, Bukan Gegeran

NU Suka Gergeran, Bukan Gegeran
Moh Mahfud MD  ;  Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN);  Ketua MK (2008-2013)
                                                   KORAN SINDO, 29 April 2017



                                                           
JUMAT pekan lalu, 21 April 2017, saya berkesempatan makan siang dengan Nadirsyah Hosen, guru besar hukum konstitusi di Monash University, Melbourne (Australia) yang juga Ketua Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Istimewa Australia-New Zealand.

Nadirsyah adalah sahabat lama saya. Kalau saya ke Australia, biasanya dia mengumpulkan anak-anak NU dan membuka forum diskusi. Tahun 2012 saya diundang dan berdiskusi lesehan di rumah sewaannya di Wollongong dan tahun 2016 saya didapuk untuk memberi ceramah dalam rangka memperingati Hari Santri di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Melbourne.

Pertemuan pekan lalu itu lebih terbatas, tidak digelar sebagai forum yang ramai. Hal ini karena waktu saya sangat terbatas dengan acara yang padat, sehingga saya hanya meminta dia bertemu sambil lunch di sebuah restoran, tepatnya di Best Waterfront Seafood Restaurant yang terletak di tepi Yarra River, Southbank, Melbourne. Seperti biasanya, kalau orang-orang NU bertemu banyak muncul guyonan (kelakar) yang menyegarkan.

Menyitir almarhum KH Hasyim Muzadi, NU itu sejatinya merupakan tempat orang gergeran (tertawa-tawa riang), bukan tempat orang gegeran (ribut bertengkar tak keruan). Demikian juga saat saya dan Nadirsyah serta kawan-kawan lain makan siang di restoran tersebut sehabis salat Jumat, suasanya penuh tawa.

Pertemuan yang direncanakan berlangsung satu jam itu ternyata keterusan sampai lebih dari dua jam karena keasyikan tertawa-tawa saling tukar cerita tentang banyak hal. Ini perlu saya kemukakan, karena banyak orang yang tidak kenal langsung dengan Nadirsyah menganggapnya sebagai orang yang nyinyir, keras kepala, dan mau menang sendiri.

Kesan bahwa banyak orang mengira Nadirsyah itu nyinyir dan kaku, saya lihat dalam lalu lintas media sosial di mana Nadirsyah aktif berinteraksi dan berpolemik. Dalam hiruk-pikuknya Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 ini misalnya, Nadirsyah termasuk pendukung Ahok. Cuitan-cuitannya gigih ikut membela Ahok dan karenanya banyak juga orang yang bukan pendukung Ahok menyerangnya sebagai orang yang nyinyir dan berislam liberal.

Tetapi percayalah, Nadirsyah itu humoris. Pada acara makan siang pekan lalu itu, misalnya, saya pertemukan dia dengan Wakil Sekjen PBNU Masduki Baidhowi. “Prof Nadir, ini Pak Masduki Baidhowi, wasekjen PBNU yang tidak mau mendukung Ahok. Dia dekat dengan KH Makruf Amin dan menjadi jubir Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam sikapnya terhadap perkara Ahok,” kata saya.

Awalnya Nadirsyah dan Masduki saling pandang dengan agak kaku dan agak tersipu. Maklum, pada saat itu baru dua hari pemungutan suara Pilgub DKI usai dan Ahok kalah.

Tetapi suasana kikuk itu berlangsung tak lebih dari lima detik. Setelah itu keduanya sama-sama tertawa lepas dan hampir bersamaan berkata, “Tak apa-apa, di NU itu perbedaan merupakan hal yang biasa saja.”

Setelah itu makan siang yang juga dihadiri oleh Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti, Ketua LPS Halim Alamsyah, mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Edy Suandi Hamid, dan pengurus Ikatan Alumni UII Cabang Australia Iwan Wibisono itu berlangsung penuh tawa, terutama setelah Nadirsyah melontarkan banyak cerita-cerita kocak terkait perilaku kaum pendatang.

Salah satu hal yang materinya dibahas dengan cukup serius, tetapi tetap dengan suasana canda tawa adalah mengenai hubungan antara NU, Muhammadiyah, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kata Nadir, di sebagian kalangan warga NU dan Muhammadiyah masih ada sedikit kekurangharmonisan.

Kata Nadirsyah, ada pengikut kedua gerakan Islam tersebut yang masih saling sindir. Misalnya ada orang Muhammadiyah yang bilang, banyak orang-orang NU yang sesudah pandai dan maju pindah ke Muhammadiyah.

Contohnya Din Syamsudin. Dulu dia adalah aktivis Gerakan Pemuda Ansor (badan otonom NU), tetapi sesudah belajar ke perguruan tinggi dan menjadi pandai, dia berpindah menjadi aktivis Pemuda Muhammadiyah sampai akhirnya menjadi ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan ketua MUI.

Cerita tentang Din Syamsudin itu tentu saja bisa dibanding dengan contoh sebaliknya, yakni banyaknya orang-orang Muhammadiyah yang tidak tahan untuk berubah menjadi NU seperti menjadi suka ikut dan menjadi penyelenggara tahlilan, istigasah, selawatan. Namun, cerita pembanding ini tidak dipergunakan sebagai bahasan serius, tetapi dibicarakan dalam gaya hanya bercanda karena sebenarnya tidak ada masalah apa pun pada titik itu.

Nadirsyah hanya menjawab, jika orang NU yang sudah pandai pindah ke Muhammadiyah, maka orang Muhammadiyah yang sudah pandai pindah ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dan sesudah orang-orang PKS menjadi pandai, mereka diam-diam mengambil alih masjid-masjid NU dan Muhammadiyah untuk kemudian mengubah wajah kegiatan masjid disesuaikan dengan selera PKS dalam melakukan gerakan Islam.

Jadi, Muhammadiyah maupun NU sekarang ini tak banyak lagi mengelola masjid karena banyak hilang dan sudah diambil alih oleh orang-orang PKS. Makanya di Indonesia arah gerakan Islam sekarang ini agak berubah.

Masalah ini sebenarnya sudah agak lama menjadi bahan tukar cerita di kalangan NU sebagai masalah yang cukup serius, sehingga muncul arus di internal NU agar NU kembali menguasai masjid-masjidnya sebagai pusat gerakan Islam ahlus sunnah wal jamaah.

Tentu saja yang dimaksudkan adalah ahlus sunnah wal jamaah menurut konsep NU yang menurut kalangan NU sendiri lebih ramah, lebih adaptif terhadap budaya lokal, dan lebih toleran terhadap perbedaan sehingga lebih mengindonesia.

Namun, masalah yang sebenarnya cukup serius ini kami bicarakan saat acara makan siang di Melbourne itu tetap dengan santai dan penuh gelak tawa seperti kebiasaan orang-orang NU dalam menyikapi masalah seserius apa pun. Itulah maksud pernyataan bahwa di NU itu kalau ada masalah diselesaikan dengan gergeran, bukan dengan gegeran.