Selasa, 02 Mei 2017

Masihkah Perlu Kita Membaca Buku?

Masihkah Perlu Kita Membaca Buku?
Iqbal Aji Daryono  ;  Praktisi Media Sosial, Penulis Buku "Out of The Truck Box"; Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                     DETIKNEWS, 25 April 2017



                                                           
Akhirnya dia keluar juga. Gadis bermata bening itu berjalan pelan, mendekat. Lalu di sebelah saya ia duduk, sambil menoleh melihat buku setengah terbuka di tangan saya.

"Baca apa to, Mas?"

Sambil menahan desir di dada akibat wajah teduhnya yang tersapu pandangan saya, juga wangi badannya yang terhirup sekejap di hidung saya, saya menjawabnya. "Ini, novel. Ca Bau Kan."

Wajahnya langsung mengernyit heran. "Loh. Kan sudah ada filmnya? Kok baca bukunya?"

Saya tercenung mendengarnya. Memang benar, novel karya Remy Silado tentang kisah cinta seorang perempuan Betawi dan saudagar kaya peranakan Tionghoa pada zaman kolonial itu baru saja difilmkan. Namun kalimat si gadis bermata bening membuat saya gundah. "Loh. Kan sudah ada filmnya? Kok baca bukunya?"

Lepas dari malam itu, saya merenung lama. Akhirnya, karena terlalu gundah mengingat kalimat yang ia ucapkan, saya memutuskan untuk meninggalkannya.

Kisah dan dialog itu melintas lagi di ingatan saya pada H+2 Hari Buku Sedunia 23 April 2017. Satu kisah yang terjadi hampir dua dasawarsa silam, jauh sebelum saya menikah. (Informasi latar waktu wajib saya tekankan, agar ibunya Hayun tidak menyuruh saya tidur di garasi malam nanti.)

Tentu cerita tersebut mengandung sedikit fiksi, terutama pada bagian "saya meninggalkannya". Yang benar adalah dia yang mencampakkan saya ahahay. Tapi bukan itu yang mau kita obrolkan hari ini. Saya cuma sedang memberikan gambaran, bahwa pada masa belasan tahun lalu, faktor kelaziman menjadi salah satu tantangan terberat kita dalam membaca.

Banyak orang di lingkungan kita malas membaca bukan semata karena rendahnya kesadaran, melainkan karena merasa aneh dan tak lazim. Mungkin Anda tidak sepakat dengan teori saya. Namun, percayalah, tidak sedikit di antara kita yang pada masa itu senang membaca, tapi mereka terkendala problem kenyamanan sosial.

Orang malu menenteng dan membaca buku di tempat publik. Membaca buku dengan suntuk saat antre di kantor Samsat untuk mengurus STNK, misalnya, akan membuat kita tampak sebagai makhluk sok-sokan. Sok pinter, sok intelek, sok berkelas, dan entah sok apa lagi.

Sialnya, seringkali kita mendapat waktu luang justru cuma di saat-saat seperti itu. Di saat menunggu, di dalam angkutan umum, dan sebagainya. Di kantor kita harus bekerja, di rumah harus menjalankan peran rumah tangga. Bingung, kan?

Saya sendiri punya banyak contoh kejadiannya. Pernah seorang gadis berbisik terlalu keras ke teman di sebelahnya, "Ih, sombong bangeet..." sambil keduanya menatap ke arah saya yang sedang membaca buku Sejarah Indonesia Modern mahakarya Pak M.C. Ricklefs di dalam sebuah bus jurusan Klaten-Jogja.

Pernah pula saya ditanyai orang "Kuliah di mana, Mas?" waktu dia melihat saya sedang tenggelam di sela halaman-halaman sebuah buku tebal. Begitu saya jawab bahwa saya sudah bekerja dan tak lagi kuliah, ia melancarkan pertanyaan susulan yang ajaib: "Lho, kok belajar?"

Syukurlah, hari ini, ketidaknyamanan semacam itu tinggal kenangan masa lalu. Lihat, tanpa rasa rikuh orang membaca di mana-mana. Saat sedang menunggu entah apa, saat duduk di bangku kereta, saat berjalan, saat berdiri di pinggir jalan, bahkan saat berkumpul bersama keluarga dan makan bersama. Mereka membaca, membaca, dan terus membaca. Hebat sekali, bukan?

Pasti Anda mengira saya sedang mengigau. O, tidak. Saya sadar sepenuhnya saat menuliskan ini. Kalau tidak percaya kata-kata saya, tuh, lihat orang-orang yang khusyuk menatap layar telepon genggam mereka. Bukankah sebagian besar hal yang mereka lakukan dengan gadget alias gawai mereka adalah aktivitas membaca?

Coba cermati. Hanya sebagian kecil di antara para pemeluk ponsel itu yang menonton video dengan alat mereka. Youtube terlalu rakus memakan data internet, dan ia hanya akan diakses kalau ada jaringan wifi. Gambar-gambar di Instagram, misalnya, memang mereka amati. Tapi narasi pengiring gambar itu pasti juga disimak agar konteksnya dapat dipahami.

Selebihnya, orang-orang itu membaca ratusan obrolan di Whatsapp atau BBM. Mereka pun membaca linimasa di Facebook dan Twitter. Dari keriuhan akun medsos mereka, muncul tautan-tautan berita atau tulisan jenis apa saja yang segera mereka buka, lalu mereka baca. Mereka benar-benar jadi kalap dalam membaca.

Tidak berhenti di situ. Jauh melampaui harapan para pendiri bangsa, rakyat Indonesia di zaman ini juga tekun menulis. Jika percakapan di grup Whatsapp sedang riuh-riuhnya, orang-orang itu tak berhenti sekadar jadi pembaca. Mereka pun jadi penulis. Apalagi kalau topik di grup mereka sedang nyerempet isu-isu Pilkada. Jika dikumpulkan, tulisan seorang aktivis Whatsapp spesialis Pilkada bisa-bisa menyaingi ketebalan novel Arus Balik-nya Pramoedya Ananta Toer!

Masyarakat kita buta membaca dan lumpuh menulis, kata Dokter Hewan Taufiq Ismail dulu kala. Saya kira, Eyang Taufiq sekarang sudah bisa hidup tenang. Generasi penerus beliau pada hari ini sudah tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang sangat maniak membaca, dan gila menulis. Mengagumkan.

"Wuooo dasar nyinyir!" Pasti Anda akan melempar komentar begituan setelah menyimak gambaran dari saya barusan. Hehehe. Saya yakin Anda tidak setuju dengan asumsi bahwa kegiatan orang-orang dengan gawai mereka merupakan aktivitas membaca.

Oke. Kalau memang Anda tak rela dengan deskripsi saya, lantas apa sebenarnya yang bisa kita definisikan dari aktivitas membaca?

Sejujurnya saya selalu bingung saat harus menjawab pertanyaan demikian, dan belum pernah sekalipun menemukan rumusan jawaban yang pasti. Dalam keruwetan semacam itu, saya membuka kembali berita beberapa waktu lalu, yang mengabarkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam perkara literasi alias ke-melekbaca-an.

Pemeringkatan tersebut dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU), Amerika. Maka, saya iseng-iseng membuka situs webnya. Dalam situs CCSU, pemeringkatan yang bertajuk "World's Most Literate Nations" itu mengambil lima variabel. Kelimanya adalah: surat kabar, perpustakaan, sistem pendidikan, hasil pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Ada yang agak mengejutkan di sini, yaitu dalam variabel perpustakaan. Ternyata, fasilitas perpustakaan di Indonesia nangkring di peringkat 36,5 (diposisikan di angka aneh itu karena setara dengan Tunisia, sehingga harus berbagi peringkat 36 dan 37 bersama-bersama). Ini hebat. Dalam hal perpustakaan, peringkat Indonesia mengalahkan Singapura (59), Selandia Baru (39), Korea Selatan (42), Belgia (46), bahkan Jerman (47).

Bayangkan saja, perpustakaan kita lebih baik dibanding perpustakaan di Jerman! Tapi kenapa ranking literasi kita tetap rendah? Ya, sebab variabel-variabel lainnya membuat anjlok skor kita. Sistem pendidikan kita ada di level 54, output pendidikan di level 45, ketersediaan surat kabar baik cetak maupun online ada di level 55, dan akses komputer Indonesia (desktop dan laptop) terperosok di angka 60.

Beberapa hal bisa kita baca dari data tersebut. Pertama, perpustakaan kita relatif banyak dan lengkap, tapi hanya segelintir orang yang mau berkunjung ke sana. Barangkali penyebabnya adalah sistem pendidikan yang levelnya cuma 54 itu tidak mampu membangkitkan gairah membaca buku yang tinggi. Atau ada sebab lain, yakni orang Indonesia lebih suka membeli buku sendiri daripada main ke perpustakaan.

Kedua, meski data dari CCSU sangat aneh karena tidak menghitung ponsel dan tablet dalam variabel komputer (iya, itu aneh sekali), ternyata jumlah "koran" online yang bejibun di depan mata kita tidak dianggap sebagai bacaan yang layak.

Ketiga, aktivitas "membaca" oleh CCSU masih tetap dimaknai sebagai hal-hal yang cenderung lekat dengan bacaan konvensional, yakni buku dan koran. Sementara, aktivitas membaca twitwar atau perdebatan di grup Whatsapp agaknya tidak masuk dalam hitungan mereka hahaha.

Jadi, apakah Anda sepakat dengan CCSU terkait definisi-tersirat mereka atas aktivitas membaca?

Melihat realitas sosial yang berkembang di era medsos, kita bisa melihat bahwa tidak semua aktivitas membaca dapat mengantarkan kita kepada literasi. Terlalu banyak bacaan di era kekuasaan internet yang justru menjauhkan kita dari pengetahuan, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Saking gampangnya internet menyebarkan tulisan, bahkan tulisan sampah sebusuk apa pun bisa bertebaran dengan ganasnya.

Lalu bagaimana? Apakah perlu dirancang kampanye agar kita kembali kepada buku cetak konvensional, sembari meninggalkan bacaan yang limpah ruah di internet? Tentu saja tidak. Zaman terus berubah, teknologi terus berkembang, dan siapa pun yang melawan teknologi akan mampus tergilas.

Maka secara gampangan, saya ingin menyepakati CCSU yang meletakkan buku dan koran sebagai dua instrumen paling pokok dalam aktivitas membaca. Dalam hal ini saya lebih sepakat jika bacaan di internet, termasuk tulisan ini, diposisikan sebagai pengganti koran. Bukan pengganti buku.

Sementara itu, posisi buku sementara ini tetap tidak bisa dilenyapkan. Bukan dalam artian semata buku tercetak (sebab kertas ataukah PDF bukan soal penting), melainkan buku dalam makna tulisan yang mendalam, yang terperinci, yang membahas suatu hal ihwal dalam konstruksi pemahaman yang utuh. Seperti itulah pada hemat saya makna buku yang semestinya.

Tanpa fondasi dasar kebiasaan membaca suatu hal secara utuh, kita jadi terkondisi menangkap informasi dangkal, sepotong-sepotong sambil lalu, untuk kemudian secara reaktif membuat respons atas cuilan-cuilan informasi tersebut. Itu semua pada akhirnya membentuk cara belajar kita, membentuk cara berpikir kita, bahkan membangun karakter kita sebagai manusia. Silakan buka linimasa di media sosial, dan Anda akan langsung menjumpai contoh-contoh hidupnya.

Jadi, bagaimana? Anda sepakat dengan pendapat saya tersebut? Tidak? Tak mengapa. Saya cuma ingin mengucapkan selamat Hari Buku Sedunia bagi yang merayakan. Bagi yang tidak merayakan, mohon hormati umat yang merayakan.