Senin, 15 Mei 2017

Ayam Panggang Laura dan Sepatu Bally Bung Hatta

Ayam Panggang Laura dan Sepatu Bally Bung Hatta
Arie Saptaji  ;   Penulis, Penerjemah, Editor, dan bapak dari dua anak;
Sedang menyiapkan sebuah novel dan kumpulan puisi
                                                      DETIKNEWS, 12 Mei 2017



                                                           
Gerakan pemberantasan korupsi di negeri ini kembali terguncang ketika DPR mengetok palu meloloskan usulan untuk menggunakan hak angket terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Publik membacanya sebagai upaya pelemahan atas lembaga terdepan dalam perlawanan terhadap korupsi tersebut.

Gerakan perlawanan terhadap korupsi memang terkesan angin-anginan, naik-turun seenak perut para elit politik. Banyak kasus besar menghilang tak jelas jejaknya. Sebagian kasus yang dibawa ke persidangan malah membikin kita tercengang karena sanksinya terlalu ringan, tidak setimpal dengan besaran kerugian yang telanjur terjadi.

Kita—warga biasa—tampaknya hanya bisa mengelus dada. Atau, sesungguhnya kita memegang andil untuk menentukan arah budaya korupsi pada masa depan? Bukankah kita memegang kunci perlawanan terhadap korupsi di ranah yang paling dekat: keluarga kita masing-masing? Para orangtua dapat menjadi ujung tombak gerakan anti-korupsi dengan membekali anak-anak dengan nilai-nilai kebajikan.

Saya teringat potongan kisah dalam Kota Kecil di Padang Rumput, salah satu novel dalam seri Rumah Kecil karya Laura Ingalls Wilder (terjemahannya diterbitkan Libri/BPK Gunung Mulia). Laura menulis:

"Kalau anak-anak ayam itu bisa mereka pelihara dengan baik, kalau tidak diganggu oleh elang atau cerpelai atau rubah, beberapa ekor di antaranya akan menjadi induk ayam. Setahun kemudian induk-induk ayam itu akan bertelur, kemudian telur-telur itu bisa ditetaskan. Dua tahun kemudian mereka akan bisa menikmati ayam panggang."

Muncul rasa haru dan kagum ketika membaca kutipan kisah keluarga Laura tersebut. Menunggu selama dua tahun sebelum dapat menikmati ayam panggang buatan sendiri? Saya tertegun. Mungkin ini yang hilang di tengah masyarakat yang dikepung kecanggihan teknologi: waktu untuk memberi kesempatan sesuatu berkembang secara wajar dan alamiah.

Produk apa sekarang yang perlu kita tunggu sampai dua tahun? Dan apakah masih ada gunanya ditunggu selama dua tahun? Dalam dua tahun kita mungkin bisa menabung sejumlah sepuluh juta. Tapi, apakah nilai sepuluh juta itu tetap sama dua tahun lagi? Jangan-jangan terjadi inflasi sehingga nilainya merosot. Jangan-jangan produk yang kita inginkan sudah tidak diproduksi. Jangan-jangan sudah disambar orang lain.

Lalu, kita ingin meraup produk yang kita inginkan selagi masih hangat. Secepat-cepatnya. Kalau bisa sekarang, kenapa mesti menunggu dua tahun lagi? Kalau tidak bisa tunai, apa salahnya mencicil? Kita menjadi konsumen yang bergegas.

Omong-omong, apa hubungannya semuanya ini dengan budaya korupsi? Mungkin tidak ada. Atau, bisa jadi sangat berkaitan.

Budaya instan, yang menggoda kita untuk melepaskan kesabaran, yang mengusik kita untuk tidak puas, membuka pintu pada tawaran untuk menempuh jalan pintas. Dengan menginjak hati nurani, sebagian orang segera menjemba kesempatan untuk memperoleh penghasilan secara cepat dengan prosedur yang tidak wajar. Yang tidak cepat, yang tidak melanggar aturan, tidak kebagian.

Bung Hatta punya cerita lain. Pada 1950-an, Bally adalah merek sepatu mewah. Bung Hatta, yang waktu itu seorang wakil presiden, berniat membelinya. Ia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Kemudian ia menabung untuk mewujudkan keinginannya. Nyatanya, tabungannya tidak pernah cukup untuk membeli sepatu idaman itu.

Uang tabungannya tergerus oleh keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta bantuan. Keinginan Bung Hatta membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Guntingan iklan itu saja yang masih tersimpan dengan baik.

Kisah keluarga Laura menawarkan nilai-nilai ketekunan, kesabaran, kerja sama, dan kesediaan untuk bekerja keras. Untuk bersyukur. Untuk menikmati dan merayakan hari demi hari tanpa dikejar-kejar oleh ketergesaan. Dengan penuh harapan. Laura menulis:

"Masa-masa menggembirakan akan datang. Dengan begitu banyak kesibukan, dan begitu banyak harapan, hari-hari rasanya terbang dengan cepat."

Kisah Bung Hatta menunjukkan, selain menahan diri dan bersabar, bisa jadi kita perlu mengorbankan ambisi pribadi demi mengutamakan kesejahteraan keluarga dan sesama. Juga, tidak sepatutnya kita menyalahgunakan wewenang dan amanah yang dipercayakan pada kita.

Saya menemukan kutipan di Twitter yang disebutkan bersumber dari Selo Soemardjan, sosiolog asal Yogyakarta. Ia berkata, "Orangtua di Jawa tidak mengajari anak-anak mereka menjadi orang kaya, tapi menjadi orang baik." Sungguh menarik.

Di tengah arus "cara cepat menjadi kaya," ajaran itu mengedepankan keluhuran budi pekerti. Bukan berarti kekayaan itu tidak perlu, tapi tidak selayaknya dikejar dengan menyisihkan nilai-nilai moral. Tidak cukup orang bekerja secara cerdas, yang dapat diselewengkan jadi bekerja secara licik; kita perlu membulatkan hati untuk bekerja secara mulia.

Menanamkan integritas dan nilai-nilai anti-korupsi merupakan tantangan yang tidak ringan bagi orangtua. Terlebih kita hidup di tengah zaman yang lebih permisif dan cenderung merelatifkan nilai-nilai, sekaligus zaman yang bergerak serbacepat.

Dapatkah keluarga, alih-alih menyeret anak ke dalam arus budaya instan, menjadi ajang untuk menyemai nilai-nilai berharga itu bagi anak-anak sejak dini? Bagaimana mengajari anak untuk menahan diri dan bersabar? Untuk tidak tergoda bersikap asal cepat, asal kebagian?

Orangtua perlu gigih dan kreatif menggunakan berbagai kesempatan untuk membentuk karakter anak. Untuk menanamkan nilai-nilai yang mudah-mudahan memperkuat mereka menjadi pribadi yang tangguh dalam menolak godaan berkorupsi.