Senin, 22 Juli 2013

Politikus Sinetron, Sinetron Politikus

Politikus Sinetron, Sinetron Politikus
Muhammad Deny Achmad ;  Peneliti Muda Indonesian Culture Academy
(INCA) Jakarta
SUARA KARYA, 17 Juli 2013


"Dewasa ini sinetron tidak lagi diperankan oleh artis, melainkan politisi. Layaknya para artis sinetron, para politisi lihai memainkan peran yang sekiranya bisa membius penonton. Berlaku korup tetapi mengaku bersih adalah benar karena ini tuntutan peran."

Dunia sudah tidak menampilkan dirinya yang sesungguhnya. Ia lihai menyembunyikan dirinya secara utuh, sehingga apa yang ditampilkan ke luar dirinya (khalayak) seolah-olah itulah jati dirinya. Namun, kondisi ini setidaknya hanya ada dalam dunia panggung semisal sinetron.

Sinetron hanya gugusan cerita yang didasarkan pada cerita imajinatif belaka kendati berpijak pada realitas empiris. Adegan dramatik, heroik, sedih, menangis dalam sinetron yang kadangkala bisa 'menguras' emosi penonton hanya bisa diperankan oleh artis.

Namun, sekarang tampaknya adegan (acting) demikian tidak sekadar bisa dilakukan oleh artis. Politisi pun turut bersetia meniru artis. Kadang, bisa melampaui apa yang ditampilkan artis sendiri. Hanya saja perbedaan keduanya terletak pada standar moral. Artis sebagai pekerja dunia hiburan dituntut agar bisa memerankan karakter apapun. Ini adalah risiko yang harus dijalani. Jika ia tak bisa memenuhi apa yang diminta sutradara, maka akan memengaruhi moral si artis. Bisa saja prestise dan karirnya akan tersendat.

Berbeda dengan artis, politisi bekerja untuk kepentingan rakyat. Dalam menjalankan amanat rakyat, ia dituntut untuk mengerahkan kemampuan dalam dirinya. Kejujuran, kesungguhan, dan tanggung jawab disamping kerja keras dan cerdas adalah sejumlah faktor yang harus dimiliki politisi. Terlebih, yang paling utama adalah kepekaan dalam memahami apa yang dikehendaki oleh rakyat.

Menjadi 'menarik' manakala politisi meniru artis sinetron. Sedikitnya ada dua hal yang membuatnya menjadi menarik. Pertama, adalah soal 'peresapan' kualitas acting artis ke dalam diri politisi. Jika dalam bekerja politisi menemukan kesulitan atau hambatan-hambatan, hal itu tidak menjadi masalah karena ia telah berhasil menanamkan peran artis dalam dirinya. Karena kondisi diri artis sebenarnya mungkin saja berbeda manakala sedang atau sebelum berakting. Misalnya, ia harus memerankan adegan senyum tanda bahagia sementara hatinya sedang dilanda kesedihan. Tetapi, ia tetap menunjukan kemampuannya sesuai tuntutan peran. Kemampuan artis dalam mengatur dan mengolah emosi ini, menjadi nilai positif manakala berbagai kendala menghambat kinerja politisi.

Sementara yang kedua adalah peniruan (imitation) kemampuan berakting artis oleh politisi yang tak perlu karena menipu publik belaka. Artis harus memerankan berbagai karakter itu, adalah biasa meskipun - meminjam pendekatan Jean Baudrillard - terkadang dan bahkan peran-peran yang ditampilkan acapkali dianggap sebagai realitas nyata. Sehingga, kita sulit membedakan mana yang asli dan tiruan. Tetapi, ini 'haram' bagi politisi. Kepada publik, entah lewat media atau pun forum, ia dengan santai mengklaim telah bekerja untuk rakyat, sedangkan kenyataannya tidak demikian misalnya.

Peniruan

Namun kenyataannya, model peniruan ini yang sering dijadikan sebagai senjata penipuan politisi untuk menggaet simpati publik. Masih segar diingatan kita bagaimana dalam kampanye pemilu 2009 sebuah partai politik dengan tegas mengusung isu penolakan terhadap korupsi, sementara baru-baru ini terbukti bahwa beberapa kader partai politik tersebut terjerat kasus korupsi. Anehnya, salah satu dari kader politik ini 'rajin' menampik tuduhan tersebut. Jean Baudrillard, pemikir sosial post-modern, mengatakan bahwa dewasa ini dunia ditandai simulasi. Proses simulasi ini dihasilkan dari model penciptaan reproduksi dan peristiwa. 

Dengan rekaan kedua model ini, kita sulit mengenali barang yang asli dan tiruan karena mengaburnya distingsi tanda dan realitas. Misalnya, seorang artis yang berpura-pura memainkan karakter jahat dalam adegan sinetron, yang seolah nyata. Sebaliknya, adegan yang ditampilkan tersebut seringkali ditiru oleh penonton dalam kehiduan nyata. Melarutnya kehidupan televisi (TV) ke dalam kehidupan nyata dan melarutnya kehidupan nyata ke dalam kehidupan TV, kata Baudrillard. Parahnya, apa yang ditampilkan TV (baca, adegan artis) tidak hanya sekadar menjadi cerminan realitas, melainkan realitas itu sendiri.

Jika dikaitkan analisa Baudrillard dengan dagelan-dagelan para politisi, terasa tepat sekali. Para politisi barangkali sudah menganggap dunia ini adalah sinetron. Pemeran utama meliputi sutradaranya adalah mereka sendiri. Mereka mengklaim setiap laku yang ditampilkan adalah absah sesuai kehendak. Bertindak korup tapi mengaku bersih adalah benar karena ini adalah tuntutan peran. Moral yang dianut adalah sakarep dewek (sekehendak hati)

Implikasi dari moral demikian setidaknya mengakibatkan dua hal. Pertama, kesewenang-wenangan yang akhirnya akan mengabaikan harapan rakyat. Kedua, membentuk karakter negatif bagi politisi muda, yang kemudian diklaim benar dan dijadikan pembenaran moral dalam setiap tindakan mereka.


Dengan demikian, diperlukan kesadaran dalam arti, bahwa rakyat harus senantiasa menyadari diri sebagai produser pemilik (stakeholder) rumah produksi, yakni Indonesia. Rakyat jangan takut untuk 'memecat' para politisi sinetron jika mereka tak bisa memerankan perannya dengan baik. Karena Indonesia adalah 'rumah' realitas milik rakyat bukan sinetron para politisi. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar