Senin, 22 Juli 2013

Perkenalan dengan Afrizal Malna

Perkenalan dengan Afrizal Malna
Andi Fuller ;  Peneliti Sastra Indonesia
KOMPAS, 21 Juli 2013


Menulis adalah personal, menerjemahkan adalah personal. Pergerakan kata melibatkan perjumpaan dan konfrontasi atas kelainan, perbedaan. Satu kata menghasilkan kata yang lain. Satu interpretasi mengantarkan pada interpretasi yang lain.

Saya pertama kali mengalami puisi Afrizal sebagai sebuah entitas visual: balok-balok kata yang solid dalam halaman, dengan tepi lurus. Puisi Afrizal terasa padat. Dan pada kebanyakan waktu, saya tidak dapat menembusnya.

Pada tahun 2005, saya menghadiri sebuah acara sastra di Teater Utan Kayu (TUK). Saya datang dengan beberapa teman dari Yayasan Lontar. Acara tersebut dihadiri cukup banyak orang. Tentu karena TUK adalah pusat seni yang mutakhir dan fashionable pada saat itu. Ini kali pertama puisi Afrizal terbuka dengan lahan makna yang dapat terakses oleh saya. Apa yang sebelumnya terasa sangat visual menjadi oral dan aural. Tubuh kecil Afrizal ternyata adalah sumber suara yang kuat, dengan mata tajam dan bersinar. 
Pembacaannya ditandai dengan tindakan fisik. Suaranya memenuhi teater yang kecil dan para audiens menonton dalam diam. Kata-kata dan suara-suara, makna bertubrukan, menempa orang-orang berbeda. Konflik dan dialog.

Sebagaimana Afrizal menggambarkan ”berada dalam kepungan hujan” (Malna 2013, halaman 101) dalam esai di bagian terakhir Museum Penghancur Dokumen, pada waktu itu, saya juga merasa ada ”di dalam kepungan suara Afrizal”. Suara mendominasi pengalaman keberadaan di suatu tempat pada suatu saat.

Ini adalah momen yang kuat dan menghasilkan memori yang kuat pula. Ada memori suara Afrizal yang tersimpan dalam ruangan TUK itu. Waktu berselang, mungkin tahun 2007, saya melihat Afrizal di tempat parkir mobil di Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya telah membaca lagi beberapa puisi Afrizal dan tetap menganggapnya sulit untuk ditembus. Saya mencoba mengingat kembali momen di TUK untuk membantu membangkitkan bunyi. Namun, puisi tersebut tetap menjadi kata-kata di halaman tanpa gerakan puitis. 

Maka, tahun 2007, saya telah mendengar mitos Afrizal Malna: penulis puisi yang nomaden, selalu melakukan perjalanan, selalu mengembara. Seorang penulis lakon yang berafiliasi dengan Teater Sae yang terkenal dan berpengaruh. Walau dengan perasaan canggung, saya mendekati dia di tempat parkir mobil TIM dan berpikir mungkin ini momen terbaik untuk menyapa lalu memperkenalkan diri saya. Kami berjabat tangan. 

Saya merasakan kekasaran kulitnya dan kehangatan senyumnya. Walaupun bertukar nomor telepon, kami tidak saling mengontak. Tidak ada tujuan mendesak. Tempat parkir TIM menyimpan jejak pertemuan kami. Saya teringat telapak tangannya.

Puisi

Pada akhir 2009, saya mengunjungi Julian Millie di kantornya di Monash University, Melbourne, Australia. Pada akhir percakapan kami, ia berkata, ”Apa kamu sudah membaca ini? Ini ada di Kompas edisi minggu lalu.”

Sekumpulan puisi Afrizal telah dipublikasikan dan menarik perhatian Julian. Dia memfotokopinya dan berkata, ”Kamu harus membacanya.” Dia bicara dengan antusiasme dan penuh keyakinan yang ciri khasnya.
Lambat laun saya mulai menerjemahkan puisi-puisi tersebut. Saya mengirimi Afrizal puisi yang telah diterjemahkan. Respons Afrizal mengejutkan: ia mengirimi saya versi pdf dari Pada Bantal Berasap (Yogyakarta: Omahsore, 2010). Ini adalah semacam undangan untuk bekerja sama, undangan untuk keterlibatan lebih jauh. Saya menaruh terjemahan ini ke dalam sebuah blog: Malna Variations. Dengan meletakkannya di sana, saya membuat terjemahan ini dapat diakses secara publik: mungkin ada yang bisa memberikan komentar, mengkritisi.

Beberapa orang menghubungi saya mengenai terjemahan tersebut: Wijnanda Deroo (fotografer keturunan Belanda yang berbasis di New York), Hasif Amini (editor dari Komunitas Salihara), dan seorang jurnalis dari The Guardian yang sedang mulai mengeksplorasi dan mendiskusikan ”sastra Indonesia”. Wijnanda bertanya kepada saya bagaimana untuk mengontak Afrizal. Buku fotografinya,  Indonesia, mencantumkan esai ”Kembang-kembang Kertas” yang dia minta
Afrizal untuk menuliskannya dan saya untuk menerjemahkannya. Ini adalah kolaborasi elektronik jarak jauh di antara orang-orang yang belum terlalu saling kenal. Perkenalan berdasarkan e-mail. Nama-nama di kotak surat. Dan kembali, satu teks melahirkan teks lain. Afrizal bekerja secara pesanan. Naskah puisi atau esai memang bisa berasal dari dorongan macam-macam.

Afrizalian: istilah ini sulit untuk didefinisikan. Mungkin ini adalah jalan pintas dalam berpikir dan analisis. Jika ini berarti sesuatu, setidaknya untuk saya, maka ini berkaitan dengan rasa dan sentuhan. Estetika afrizalian berarti keterlibatan dengan fisikalitas dari kota. Bagaimana tubuh saling bertubrukan dan bergesekan dengan tekstur kota, dalam berbagai ruang urban yang intens di kehidupan sehari-hari. Kota memang menyimpan memori yang baik nasional maupun personal. Puisi-puisi Afrizal adalah pergulatan terhadap kehidupan sensorial di dunia perkotaan. Obyek-obyek memiliki banyak memori: kita menanamkan obyek dengan perasaan, emosi, dan kenangan. Kita berbagi sejarah: dengan komputer, dengan koper, dengan kereta, sepatu dan celana. Ini semua sangat animistik, namun di sisi lain, ini juga sekuler, langsung, dan fisikal: fragmen dan subyek untuk disintegrasi dan dispersi yang segera.

Beberapa kata selalu kembali muncul di puisi-puisi Afrizal. Ini mungkin menjadi kunci untuk mendekati dan membongkar puisinya. Menyimpan, telapak tangan, dan telapak kaki adalah beberapa contoh. Sebagai contoh penggunaannya kata ”menyimpan”: Rel kereta masih menyimpan saham-saham VOC sampai Semarang. Tanah keraton yang menyimpan telur ayam’ (”Mantel Hujan Dua Kota”, halaman 58). Di buku Museum Penghancur Dokumen ada frasa ”berlibur dari sejarah” yang muncul dalam beberapa puisi (misalnya ”Ulang Tahun Bersama Wianta” dan ”Protes Letupan Kapur Sirih”). Ada beberapa tempat yang juga sering hadir dalam puisi Afrizal: hotel dan halaman belakang. Setahu saya, yang keduanya berfungsi sebagai sesuatu yang diabaikan, neglected. Dan, ”hotel” berfungsi sebagai tempat teladan dari pengalaman keurbanan. Pada sebuah kamar hotel, seorang merasa keterpencilannya dalam keramaian kehidupan urban.

Saya menghubungkan kata-kata ini pada sesuatu yang Afrizal katakan kepada saya setelah pertemuan tak terencana di restoran padang di Benhil: ”bahkan jika saya tidak menyukai kota ini, saya tidak bisa menghilangkannya dari memori tubuh saya”. Puisi-puisi dalam Pada Bantal Berasap tidak menawarkan interpretasi atas kota, emosi, atau pengalaman, tetapi sebaliknya mereproduksi kota, keterlibatan sensorial. Perasaan tidak bisa direpresentasikan ini yang tampaknya ia tunjukkan. Meski demikian, semacam poignancy muncul melalui kombinasi suara-suara yang berulang, kata benda yang berulang, dan kombinasi kata-kata yang tidak biasa.

Terkadang terasa mudah untuk mengatakan, ”ini tidak masuk akal” atau ”ini tidak bisa diterjemahkan”. Namun, di beberapa kasus, saya bersandar pada kesederhanaan struktur bahasanya, gayanya yang gambling, sederhana dan terus terang. Gaya afrizalian mungkin melibatkan permainan bahasa tertentu, tetapi ini bukan untuk mempermainkan pembaca. Saya tidak terlalu memedulikan mengenai apakah terjemahan saya terlihat ”literalistik” atau hasil akhirnya menjadi canggung. Puisi-puisi Afrizal berupaya mematahkan keikutsertaan kita dalam bahasa Indonesia, saya merasa peran terjemahan adalah untuk menciptakan afrizalian-English.


Saya mulai menerjemahkan puisi-puisi Afrizal untuk mengetahui dan membacanya. Saya tidak merasa bahwa saya telah selesai. Afrizal menulis terus; selalu menghasilkan esai, puisi, dan buku baru. Seorang penerjemah selalu mengatasi ketinggalannya. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar