|
KOMPAS,
21 Juli 2013
Menulis adalah personal,
menerjemahkan adalah personal. Pergerakan kata melibatkan perjumpaan dan
konfrontasi atas kelainan, perbedaan. Satu kata menghasilkan kata yang lain.
Satu interpretasi mengantarkan pada interpretasi yang lain.
Saya pertama kali mengalami puisi
Afrizal sebagai sebuah entitas visual: balok-balok kata yang solid dalam
halaman, dengan tepi lurus. Puisi Afrizal terasa padat. Dan pada kebanyakan
waktu, saya tidak dapat menembusnya.
Pada tahun 2005, saya menghadiri
sebuah acara sastra di Teater Utan Kayu (TUK). Saya datang dengan beberapa
teman dari Yayasan Lontar. Acara tersebut dihadiri cukup banyak orang. Tentu
karena TUK adalah pusat seni yang mutakhir dan fashionable pada saat
itu. Ini kali pertama puisi Afrizal terbuka dengan lahan makna yang dapat
terakses oleh saya. Apa yang sebelumnya terasa sangat visual menjadi oral dan
aural. Tubuh kecil Afrizal ternyata adalah sumber suara yang kuat, dengan mata
tajam dan bersinar.
Pembacaannya ditandai dengan tindakan fisik. Suaranya
memenuhi teater yang kecil dan para audiens menonton dalam diam. Kata-kata dan
suara-suara, makna bertubrukan, menempa orang-orang berbeda. Konflik dan
dialog.
Sebagaimana Afrizal menggambarkan
”berada dalam kepungan hujan” (Malna 2013, halaman 101) dalam esai di bagian
terakhir Museum Penghancur Dokumen,
pada waktu itu, saya juga merasa ada ”di dalam kepungan suara Afrizal”. Suara
mendominasi pengalaman keberadaan di suatu tempat pada suatu saat.
Ini adalah momen yang kuat dan
menghasilkan memori yang kuat pula. Ada memori suara Afrizal yang tersimpan
dalam ruangan TUK itu. Waktu berselang, mungkin tahun 2007, saya melihat Afrizal
di tempat parkir mobil di Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya telah membaca lagi
beberapa puisi Afrizal dan tetap menganggapnya sulit untuk ditembus. Saya
mencoba mengingat kembali momen di TUK untuk membantu membangkitkan bunyi.
Namun, puisi tersebut tetap menjadi kata-kata di halaman tanpa gerakan puitis.
Maka, tahun 2007, saya telah mendengar mitos Afrizal Malna: penulis puisi yang
nomaden, selalu melakukan perjalanan, selalu mengembara. Seorang penulis lakon
yang berafiliasi dengan Teater Sae
yang terkenal dan berpengaruh. Walau dengan perasaan canggung, saya mendekati
dia di tempat parkir mobil TIM dan berpikir mungkin ini momen terbaik untuk
menyapa lalu memperkenalkan diri saya. Kami berjabat tangan.
Saya merasakan
kekasaran kulitnya dan kehangatan senyumnya. Walaupun bertukar nomor telepon,
kami tidak saling mengontak. Tidak ada tujuan mendesak. Tempat parkir TIM
menyimpan jejak pertemuan kami. Saya teringat telapak tangannya.
Puisi
Pada akhir 2009, saya mengunjungi
Julian Millie di kantornya di Monash University, Melbourne, Australia. Pada
akhir percakapan kami, ia berkata, ”Apa kamu sudah membaca ini? Ini ada
di Kompas edisi minggu lalu.”
Sekumpulan puisi Afrizal telah
dipublikasikan dan menarik perhatian Julian. Dia memfotokopinya dan berkata, ”Kamu
harus membacanya.” Dia bicara dengan antusiasme dan penuh keyakinan yang ciri
khasnya.
Lambat laun saya mulai
menerjemahkan puisi-puisi tersebut. Saya mengirimi Afrizal puisi yang telah diterjemahkan.
Respons Afrizal mengejutkan: ia mengirimi saya versi pdf dari Pada Bantal Berasap (Yogyakarta:
Omahsore, 2010). Ini adalah semacam undangan untuk bekerja sama, undangan untuk
keterlibatan lebih jauh. Saya menaruh terjemahan ini ke dalam sebuah blog: Malna Variations. Dengan meletakkannya
di sana, saya membuat terjemahan ini dapat diakses secara publik: mungkin ada
yang bisa memberikan komentar, mengkritisi.
Beberapa orang menghubungi saya
mengenai terjemahan tersebut: Wijnanda Deroo (fotografer keturunan Belanda yang
berbasis di New York), Hasif Amini (editor dari Komunitas Salihara), dan
seorang jurnalis dari The Guardian yang sedang mulai mengeksplorasi
dan mendiskusikan ”sastra Indonesia”. Wijnanda bertanya kepada saya bagaimana
untuk mengontak Afrizal. Buku fotografinya, Indonesia, mencantumkan esai
”Kembang-kembang Kertas” yang dia minta
Afrizal untuk menuliskannya dan saya untuk menerjemahkannya. Ini adalah
kolaborasi elektronik jarak jauh di antara orang-orang yang belum terlalu
saling kenal. Perkenalan berdasarkan e-mail. Nama-nama di kotak surat. Dan
kembali, satu teks melahirkan teks lain. Afrizal bekerja secara pesanan. Naskah
puisi atau esai memang bisa berasal dari dorongan macam-macam.
Afrizalian: istilah ini sulit untuk
didefinisikan. Mungkin ini adalah jalan pintas dalam berpikir dan analisis.
Jika ini berarti sesuatu, setidaknya untuk saya, maka ini berkaitan dengan rasa
dan sentuhan. Estetika afrizalian berarti keterlibatan dengan fisikalitas dari
kota. Bagaimana tubuh saling bertubrukan dan bergesekan dengan tekstur kota,
dalam berbagai ruang urban yang intens di kehidupan sehari-hari. Kota memang
menyimpan memori yang baik nasional maupun personal. Puisi-puisi Afrizal adalah
pergulatan terhadap kehidupan sensorial di dunia perkotaan. Obyek-obyek
memiliki banyak memori: kita menanamkan obyek dengan perasaan, emosi, dan
kenangan. Kita berbagi sejarah: dengan komputer, dengan koper, dengan kereta,
sepatu dan celana. Ini semua sangat animistik, namun di sisi lain, ini juga
sekuler, langsung, dan fisikal: fragmen dan subyek untuk disintegrasi dan
dispersi yang segera.
Beberapa kata selalu kembali muncul
di puisi-puisi Afrizal. Ini mungkin menjadi kunci untuk mendekati dan
membongkar puisinya. Menyimpan, telapak tangan, dan telapak kaki adalah
beberapa contoh. Sebagai contoh penggunaannya kata ”menyimpan”: Rel kereta
masih menyimpan saham-saham VOC sampai Semarang. Tanah keraton yang menyimpan
telur ayam’ (”Mantel Hujan Dua Kota”,
halaman 58). Di buku Museum
Penghancur Dokumen ada frasa ”berlibur dari sejarah” yang muncul dalam
beberapa puisi (misalnya ”Ulang Tahun Bersama Wianta” dan ”Protes Letupan Kapur
Sirih”). Ada beberapa tempat yang juga sering hadir dalam puisi Afrizal: hotel
dan halaman belakang. Setahu saya, yang keduanya berfungsi sebagai sesuatu yang
diabaikan, neglected. Dan,
”hotel” berfungsi sebagai tempat teladan dari pengalaman keurbanan. Pada sebuah
kamar hotel, seorang merasa keterpencilannya dalam keramaian kehidupan urban.
Saya menghubungkan kata-kata ini
pada sesuatu yang Afrizal katakan kepada saya setelah pertemuan tak terencana
di restoran padang di Benhil: ”bahkan
jika saya tidak menyukai kota ini, saya tidak bisa menghilangkannya dari memori
tubuh saya”. Puisi-puisi dalam Pada
Bantal Berasap tidak menawarkan interpretasi atas kota, emosi, atau
pengalaman, tetapi sebaliknya mereproduksi kota, keterlibatan sensorial.
Perasaan tidak bisa direpresentasikan ini yang tampaknya ia tunjukkan. Meski
demikian, semacam poignancy muncul
melalui kombinasi suara-suara yang berulang, kata benda yang berulang, dan
kombinasi kata-kata yang tidak biasa.
Terkadang terasa mudah untuk
mengatakan, ”ini tidak masuk akal”
atau ”ini tidak bisa diterjemahkan”.
Namun, di beberapa kasus, saya bersandar pada kesederhanaan struktur bahasanya,
gayanya yang gambling, sederhana dan
terus terang. Gaya afrizalian mungkin melibatkan permainan bahasa tertentu,
tetapi ini bukan untuk mempermainkan pembaca. Saya tidak terlalu memedulikan
mengenai apakah terjemahan saya terlihat ”literalistik”
atau hasil akhirnya menjadi canggung. Puisi-puisi Afrizal berupaya mematahkan
keikutsertaan kita dalam bahasa Indonesia, saya merasa peran terjemahan adalah
untuk menciptakan afrizalian-English.
Saya mulai menerjemahkan
puisi-puisi Afrizal untuk mengetahui dan membacanya. Saya tidak merasa bahwa
saya telah selesai. Afrizal menulis terus; selalu menghasilkan esai, puisi, dan
buku baru. Seorang penerjemah selalu mengatasi ketinggalannya. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar