|
KOMPAS,
21 Juli 2013
Akhir Juni lalu, saya diminta membuka peringatan 150 tahun
perayaan Himpunan Tjinta Teman, organisasi sosial etnis China di kota Padang
yang berdiri tahun 1863. Periode ketika pelabuhan Padang menjadi salah satu
pelabuhan penting Hindia Belanda dengan 39 maskapai asing yang mengelola lalu
lintas rempah hingga kopi. Organisasi ini awalnya tumbuh dari Triad dan berubah
menjadi organisasi sosial. Direncanakan tanggal 22 Agustus ini, organisasi itu
menyelenggarakan pesta budaya dengan karnaval multikultur.
Selepas orasi, saya tidak mungkin melewatkan minum kopi
sambil bincang-bincang di pelabuhan penuh bangunan heritage ini.
Salah satu yang dibicarakan adalah Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), Wakil
Gubernur DKI Jakarta yang bergaya ceplas-ceplos, sering langsung pada sasaran
yang awalnya menjadikan keterkejutan. Pembicaraan tentang Ahok dalam konstelasi
peran politik etnis China dan pemilu tidak hanya saya alami di warung kopi
pelabuhan Padang, tetapi juga di berbagai ruang perjalanan di sudut negeri ini.
Berdiri di pelabuhan tua Padang, saya selalu membayangkan
pelabuhan sebagai migrasi multikultur terbesar dalam sejarah Indonesia. Saya
mencoba membayangkan komedi stambul (sandiwara ) yang didirikan August Mahei
dan dibiayai Yap Goan They (1891) yang mengelana dari Penang, Sumatera, hingga
Jawa membawa bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa pemersatu. Komedi
stambul yang kemudian banyak bermigrasi menjadi pembuat film dan artis film
pasca-1900.
Periode itu, etnis China menjadi pelopor penting komedi
stambul dan bangunan awal pembuatan film Indonesia, sebutlah The Teng Cun
dengan film seperti Bunga Ros dari Tjikembang hingga Lima
Siloeman Tikoes (1936). Namun, penulis sejarah sering menyebut etnis China
hanya membuat film komersial murahan, terlebih era proklamasi ketika
nasionalisme tumbuh, disebut kurang memperjuangkan karakter Indonesia.
Alhasil, etnis China senantiasa memiliki stigma dosa asal
yang hanya mementingkan ekonomi tanpa nasionalisme. Padahal sejarah film
Indonesia mencatat, ketika Usmar Ismail kekurangan dana membuat filmDarah dan
Doa (1950) yang disebut tonggak sejarah film Indonesia, pengusaha etnis
China ikut memberikan dana.
Hemat saya, film-film etnis China di awal sejarah film justru
membawa masyarakat saat itu mampu bermigrasi dalam kosmopolitan, lewat ramuan
campur aduk antara formula sandiwara yang unsurnya diambil dari seni tradisi
dengan tontonan India, Persia, China, dan Hollywood. Jangan lupa pula, sejarah
bintang film Indonesia awalnya tumbuh dari bintang panggung yang kebanyakan
beretnis China, sebutlah Fifi Young, terinspirasi bintang film populer
Perancis, ”Fifi D’Orsay”, yang nama aslinya Nonie Tan. Fifi Young menghidupkan
86 film sejak film Keris Mataram (1940).
Dengan cara itu pula, film-film produksi etnis China, justru
lewat visual alam Indonesia dalam ramuan kosmopolitan serta basutan bahasa
Melayu, ikut menyumbang proses tumbuhnya rasa memiliki wilayah Indonesia yang
masih disebut Hindia Belanda.
Catatan di atas hanyalah bagian sisi kecil dari sejarah
panjang persoalan stigma dan peran etnis China dalam sejarah negeri ini. Oleh
karena itu, kemunculan Ahok menjadi sebuah tantangan tersendiri. Yang pasti,
kinerja Ahok akan selalu dicermati khusus. Namun, sekiranya Ahok mampu menjadi
negarawan yang dicintai rakyat, maka perlahan membuka trauma dan berbagai
stigma etnis China dalam peran keindonesiaan.
Hemat saya, diperlukan banyak Ahok dalam politik di Indonesia
sehingga kita bisa kembali pada sejarah awal politik Indonesia, banyak etnis
yang berpartisipasi dari Jawa, Padang, Maluku, China, Arab, dan seterusnya.
Sebuah sejarah yang dibentuk lewat migrasi pelabuhan di pulau-pulau Indonesia,
yang merupakan waterfront kosmopolitan
dunia. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar