Senin, 22 Juli 2013

Ada Apa dengan Ahok?

Ada Apa dengan Ahok?
Garin Nugroho ;  Sutradara Film
KOMPAS, 21 Juli 2013


Akhir Juni lalu, saya diminta membuka peringatan 150 tahun perayaan Himpunan Tjinta Teman, organisasi sosial etnis China di kota Padang yang berdiri tahun 1863. Periode ketika pelabuhan Padang menjadi salah satu pelabuhan penting Hindia Belanda dengan 39 maskapai asing yang mengelola lalu lintas rempah hingga kopi. Organisasi ini awalnya tumbuh dari Triad dan berubah menjadi organisasi sosial. Direncanakan tanggal 22 Agustus ini, organisasi itu menyelenggarakan pesta budaya dengan karnaval multikultur.

Selepas orasi, saya tidak mungkin melewatkan minum kopi sambil bincang-bincang di pelabuhan penuh bangunan heritage ini. Salah satu yang dibicarakan adalah Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), Wakil Gubernur DKI Jakarta yang bergaya ceplas-ceplos, sering langsung pada sasaran yang awalnya menjadikan keterkejutan. Pembicaraan tentang Ahok dalam konstelasi peran politik etnis China dan pemilu tidak hanya saya alami di warung kopi pelabuhan Padang, tetapi juga di berbagai ruang perjalanan di sudut negeri ini.

Berdiri di pelabuhan tua Padang, saya selalu membayangkan pelabuhan sebagai migrasi multikultur terbesar dalam sejarah Indonesia. Saya mencoba membayangkan komedi stambul (sandiwara ) yang didirikan August Mahei dan dibiayai Yap Goan They (1891) yang mengelana dari Penang, Sumatera, hingga Jawa membawa bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa pemersatu. Komedi stambul yang kemudian banyak bermigrasi menjadi pembuat film dan artis film pasca-1900.

Periode itu, etnis China menjadi pelopor penting komedi stambul dan bangunan awal pembuatan film Indonesia, sebutlah The Teng Cun dengan film seperti  Bunga Ros dari Tjikembang hingga Lima Siloeman Tikoes (1936). Namun, penulis sejarah sering menyebut etnis China hanya membuat film komersial murahan, terlebih era proklamasi ketika nasionalisme tumbuh, disebut kurang memperjuangkan karakter Indonesia.
Alhasil, etnis China senantiasa memiliki stigma dosa asal yang hanya mementingkan ekonomi tanpa nasionalisme. Padahal sejarah film Indonesia mencatat, ketika Usmar Ismail kekurangan dana membuat filmDarah dan Doa (1950) yang disebut tonggak sejarah film Indonesia, pengusaha etnis China ikut memberikan dana.

Hemat saya, film-film etnis China di awal sejarah film justru membawa masyarakat saat itu mampu bermigrasi dalam kosmopolitan, lewat ramuan campur aduk antara formula sandiwara yang unsurnya diambil dari seni tradisi dengan tontonan India, Persia, China, dan Hollywood. Jangan lupa pula, sejarah bintang film Indonesia awalnya tumbuh dari bintang panggung yang kebanyakan beretnis China, sebutlah Fifi Young, terinspirasi bintang film populer Perancis, ”Fifi D’Orsay”, yang nama aslinya Nonie Tan. Fifi Young menghidupkan 86 film sejak film Keris Mataram (1940).

Dengan cara itu pula, film-film produksi etnis China, justru lewat visual alam Indonesia dalam ramuan kosmopolitan serta basutan bahasa Melayu, ikut menyumbang proses tumbuhnya rasa memiliki wilayah Indonesia yang masih disebut Hindia Belanda.

Catatan di atas hanyalah bagian sisi kecil dari sejarah panjang persoalan stigma dan peran etnis China dalam sejarah negeri ini. Oleh karena itu, kemunculan Ahok menjadi sebuah tantangan tersendiri. Yang pasti, kinerja Ahok akan selalu dicermati khusus. Namun, sekiranya Ahok mampu menjadi negarawan yang dicintai rakyat, maka perlahan membuka trauma dan berbagai stigma etnis China dalam peran keindonesiaan.


Hemat saya, diperlukan banyak Ahok dalam politik di Indonesia sehingga kita bisa kembali pada sejarah awal politik Indonesia, banyak etnis yang berpartisipasi dari Jawa, Padang, Maluku, China, Arab, dan seterusnya. Sebuah sejarah yang dibentuk lewat migrasi pelabuhan di pulau-pulau Indonesia, yang merupakan waterfront kosmopolitan dunia. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar