Selasa, 23 Juli 2013

Aku Punya Cinta dan Sang Pangeran

Aku Punya Cinta dan Sang Pangeran
Mohamad Sobary ;  Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
KORAN SINDO, 22 Juli 2013



Sebuah film Korea, berjudul Yisan—film sejarah, dan panjang—memotret tiga generasi di dalam ”noble family” yang anggun, dan agung, tapi kekuasaan terasa serba ”panas”. Generasi pertama, kakek, masih berkuasa efektif, sebagai raja, dan wibawanya besar sekali. 

Generasi kedua, ”prince crown”, pewaris takhta, yang juga hebat. Dan generasi ketiga, sang cucu, putra dari putra mahkota, yang masih bocah. Baginda orang baik hati, cerdas, dan bijaksana, tapi masih bisa dimainkan oleh para pejabat keji di birokrasi keraton. Putra mahkota difitnah, dan fitnah itu disampaikan kepada baginda raja, bahwa dia diamdiam hendak melakukan kudeta terhadap ayahnya sendiri, karena tak sabar menanti giliran menjadi raja. 

Fitnah itu manjur. Raja memutuskan, dengan sikap raja beneran, tegas, jelas, tanpa tawar menawar, agar anaknya dihukum. Ringkas cerita, putra mahkota merasa sangat tertekan dan sudah tak lagi punya daya tahan memikul hukuman di penjara. Anaknya, yang disayangi baginda, sang kakek sendiri, menjenguknya. Sang ayah, putra mahkota, membuka rahasia kepada anaknya, dan si anak harus menyampaikan suatu bukti—bahwa putra mahkota tak bersalah—kepada baginda yang sedang dalam perjalanan turba ke daerah-daerah. 

Laporan kebenaran itu terlambat. Sang ayah meninggal di penjara. Sang kakek juga terpukul. Beliau memelihara cucunya baik-baik, dan sangat waspada terhadap kejahatan orang di sekitarnya. Dia tak boleh tampak cerdas. Tiap saat harus berperilaku biasa-biasa saja agar tak mempersulit diri sendiri. Jika perlu, dia harus tak kelihatan bahwa dia keluarga keraton, yang berhak mengganti tahta sang kakek. 

Tapi kakeknya mengajarkan makna cinta pada sang cucu. ”Raja harus punya cinta. ” sabda baginda. Kekuasaan dipertahankan, dan tugas-tugas dipanggul dengan segenap tanggung jawab, demi mewujudkan cinta itu. Dan bagi seorang raja, cintanya yang terbesar, harus dilimpahkan kepada rakyat. Sang cucu memahami baikbaik pesan kakeknya. Dia mempunyai dana khusus, dalam jumlah besar. Dia tak boleh membelanjakan dananya untuk hal yang tak jelas. 

Segenap pengeluaran harus ada catatan, dan laporan harus dibuat, untuk baginda. Tapi dia tak punya laporan. Tukang fitnah melapor bahwa cucu baginda royal, boros dan suka berfoya- foya. Dia pun dihukum. Tapi ada laporan lain yang membelanya. Dia tahu,sang cucu tak bisa membuat catatan pengeluaran dan tak bisa melaporkannya pada baginda karena duit itu dibelanjakan di jalan yang menurut ukuran birokrasi kerajaan tak lazim: untuk menebus orang-orang Korea, rakyat jelata yang miskin dan dianggap hina, yang hendak dijual ke negeri China. 

Sang cucu berpikir, itu bangsanya sendiri, dan rakyatnya, kenapa dijual? Dia wajib menghalangi kejahatan ”human trafficking” yang memalukan dan merendahkan derajat bangsanya itu. Ini dilakukan demi apa yang diajarkan baginda, sang kakek, bahwa dia harus mencintai rakyatnya. Dia siap dihukum lagi bila ”cinta” pada rakyat, menyebabkannya masuk bui. 

Kebenaran berbicara. Sang kakek terpesona mendengar cucunya memiliki tanggung jawab begitu besar pada rakyatnya. Sang cucu memiliki cinta yang diajarkannya. Sang kakek bangga. Trah keluarga, yang dijaga susah payah oleh baginda, selamat. Tak lama sesudah itu, sang cucu dinobatkan menjadi raja. Beliau, sekali lagi, raja yang punya cinta, seperti diajarkan sang kakek. 

Bukan sekadar Film 

Kerajaan, dan birokrasi kerajaan, selalu penuh intrik. Demi memperoleh, atau mempertahankan jabatan, langkah-langkah politik ditempuh dengan seksama, dan mengintip- ngintip serba penuh rahasia. Telik sandi disebar. Ada pihak yang harus ‘dikuntit’ atau diselidiki dengan diam-diam. Ada pihak yang harus difitnah. Kalau perlu—dan biasanya selalu perlu—dikorbankan. 

Ada yang dijebak dan dibunuh oleh jagoan yang menyamar. Ada yang diracun secara rahasia, sedikit demi sedikit. Kemunafikan, dan kejahatan dipelihara secara sangat rahasia. Sikap lembut, senyum menjebak, dan kebiasaan membungkuk-bungkuk, dalam kepura-puraan yang sempurna, menjadi sarana memperoleh jabatan— kadang kadang-kadang takhta—yang didambakan. Sejarah diolah kembali menjadi film, barang lama ditampilkan menjadi suatu realitas baru. 

Kemudian jadilah film itu. Tapi ini bukan sekedar film. Ini juga merupakan kemampuan seniman bangsa Korea, yang lihai ”menerjemahkan” kebutuhan bangsanya hari ini, untuk bisa belajar dan mengagumi apa yang hebat dan mulia di masa lalu. Keagungan itu milik bangsa Korea. Raja yang punya cinta itu rajanya bangsa Korea. Keluarga raja tersebut kebanggaan bangsa Korea juga. 

Tak adakah sejarah bangsa kita, yang menampilkan keagungan, yang bisa membikin kita terpesona? Tak adakah contoh di masa lalu, yang bisa kita tonton dan kita jadikan obat menyembuhkan sakit parah yang kita derita; sakit serakah, egois, dan haus kekuasaan, haus harta dan tak malu dipenjara karena merampok harta kekayaan dan jatah hidup rakyatnya sendiri? Mengapa begitu berkebalikan dari bangsa Korea? Tidak. Kita punya sejarah. Kita punya tokoh yang bisa menjadi kekaguman dan suri teladan. 

Di tengah pusaran keserakahan dan ambisi atas kekuasaan itu, kita punya kenangan mengenai orang besar, yang pernah mengambil tindakan besar. Dibandingkan dengan kekayaan kita yang tersimpan sebagai warisan kebudayaan dari generasi zaman yang sudah lama berlalu, problem kita sekarang ini ibaratnya hanya perkara kecil. Kita menanti para seniman kita bekerja, dan menggarap hal-hal besar, menjadi hiburan, inspirasi dan kekuatan penggerak agar kita belajar lagi untuk hidup yang lebih baik, dan lebih cocok untuk keperluan zaman ini. 

Kita menantikan ditampilkannya orang-orang besar, yang berkuasa, dan yang juga punya cinta pada rakyatnya. Kita kehausan teladan. Kita berada dalam kekeringan inspirasi. Tapi jika khasanah budaya kita dibuka, kita akan tahu, bukan hanya bangsa Korea yang besar. Bukan hanya bangsa Korea yang punya cinta. Kita pun layak bicara: aku punya cinta. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar