Senin, 24 Desember 2012

Kretek sebagai Warisan Kebudayaan


Kretek sebagai Warisan Kebudayaan
Mohamad Sobary ;  Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia
SINDO, 24 Desember 2012



Pagi itu hujan deras.Kota Yogya gelap. Di sebelah selatan, “tlatah” Bantul, juga gelap. Hujan merata di seluruh wilayah kesultanan itu. 

Padahal, seminar tentang “Kretek Sebagai Warisan Budaya Nusantara Untuk Dunia” akan berlangsung di Padepokan Bagong Kusudiarjo, Bantul, di tempat yang gelap karena hujan itu. Hujan berpengaruh terhadap kehadiran para undangan. Ditambah satu hal lagi: Seminar itu jatuh pada Jumat, yang kita sebut hari pendek, karena kegiatan terhenti sementara untuk merayakan Jumatan bersama di masjid. Para pembicara, terdiri dari tokoh ilmuwan, seniman, dosen, yang berdomisili di Yogyakarta. 

Prof.Susetyawan, dariUGM, menyampaikan pemikirannya mengenai kretek dan solidaritas sosial di dalam pergaulan masyarakat. Kretek memang barang yang dibeli. Dengan begitu sebungkus kretek,yang baru saja dibeli tadi,
menjadi milik pribadi sang pembeli. Tapi dalam pergaulan sosial, barang milik pribadi itu dibuka, dan ketika sang pemilik menyulut kretek itu, yang lain pun mengambil sebatang, dan menyulutnya dengan rasa kekeluargaan yang nyaman. 

Milik pribadi tadi tiba-tiba berubah menjadi milik bersama. Individu lebur ke dalam kolektivitas, tanpa, tentu saja, menghilangkan ciri identitas dan aspirasi pribadi. Dan di sana kebersamaan ditata. Kretek menjadi kekuatan pengikat kebersamaan itu. Begitulah kehidupan sosial dijalin, dibikin menjadi suatu kebiasaan yang bersifat “ajek”, tertib,dan berkesinambungan melintasi hari, minggu, bulan dan tahun, sambung bersambung dalam keabadian. Solidaritas sosial tampak jelas, dan Prof. Susetyawan menggarisbawahi inti kehidupanyang dicita-citakan bersama: kebahagiaan.

Tak ada konflik sosial,tak ada “klaim”pemilikan dan tuntutan hak atas sebatang, atau sebungkus kretek. Dengan kata lain,kretek bukan sekadar meneguhkan solidaritas sosial dan mengukuhkan kebersamaan yang abadi tadi, melainkan juga memberi jiwa, yang disebut kebahagiaan di atas tadi. Jalinan panjang yang dimulai dari mengkretek, berbagi bersama untuk meneguhkan solidaritas sosial, untuk memperoleh kebahagiaan tersebut, merupakan wujud dari elemen kebudayaan kita. Itu menjadi kekayaan kita bersama. Para pembicara, di sesi satu maupun dua, masing-masing berbagi “renungan” menarik dengan para hadirin. Prof. Laksono, menginterpretasikan tindakan “mengkretek” sebagai ekspresi orang yang sedang bertutur, berbicara dalam diam, mengungkapkan banyak hal dalam kediamannya itu.

Dalam diam sang pengretek menyedot asap, dan menghembuskannya kembali dalam kenikmatan tiada tara. Di sana suasana kebebasan—bebas dari rutinitas, bebas dari halhal teknis,bebas dari ancaman dan tekanan ini dan itu—dinikmati secara mendalam. Tapi apa arti kebebasan pribadi seperti ini? Kebebasan akan hilang maknanya jika tak diikuti kesadaran dan tindakan yang bersifat revolusioner. Maka bagi Prof. Laksono, kebebasan bertutur dalam diam ketika seseorang sedang mengkretek, tak boleh berhenti pada kenikmatan pribadi. 

Hasrat memperoleh nikmat, harus berubah menjadi hasrat menikmati kebebasan dam apa yang merupakan wujud kebebasan pribadi harus diberi makna politik yang jelas: kita harus merdeka dari ancaman atau tekanan siapa pun. Renungan Prof. Laksono itu, dengan kata lain bisa diungkapkan menjadi lebih luas lagi. Tindakan revolusioner tadi dengan sendirinya menjadi begitu penting untuk mewujudkan hasrat kebebasan di dalam jiwa kita menjadi kebebasan dalam jalinan sosial-politik,kebudayaan, ekonomi yang sangat luas.

Kretek sebagai kekayaan budaya kita itu kita nikmatidankitaselamatkan dari agar tidak dirampas—mungkin lebih tegas dirampok— oleh kekuatan lain yang gigih mengembangkan strategi untuk melakukan dominasi untuk menguasai aset bisnis yang luar biasa besar itu. Milik bangsa kita adalah kekayaan kita. Karya, cipta, dan wujud kreativitas bangsa kita,tak boleh dirampas bangsa lain. Hak budaya kita harus kita pertahankan. Kita bisa menyebutnya sebagai karya seluruh Nusantara, hasil ciptaan seluruh Nusantara, dan kreativitas seluruh Nusantara. Pendeknya, ini kebudayaan Nusantara.

Jika di dalam perdagangan global,dan aturan-aturan global ini ada keadilan, maka dengan sendirinya kretek kita yang juga telah memasuki wilayah global ini akan dengan sendirinya diterima sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Tapi aturan global tidak adil. Kretek ditolak dengan menggunakan argumen kesehatan. Kretek ditolek dengan menggunakan moral. Kretek ditolak dengan menggunakan argumen apa saja, agar kretek mati dan pengaruh kebudayaannya tak terasa. 

Kita melawan ketidakadilan dunia. Kita melawan hegemoni. Kita melawan penindasan kolonialisme dan imperialisme yang lahir kembali melalui perdagangan dunia, seperti dulu, ketika dalam rentang waktu panjang sekali kita ditindas dan dikuasai kekuatan dagang dunia yang serakah. Hasrat kebebasan, yang terpancar dalam tindakan mengkretek, yang diam, tanpa kata-kata, dalam cara pandang orang Jawa menjadi jelas: jika sepi dunia lahiriahnya,maka ramailah dunia batinnya. Dan sebaliknya, bila dunia lahirnya ramai, bising, meriah, maka dunia batinnya sunyi sepi. 

Ekspresi lahiriah dan batiniah sering berkebalikan. Ekspresi lahiriah yang sunyi senyap, tanpa kata, tanpa suara, tanpa bunyi apa pun, memberi gambaran yang sangat jelas betapa sibuk kerja batin manusia. Orang yang diam “membatin” banyak hal, tergantung konteks sosial-politik dan kebudayaan yang melingkupinya. Jika secara politik dan kebudayaan kita diancam kekuatan lain yang hendak menerkam kita,“diam” kita berarti kesibukan merumuskan hasrat kemerdekaan.

Orang yang terancam tak perlu berkata-kata. Kita cukup diam dan merumuskan bagaimana cara kita merdeka. Dan seperti disebut di atas, merdeka dalam diam, tidak cukup.Kita harus memiliki tindakan revolusioner untuk mewujudkan tatanan kehidupan politik yang jelas: merdeka di dalamjiwa,sekaligusmerdekadi dalam tatanan dunia sosial kita. Hanya dengan begitu, kita bisa mempertahankan kelestarian kretek sebagai warisan kebudayaan nusantara untuk dunia melalui aturan dunia yang sudah terumuskan di dalam perdagangan bebas. 

Jika bangsa lain bebas hadir di halaman kita, maka kita bisa bebas memasuki bukan hanya halaman, melainkan juga dapur mereka. Ini momentum penting bagi kita untuk menjadi pemain, dan turut mengatur permainan dunia yang adil. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar