Kamis, 31 Oktober 2019

Penghormatan untuk Sang Pemberani yang Solutif

Penghormatan untuk Sang Pemberani yang Solutif

Oleh :  HAMID AWALUDIN

KOMPAS, 24 Oktober 2019 11:38 WIB


Tunai sudah pengabdian Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden RI pada 20 Oktober 2019. Ia dua kali menduduki posisi terhormat itu secara tidak berturut. Ia berhenti tatkala bangsa ini tetap menghendakinya berada di tempatnya. Ia berhenti di saat rakyat mencapai puncak kecintaannya kepada pemimpin.

Rasanya, belum ada pejabat di negeri ini yang berhenti dari jabatan begitu dielukan secara ikhlas. Publik seolah enggan melepaskannya. Kepergiannya bakal dirindukan. Jusuf Kalla (JK) berhenti dengan kenangan manis yang selalu dikenang bangsa ini.

Bulan-bulan dan minggu-minggu terakhir sebelum ia meletakkan jabatannya, institusi sosial, lembaga pemerintahan, dan media berpacu untuk memberi penghormatan dengan berbagai format acara tribute. Semuanya dengan motif tunggal, menghargai jasa JK.

Lalu, orang pun bertanya, mengapa JK begitu dicintai oleh rakyat yang dipimpinnya? Bukankah fakta yang selama ini kita saksikan di berbagai tempat begitu banyak pemimpin berhenti atau dihentikan secara paksa dan memperoleh cercaan, penghinaan, bahkan hukuman hukum atau moral.

Solutif

JK dielukan dan dirindukan lantaran kegesitannya menyelesaikan soal. Sepelik apa pun ihwal yang dihadapi bangsa ini, semuanya bisa diselesaikan oleh JK. Tak ada soal tanpa jawaban. Tak ada penyakit tanpa obat.

JK selalu hadir di tengah kemelut yang dihadapi bangsa ini; apakah itu masalah kebijakan, masalah bencana alam, atau lilitan birokrasi yang mengimpit tanpa berkesudahan. Singkatan namanya, JK, digunakan rakyat sebagai singkatan dari jalan keluar.

Mengurai benang kusut seolah menjadi spesialisasi JK. Ia tidak pernah membiarkan sesuatu jadi masalah berkepanjangan. Badannya tidak sekadar lincah bergerak kian ke mari menyelesaikan soal, tetapi kecerdikannya dalam menyederhanakan masalah jauh lebih penting. Kecerdikan menemukan formula jitu atas segala soal membuatnya enteng dalam mengambil keputusan.

Bagi seorang JK, dalam memimpin, tidak boleh ada kata bottle neck yang menghambat. Air pelayanan harus tetap mengalir tanpa hambatan. Aturan yang tumpang tindih dan membelit diterjangnya.

Hanya kitab suci yang tidak boleh diubah oleh manusia. Semua aturan yang menghambat dan berbenturan satu dengan lainnya harus diubah. Aturan diubah untuk memberi kepastian dan memudahkan urusan. Begitu prinsip pelayanan JK.

Lantaran itulah almarhum mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kwan Yew dengan tegas mengatakan, ”Sayang Jusuf Kalla itu hanya Wakil Presiden.” Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Ma’arif dengan lantang pernah menyatakan, ”JK itu the real president.”

Kecerdikan JK dilengkapi dengan keikhlasannya dalam bekerja. Tidak ada yang pelik bagi seorang JK karena segalanya berawal dari sikap batin yang bernama ikhlas.

Dari sikap batin itu pulalah mengapa JK seolah tidak pernah merasa letih. Ia seolah tidak mengenal kehabisan energi dan semangat. Ia melewati segala rintangan dengan enteng. Maka, tak heran, menjelang masa pengabdiannya berahir, semua orang, terutama kalangan pengusaha, politisi, dan aparat pemerintahan, gelisah dengan sebuah pertanyaan, ”Apa yang terjadi apabila JK berhenti kelak dari pemerintahan?”

JK selalu hadir di tengah kemelut yang dihadapi bangsa ini; apakah itu masalah kebijakan, masalah bencana alam, atau lilitan birokrasi yang mengimpit tanpa berkesudahan. Singkatan namanya, JK, digunakan rakyat sebagai singkatan dari jalan keluar.
Titik anjak yang bernama ikhlas itu jugalah yang membuat seorang JK sangat berani dalam mengambil kebijakan atau keputusan. Jika kamu ikhlas, pasti berani, dan tidak ada satu aspek kehidupan pun yang tidak memerlukan keputusan, dan hanya orang yang berani bisa mengambil keputusan, begitu prinsip JK.

Sebagai pejabat, dengan modal ikhlas dan berani, JK tidak pernah menghindar dari pers dan pers pun memperlakukannya sebagai sahabat, bukan sekadar sumber berita. JK sangat terbuka memberi informasi. Menurut JK, jangan ada yang ditutup-tutupi. Pers justru membantu pemerintah untuk menghilangkan persangkaan, gosip, serta fitnah, baik terhadap negara maupun kepada yang lainnya.

Hulu mata air yang bernama keikhlasan yang mengalirkan oase keberaniannya membuat JK berbeda banyak dengan pemimpin lainnya. Ia berani, misalnya, tampil di pengadilan membela mantan anak buahnya dalam kasus korupsi.

Bagi JK, yang benar harus benar, yang salah harus disalahkan. Sikap yang berani membela anak buah itulah yang menyebabkan para menteri atau pejabat pemerintahan lainnya merasa sangat kehilangan dan bakal merindukan JK.

JK bisa saja sangat marah terhadap anak buahnya atas tindakan atau kebijakan publik yang diambilnya. Namun, apabila bawahannya tersebut berbuat benar dan disalahkan, JK tanpa pertimbangan apa pun langsung membela bawahannya. Kata JK, anak buah harus dibela habis-habisan jika benar.

Dalam hal keberanian memang sulit mencari padanan JK. Ketika Ambon, misalnya, sedang diamuk konflik antara kelompok Muslim dan Kristen, JK dengan lantang mengatakan, ”Baik Muslim maupun Kristen, dua-duanya masuk neraka, bukan surga.”

Maklum, kedua kelompok yang bertikai itu meyakini bahwa, apabila membunuh lawan, akan masuk surga. Semua terdiam. Almarhum Nurcholish Majid menelepon saya ketika itu dan minta disampaikan kepada JK bahwa semua yang dikatakannya benar, tetapi tidak ada yang berani mengemukakannya. JK, kata Nurcholish, adalah pemberani asli.

Keberanian JK tidak sekadar keberanian moril, tetapi juga fisik. Saya menyaksikan dan mendampinginya berkali-kali ketika terjadi konflik kekerasan di berbagai tempat. Misalnya saja Ambon, kawasan yang dikuasai kelompok Kristen ditutup rapat dari penduduk non-Kristen. JK hendak mendatangi tempat itu, tetapi berusaha dicegah oleh gubernur, panglima kodam dan kapolda karena kawasan tersebut benar-benar adalah the killing fields bagi non-Kristen. JK tidak hirau dengan imbauan itu. Ia tetap ingin pergi.

Permintaan kapolda dan pangdam agar dikirim dulu pasukan penembak jitu sebelum JK tiba, atau dikawal pakai tank, juga ditampiknya. Ia memasuki kawasan berbahaya tersebut hanya dengan seorang ajudan polisi. Di gerbang kawasan tertutup itu terdapat spanduk yang bertuliskan, ”Semua boleh masuk di sini, kecuali Muslim dan anjing gila”.

Sebagai seorang Muslim, yang otomatis dilarang masuk, JK hanya senyum-senyum membaca larangan itu. Ia masuk dan ternyata aman sekali. Kita harus tunjukkan bahwa negara hadir di saat rakyat sedang bertikai. Negara tidak boleh menunjukkan kelemahan karena rasa takut aparatnya, kata JK.


Terima kasih kepada JK, sang pemberani! ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar