Senin, 15 Mei 2017

Solidaritas

Solidaritas
Putu Setia  ;   Pengarang;  Wartawan Senior Tempo
                                                       TEMPO.CO, 13 Mei 2017




                                                           
... melambai-lambai, nyiur di pantai....

Romo Imam melambaikan tangan kanannya, sementara tangan kiri asyik memegang handphone. Ia ikut bernyanyi meski suaranya tak begitu keras. "Tolong sampaikan sama Mas Addhie, saya ikut merinding menyaksikan konser spontan di Balai Kota Jakarta ini," kata Romo seperti baru sadar kalau saya sudah duduk manis di depannya.

"Addhie M.S. itu orang hebat yang rendah hati. Sempat-sempatnya mengirimi saya CD yang berisi lagu-lagu daerah yang sudah dia olah dalam bentuk orkestra. Padahal saya hanya akrab di media sosial," kata saya.

Romo mematikan lagu di handphone-nya. "Yang membuat dia lebih hebat daripada seniman dan budayawan lainnya adalah konser spontan yang dikerjakannya itu tak dikaitkan dengan dukung-mendukung seseorang. Bahkan disebutkannya tak ada kaitan dengan penahanan Ahok, tak ada pula kaitan dengan pilkada Jakarta. Dia hanya gelisah melihat bangsa ini seperti terpecah-pecah. Lalu dia memilih tiga lagu: Indonesia Raya, Rayuan Pulau Kelapa, dan Garuda Pancasila. Pilihan yang tepat, Indonesia adalah negeri yang indah dan damai jika tetap berlandaskan Pancasila. Ini konser spontan solidaritas untuk bangsa," kata Romo.

Saya tertarik dengan kata solidaritas itu. "Romo, saat ini solidaritas bergema untuk Ahok setelah dihukum dua tahun penjara. Di berbagai tempat orang berkumpul menyalakan lilin, karangan bunga dikirim ke tempat penahanan Ahok, ribuan orang menyerahkan fotokopi kartu tanda penduduk untuk ikut menjamin penangguhan penahanan Ahok. Para selebritas terus memuji kehebatan Ahok sambil menyebutkan orang sebaik Ahok tak pantas dipenjara dan harus dilepaskan dari tahanan, bahkan harus dibebaskan dari hukuman. Mereka mendesak hakim pengadilan tinggi segera menangguhkan penahanan Ahok dan segera pula menyidangkan banding untuk membebaskan Ahok."

Romo memotong ucapan saya: "Jadi, kalau pengadilan tinggi nanti menangguhkan penahanan Ahok dan memberi vonis bebas, artinya itu karena desakan kelompok massa, kan? Bukan karena mendalami proses hukum dan fakta-fakta dalam persidangan? Apakah itu tidak intervensi namanya?"

Saya tak bisa menjawab. Romo melanjutkan: "Hakim itu serba salah ketika kita memihak kepada orang yang diadili dan orang itu dihukum. Kita sebut hakim terpengaruh aksi massa, hakim tak bersih, keadilan telah mati, macam-macam. Lalu aksi-aksi dilakukan, bahkan sampai malam hari. Coba kalau dibebaskan, hakim pasti dipuji. Hakim yang tak goyah dengan godaan meski ke kantor naik angkutan kota, hakim berintegritas, hakim teladan, ini kemenangan hukum, macam-macam pula. Ini risiko pengadil, yang kalah ngamuk, yang menang berpesta. Kalau sepakat proses hukum dijunjung dan dihormati, seharusnya ketidakpuasan itu hanya dilakukan dengan menelaah keputusan hakim, lalu berjuang di pengadilan banding. Jika hanya ini dilakukan, putusan banding pun tak perlu dicurigai diintervensi. Sekarang jadi penuh prasangka, siapa pun yang kalah akan menyebut ada intervensi."

Saya diam. "Sampeyan kok diam?" tiba-tiba Romo menegur. Saya kaget. "Saya kagum solidaritas orang kepada Ahok sampai di berbagai daerah. Semuanya memuji. Seharusnya dia yang menang di pilkada Jakarta."
Romo tertawa. "Ya, termasuk orang Bali seperti sampeyan semua kagum pada kerja Ahok. Tapi begitu Ahok diisukan menjadi calon Gubernur Bali, kalian menolak. Alasannya, masih banyak orang Bali yang mampu, komunikasi Ahok tak cocok dengan budaya Bali, macam-macam. Sama dengan orang Jakarta, kan?"

Saya seperti petinju dipukul KO.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar