Jumat, 05 Mei 2017

Poros Al-Azhar-Vatikan

Poros Al-Azhar-Vatikan
Zuhairi Misrawi  ;  Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir;
Analis Pemikiran dan Politik Timur Tengah, The Middle East Institute, Jakarta
                                                          KOMPAS, 04 Mei 2017



                                                           
Kunjungan Paus Fransiskus ke Imam Besar Masjid Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb di Mesir, 28-29 April 2017, mendapat perhatian luas. Di tengah ancaman terorisme yang menggurita, kedua sosok penting Islam dan Katolik itu menyerukan persaudaraan dan perdamaian.

Mesir sendiri menghadapi ancaman terorisme dan radikalisme amat akut. Pasca badai Musim Semi Arab, yang menjatuhkan rezim Hosni Mubarak dan Muhammad Mursi, stabilitas politik dan keamanan di sana tak kunjung membaik. Aksi terorisme mengoyak kedamaian yang subur di negeri Kinanah itu.

Berabad-abad Muslim dan Kristen di Mesir hidup berdampingan dengan damai. Banyak gereja megah dibangun bersebelahan dengan masjid. Setelah dinasti Islam menguasai Mesir, gereja tetap berdiri tegak. Bahkan, Mesir menjadi pusat Kristen Arab tertua dunia, dikenal dengan Kristen Koptik. Mereka menggunakan Alkitab berbahasa Arab dan layaknya orang Arab, bercakap dalam bahasa Arab.

Fakta itu kian membenarkan tesis bahwa Arab tak hanya identik dengan Islam, melainkan juga agama samawi lain, khususnya Yahudi dan Kristen. Sebelum Islam datang ke Tanah Arab, Yahudi dan Kristen lama eksis dan jadi bagian kebudayaan dan peradaban Arab. Begitu pun setelah Islam, agama mayoritas orang Arab, kedua agama samawi tersebut masih eksis.

Akan tetapi, Musim Semi Arab menjadi mimpi buruk bagi umat Kristen dan Yahudi di seantero Arab. Menurut Sheikh Ahmed al-Tayeb perdamaian dunia telah menjadi surga yang hilang (al-firdaws al-mafqud) karena kebencian dan kekerasan menjadi realitas mengkhawatirkan. Mereka mengaku paling teguh memegang prinsip agama, tetapi justru melecehkan nilainilai luhur agama, seperti perdamaian, persaudaraan, dan keadilan.

Dalam beberapa tahun terakhir, warga Kristen di Mesir menghadapi ancaman terorisme sangat serius. Mereka tak lagi warga yang setara karena kerap dapat perlakuan diskriminatif.  Beberapa waktu lalu gereja di Tanta dan Alexandria menjadi sasaran kelompok teroris di saat umat Kristen beribadah.

Mesir beruntung punya Al-Azhar sebagai benteng moderasi Islam. Imam Besar Ahmed al-Tayeb selalu ambil langkah cepat untuk menormalkan hubungan antaragama di Mesir dan menyerukan pentingnya toleransi dan perdamaian.  Dalam konteks Mesir, Imam Besar Al-Azhar membentuk forum bersama agama-agama yang dikenal dengan Rumah Keluarga (bayt al-'ailah). Forum ini hendak menegaskan bahwa agama-agama ibarat keluarga yang sejatinya dapat membangun harmoni, cinta kasih, dan kehangatan bersama. Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis menyebutkan ia dan agama samawi lain ibarat sebuah bangunan yang kukuh. Islam hanya hadir untuk menyempurnakan akhlak mulia.

Atas dasar itu, Imam Besar Al-Azhar memerintahkan umat Islam di Mesir agar menjaga gereja dan sinagoga dari ancaman kaum radikal. Menurut Ahmed Al-Tayeb, umat Islam tak hanya cukup menjaga masjid, tetapi juga mesti menjaga tempat ibadah agama lain sebagai bentuk perlindungan dan komitmen menjaga toleransi dan perdamaian.

Poros toleransi

Membangun toleransi tidak hanya cukup dalam konteks Mesir, melainkan perlu gerakan mondial yang mampu membangkitkan spirit untuk menjaga perdamaian dalam skala lebih luas. Problem intoleransi dan diskriminasi bukan hanya di Mesir, melainkan di belahan dunia lain.

Problem intoleransi, diskriminasi, dan terorisme menjadi keprihatinan bersama. Oleh karena itu, Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb, menempuh jalan memperkuat poros Al-Azhar dan Vatikan. Ia khusus mengundang Paus Fransiskus ke Al-Azhar, Mesir. Al-Azhar memandang Paus Fransiskus sebagai sosok amat penting dalam menggelorakan perdamaian. Harapannya, poros toleransi AlAzhar dan Vatikan ini dapat mengetuk hati umat di segala penjuru dunia mengedepankan visi agama yang dapat membangun harmoni dan persaudaraan.

Beberapa pesan penting disampaikan poros Al-Azhar dan Vatikan. Pertama, agama sebagai sumber cinta dan kasih. Pesan ini diangkat karena dalam realitasnya ada pihak-pihak yang hendak menjadikan agama sebagai justifikasi intoleransi, diskriminasi, dan terorisme. Para pemuka agama dan umatnya harus waspada tinggi karena anasir kekerasan yang kerap mengatasnamakan agama, bahkan mengatasnamakan Tuhan. Padahal, negara dan peradaban tak akan bisa dibangun di atas puing-puing ideologi yang menjustifikasi kekerasan.

Saat ini kita melihat begitu mudah agama digunakan sebagai justifikasi kekerasan. Karena itu, Al-Azhar dan Vatikan sadar penuh menyerukan kepada dunia bahwa kekerasan tak punya pijakan dalam agama. Mereka yang melakukan kekerasan atas nama agama sama sekali tak bisa dibe- narkan. Tak ada agama dan peradaban mana pun membenarkan kekerasan dan intoleransi.

Kedua, pesan kepada para pemimpin dunia agar mengeluarkan kebijakan yang mendorong keadilan dan perdamaian. Kebijakan yang tidak tepat dan cenderung menindas akan melahirkan respons yang sangat besar. Faktanya, kelompok ekstremis dan teroris di berbagai belahan dunia kerap kali menggunakan kebijakan menindas dari negara-negara adidaya sebagai justifikasi untuk melakukan aksi kekerasan atas nama agama.

Maka, para pemimpin dunia harus menciptakan iklim kondusif demi perdamaian dunia. Pa- ra pemimpin dunia harus mempertimbangkan kembali  perdagangan senjata, termasuk senjata pemusnah massal. Dampak perdagangan senjata dan senjata  pemusnah massal ini sangat buruk bagi perdamaian dunia. 

Ketiga, pesan agar agama-agama melahirkan sosok yang bisa menjadi juru bicara toleransi dan perdamaian. Pada tataran empiris, khususnya dalam realitas sosial-politik, dibutuhkan agamawan yang mampu menyuarakan toleransi dan perdamaian.  Al-Azhar dalam beberapa tahun terakhir bekerja keras melatih khatib masjid agar berwawasan komprehensif perihal keislaman, kebangsaan, dan globalisasi.

Mesir pernah punya pengalaman buruk soal khatib yang kerap mendakwahkan kebencian dan kekerasan. Sejak itu pula, Al-Azhar mengeluarkan kebijakan sertifikasi khatib. AlAzhar mengajak seluruh umat agama-agama agar melahirkan sosok agamawan dan menjadi juru bicara toleransi dan perdamaian.

Al-Azhar dan Vatikan berkomitmen bersama: para agamawan bekerja lebih serius lagi me- ngampanyekan perdamaian. Para agamawan harus punya pandang- an utuh tentang pentingnya menjaga kebinekaan dan persaudaraan. Langkah yang diambil Al-Azhar dan Vatikan perlu respons positif semua pihak.

Saat ini kita sangat butuh wajah agama dengan pesan toleransi dan perdamaian. Kita sedang menghadapi tantangan serius karena ada pihak yang ingin menjadikan agama jalan intoleransi dan kekerasan. Karena itu, pesan poros Al-Azhar dan Vatikan mesti digaungkan dan jadi pelajaran berharga di negeri tercinta ini.