Rabu, 03 Mei 2017

Banjir Bunga untuk Pemimpin

Banjir Bunga untuk Pemimpin
Hendra Kurniawan  ;  Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
                                                KORAN JAKARTA, 29 April 2017



                                                           
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), memang tokoh penuh sensasi. Media massa tak pernah kehabisan cerita untuk memberitakannya. Apa pun yang berhubungan dengannya menjadi bahan pemberitaan. Kekalahan dalam Pilkada DKI tahun 2017 tak jua menyudahi berita mengenai dirinya. Jalan Ahok selama menjadi gubernur tidaklah mulus. Sejak awal telah muncul polemik pengangkatannya yang definitif menggantikan Joko Widodo karena menjadi presiden.

Setelah Ahok menjadi gubernur, posisi wakil mengundang persoalan. Ahok bersikeras agar dapat mendukung kinerjanya, sangat tidak bijak bila jabatan wakil gubernur diisi atas dasar pertimbangan politis belaka. Akhirnya, muncul Djarot Saiful Hidayat yang dapat diterima berbagai pihak sebagai pendamping Ahok. Basuki juga sempat mengambil keputusan berani untuk keluar dari partai politik. Bahkan, sempat menyatakan siap maju kembali sebagai calon gubernur melalui jalur independen, meski akhirnya diusung partai.

Selama menjabat, dia nyaris menjadi single fighter, tanpa dukungan partai politik. Kinerjanya membuktikan dia pemimpin bersih. Dia tak mempan digoyang isu korupsi. Namun, ada saja cobaan yang membuat Ahok harus tegar. Dia diterpa tuduhan penista agama. Ini bermula dari pidato di Pulau Pramuka yang dipenggal dan di-posting secara sembarangan dan tersebar di media sosial. Postingan berbumbu SARA yang kemudian terus dipolitisasi ini berhasil menggiring opini kelompok-kelompok tertentu untuk bergerak. Ahok dilaporkan dan berujung pada persidangan yang hingga kini belum selesai.

Dia masih menunggu vonis. Akibatnya, Ahok setiap pekan harus absen dari kegiatan kampanye untuk menjalani persidangan. Titipan Tuhan Beberapa pengamat menilai, Ahok tepat menduduki jabatannya sekarang. Sosok idealis dan progresif seperti dia menjadi modal kuat memimpin dan membenahi DKI yang memiliki begitu banyak persoalan. Keberhasilan Ahok memimpin DKI sebenarnya dapat dilihat secara langsung. Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat yang meringankan beban rakyat kecil. Titik-titik banjir mulai berkurang.

Pembangunan berjalan pesat. Normalisasi sungai berjalan lancar. Pembangunan rumah susun untuk rakyat kecil dan kemunculan ruang-ruang publik yang mengakomodasi kebutuhan anak. Lebih penting lagi, melalui e-budgeting, anggaran milik rakyat benar-benar diselamatkan dari tangan-tangan perampok berdasi. Birokrasi juga dibenahi sehingga pelayanan semakin baik dan optimal. Ahok bernyali besar mempertaruhkan popularitas dan kedudukannya seslaku gubernur.

Dia tidak khawatir kehilangan jabatan demi kebenaran. Gayanya yang begitu frontal dan blak-blakan memang diuji. Tindakannya menjadi senjata makan tuan atau pedang yang memberangus kemaksiatan politik yang selama ini mengakar kuat. Inilah wujud nyata ketaatan iman seorang pemimpin. Dalam pidatonya pascapemungutan suara, mantan Bupati Belitung Timur ini dengan legawa mengatakan, kekuasaan itu titipan Tuhan semata.

Riset terakhir memang menunjukkan tingkat kepuasaan masyarakat DKI terhadap kepemimpinannya mencapai 70 persen. Dukungan dan komentar para netizen juga tak sedikit yang mengapresiasi. Sayang, semua ini tidak berhasil membawanya melanjutkan kepemimpinan di DKI untuk periode kedua. Isu agama yang menerpa ternyata begitu kuat hingga berhasil menumbangkan. Namun, rasa cinta dan kekaguman rakyat kepada Ahok tak bisa dipadamkan.

Dalam beberapa hari terakhir sejak hasil hitung cepat Pilkada DKI putaran kedua tanggal 19 April 2017 menunjukkan kekalahan Ahok, balai kota terus dibanjiri karangan bunga. Ini bukan ucapan duka. Itu wujud ucapan terima kasih dan semangat untuk pasangan Ahok-Djarot yang segera meninggalkan balai kota. Boleh jadi, para pengirim bunga ini kecewa karena Ahok kalah. Akan tetapi, ribuan karangan bunga untuk Ahok-Djarot ini menunjukkan begitu hangatnya kedekatan rakyat dengan pemimpinnya.

Jumlah masyarakat yang datang ke balai kota untuk bertemu Ahok setiap pagi terus bertambah. Mereka tidak hanya warga DKI. Banyak juga dari daerah lain yang bersimpati dengan pasangan Ahok-Djarot. Media sosial pun dibanjiri komentar-komentar yang menginginkan pasangan ini dapat membenahi daerahnya. Artinya, meskipun harus kalah dalam Pilkada DKI, Ahok-Djarot berhasil memenangkan hati rakyat seantero Indonesia. Mereka masih dicintai dan kelak diharapkan dapat berkesempatan untuk terus berkontribusi bagi negara. Persoalan di DKI begitu kompleks dan pelik.

Sampai saat ini, Ahok masih menyisakan pekerjaan rumah yang penting. Sejumlah prioritas di antaranya masih seputar penanganan banjir, kemacetan, reformasi birokrasi, dan peningkatan layanan transportasi publik. Hubungan interpersonal yang baik antara Ahok-Djarot dengan gubernur-wakil gubernur terpilih dinilai dapat menjadi pendukung. Permasalahan di DKI memang tidak bisa semuanya diselesaikan sendiri. Ada banyak yang harus dilakukan secara berkesinambungan dengan duduk bersama.

Tugas gubernur baru semakin berat dengan berbagai tantangan mengadang, di antaranya birokrasi harus terus didorong untuk berevolusi mental dan bekerja dengan melayani. Perlu keberanian dan ketegasan menghadapi berbagai kelompok kepentingan di DKI mulai dari mafia, pengusaha hitam, preman berdasi, hingga ormas-ormas intoleran. Untuk itu, diperlukan gaya komunikasi yang lebih diplomatis dengan berbagai pihak untuk menuntaskan banyak masalah di DKI.

Masyarakat telah memilih dan tentu berharap banyak pada gubernur baru untuk mewujudkan janjijanji kampanye demi DKI Jakarta yang lebih baik. Untuk Pak Ahok dan Pak Djarot, teruslah berkarya untuk negeri!