Senin, 15 Mei 2017

Ahok Bukan Nelson Mandela

Ahok Bukan Nelson Mandela
Muhammad Al-Fatih Hadi  ;   Anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI)
Uni Emirat Arab; Sedang menempuh pendidikan di Al-Ain
                                                      DETIKNEWS, 12 Mei 2017



                                                           
Setelah ketukan palu hakim yang memvonis hukuman dua tahun penjara kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, banyak orang yang menyamakan Gubernur Jakarta itu dengan Nelson Mandela, tokoh ikonik yang pernah menjadi presiden Afrika Selatan setelah dipenjara selama lebih dari dua puluh tahun.

Tapi, bagi saya Ahok bukanlah Nelson Mandela.

Di awal reformasi, ketika (Presiden) Gus Dur menyatakan permintaan maafnya secara pribadi terhadap korbanaan maaf tersebut tidak lebih dari basa-basi.

Goenawan Mohamad kemudian menanggapinya dengan mengatakan bahwa Pramoedya sebaiknya belajar dari Nelson Mandela, yang mau memaafkan orang-orang kulit putih yang sebelumnya memberinya hukuman penjara seumur hidup.

Nelson Mandela mengambil sikap berbeda dengan apa yang dilakukan Yahudi Zionis (sengaja saya beri tambahan "zionis", karena tidak semua orang Yahudi mendukung pendudukan Israel atas Palestina), ketika mereka seolah-olah menganggap apa yang dilakukan pemerintahan Hitler kepada mereka menjadi pembenaran atas apa yang mereka lakukan terhadap penduduk Palestina.

Tapi, tidak semua korban harus mengalah. Tidak semua korban harus mengambil sikap pasif. Banyak revolusi, perubahan, dan kemerdakaan yang tidak akan terjadi jika para korban memilih untuk bersikap pasif.

Toh, Mahatma Gandhi dibiarkan oleh pemerintah Inggris justru karena sikap pasifnya yang tidak melakukan perlawanan bersenjata, berbeda dengan sikap tokoh India lain yang memilih melawan. Kemerdekaan, revolusi, atau perubahan tidak selalu berhasil dengan cara Gandhi.

Karenanya, ucapan Gandhi "jika mata dibalas mata maka semua orang akan menjadi buta" menurut saya terlalu naif. Saya lebih memilih dua ayat Al-Qur'an; yang satunya menyatakan bahwa "mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, tapi lebih baik untukmu bersabar", dan satunya lagi menyatakan, "barang siapa menyelamatkan satu jiwa maka seolah-olah dia menyelamatkan jiwa seluruh dunia, dan barang siapa membunuh satu jiwa tanpa hak maka dia seolah-olah membunuh seluruh jiwa di dunia."

Sebelumnya, saya merasa apa yang diucapkan Ahok di Kepulauan Seribu, ataupun kengototannya atas ketidakbersalahannya atas ucapannya itu, adalah sesuatu yang benar-benar tidak perlu.

Tapi, saya tidak tahu rasanya berada di posisi Ahok. Saya tidak tahu rasanya berada di posisi korban; yakni, posisi orang Tionghoa di masa Orde Baru sebagai warga "kelas dua".

Kejadian Mei '98 ketika rumah orang-orang Tionghoa dihancurkan, dan banyak wanita keturunan Tionghoa diperkosa sehingga membuat banyak wanita yang memakai mukena sebagai pelindung identitas, dan rumah-rumah ditandai dengan tulisan 'Milik Pribumi', tentu saya yakini memberi trauma mendalam kepada mereka. Juga, mungkin kepada Ahok.

Maka ketika Ahok ngotot bahwa apa yang diucapkannya di Kepulauan Seribu tidak salah (yang menurut hasil sidang menjadi salah satu hal yang memberatkannya), itu adalah teriakan seorang korban yang tidak rela disuruh begitu saja meminta maaf.

Apalagi ucapan itu bukan dimaksudkan untuk menyinggung kaum muslim maupun Al-Qur'an, melainkan untuk menyinggung orang-orang yang menyalahgunakan ayat-ayat dalam Al-Qur'an demi kepentingan politik dan kekuasaan. Orang-orang seperti itu, dalam Al-Qur'an pun disebutkan sebagai "orang-orang yang menjual ayat-ayat Al-Qur'an dengan harga yang murah."

Dan, untuk menutup tulisan ini saya ingin mengutip kata-kata Fidel Castro yang saya rasa mungkin diucapkan Ahok dalam hatinya saat ia mengacungkan dua jari berbentuk huruf V ke arah wartawan; kata-kata dalam bahasa Spanyol yang juga dikutip Banda Neira dengan sedih tapi tegar dalam lagu mereka berjudul 'Tini dan Yanti':

La historia me absolvera!