Minggu, 26 Januari 2014

Allah Bukan Punyaku

                           Allah Bukan Punyaku                         

Sarlito Wirawan Sarwono  ;  Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO,  26 Januari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
Aku dan semua makhluk di muka bumi ini ciptaan Allah. Karena itu, aku dan semua makhluk di muka bumi ini milik Allah. Betul, kan? Tetapi, tidak boleh dibalik, Allah adalah milikku seorang atau milik kami sendiri. Dalam ilmu logika, cara berpikir seperti ini tergolong sesat pikir. 

Ibaratnya, “melati adalah bunga” (betul), tetapi tidak boleh dibalik “bunga adalah melati” (salah, sebab banyak bunga-bunga lain selain melati seperti mawar, anggrek, bunga bangkai, dan sebagainya). Sayangnya, banyak sekali manusia yang terjebak dalam sesat pikir seperti ini dan merasa dirinya paling benar. Padahal sesat pikir sangat berbahaya karena akan berujung pada pembuatan keputusan yang salah. Inilah yang dilakukan Pemerintah Malaysia. 

Raja Malaysia Sultan Abdul Halim Mu’adzam, yang saat ini mendapat giliran untuk menjadi kepala negara (seremonial) Malaysia, mengukuhkan keputusan pengadilan Malaysia yang melarang penggunaan kata “Allah” oleh nonmuslim. Sebuah koran Katolik dan pastur yang mengasuhnya disidik oleh polisi karena tetap bersikukuh bahwa kata “Allah” sah digunakan untuk menyebut Tuhan dalam bahasa Malaysia yang multikultural itu. 

Namun, Raja yang bukan kepala pemerintahan, melainkan dianggap sebagai pengawal agama Islam di negeri itu tetap mengukuhkan keputusan pengadilan yang mengeksklusifkan sebutan “Allah” hanya untuk muslim (Jakarta Post, 10 Januari, 2014). Di Indonesia, kita tahu, umat Kristen juga menyebut Tuhan dengan “Allah” meski dengan lafal yang berbeda. Bahkan kadang digunakan dua kata itu sekaligus “Tuhan Allah”. Sebetulnya tidak bisa juga umat Kristen itu disalahkan karena kata “Allah” adalah bahasa Arabnya “Tuhan”. 

Jadi kalimat pertama dari syahadat “La illa haillallah” yang biasa diartikan sebagai “Tidak ada Tuhan selain Allah” bisa juga diterjemahkan sebagai “Tidak ada Tuhan selain Tuhan”, sebab “Illa” adalah bentuk lain dalam gramatika bahasa Arab dari “Allah”. Karena itulah, dalam Islam, Tuhan mempunyai 99 nama untuk menunjukkan sifat-sifat Allah yang satu itu, yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain. 

Jadi di dunia yang serbamajemuk ini, melarang orang lain untuk menyebut Tuhan dengan “Allah” sama juga melarang orang lain menggunakan nama “Sarwono” sebagai nama ayah mereka karena “Sarwono” adalah nama ayah Sarlito dan adik-adiknya. Sarwono adalah nama yang kodian (banyak nian) di kalangan etnik Jawa sehingga tentu ada yang marah kalau “Sarwono” diklaim sebagai bapakku atau bapak kami saja. Itulah juga yang akan (sudah) terjadi di Malaysia. Percayalah! 

Di Indonesia saya belum pernah mendengar isu yang mengklaim bahwa nama “Allah” hanya boleh digunakan oleh muslim. Tetapi, klaim bahwa Allah atau Tuhan itu milikku atau milik kami sendiri sering diperlihatkan dalam bentuk lain. Lihatlah demo-demo yang semuanya meneriakkan “Allahu Akbar!” ketika berhadapan dengan aparat yang juga sesama muslim. Atau kelompok-kelompok yang saling bersaing dalam pilkada. Mereka saling menyerang dengan sama-sama bertakbir “Allahu Akbar!”, seakan-akan sudah pasti Allah itu ada di pihak masing-masing. 

Lah, Allah itu mau disuruh berpihak ke mana kalau begitu? Ini kan sama juga bermain-main dengan nama Allah? Contoh lain lagi. Coba simak ucapan-ucapan pejabat di berita televisi atau selebritas di infotainment, bahkan para tersangka yang sudah berbaju tahanan KPK, semua selalu menyebutkan Allah sebagai di pihak mereka dengan ungkapan-ungkapan seperti, “Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik”, “Kita serahkan kepada yang di atas”, atau “Allah pasti akan menunjukkan mana yang benar itu benar, mana yang salah itu salah”. 

Atau ungkapan seorang jomblo yang sudah putus asa, “Kalau memang jodoh, pasti tidak akan ke mana-mana”; atau orang yang marah sama Tuhan karena tidak kunjung dapat pekerjaan, padahal sudah melamar ke mana-mana. Semua orang ini berpikir bahwa Tuhan atau Allah adalah milikku sendiri dan karena itu Dia akan membelaku, akan membantuku, bahkan segala sesuatu yang terjadi pada diriku adalah karena Dia semata. Menurut psikolog Jullian B Rotter (1954), kalau seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya karena faktor di luar dirinya yang tidak bisa dikendalikannya, orang ini digolongkan sebagai orang yang mempunyai locus of control external (LoCE). 

Sebaliknya, orang yang merasa mampu mengontrol lingkungannya dan bisa mencapai apa yang diinginkannya dengan upaya sendiri, tergolong locus of control internal (LoCI). Orang dengan LoCI bukan tidak percaya kepada Tuhan, banyak juga yang religius, melainkan mereka lebih mengutamakan usaha sendiri, seraya berdoa kepada Tuhan. Pemain-pemain sepak bola kelas dunia misalnya membuat tanda salib (yang Kristen) atau mengangkat kedua tangan ke atas (yang muslim) sehabis mencetak gol untuk menyatakan terima kasih mereka kepada Tuhan, tetapi mereka tidak pernah absen latihan setiap hari untuk mencapai prestasi itu. 

Bukan seperti LoCE yang hanya mengandalkan kepada doa dan kalau kalah bertanding menyalahkan cuaca atau wasit yang curang dan akhirnya tawuran. Kecenderungan untuk menyatakan bahwa Allah hanya milikku, baik yang versi Malaysia maupun yang versi Indonesia, menurut pendapat saya, sama-sama keliru besar. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, Allah ada di “sana” untuk menjaga kita di “sini”, tetapi bukan untuk membela kaum tertentu. Dia ada untuk kita semua dan pasti dia tidak keberatan untuk dipanggil apa saja, sejauh kita mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya. Paling tidak begitulah kata ustaz saya. Wallahu alam bisawab.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar