Selasa, 23 Juli 2013

Gelombang Kebangkitan BUMN

Gelombang Kebangkitan BUMN
Firmanzah  ;  Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan
KORAN SINDO, 22 Juli 2013



Salah satu pilar penting ekonomi nasional, BUMN, menunjukkan era kebangkitan. Dua era kebangkitan BUMN telah terjadi. Gelombang pertama, kebangkitan BUMN terjadi setelah serangkaian program penyehatan dan pemulihan perusahaan pascakrisis ekonomi Indonesia 1998. 

Krisis ekonomi Indonesia 1998 mengakibatkan BUMN kesulitan keuangan dan kehilangan dukungan pendanaan dari negara lantaran krisis keuangan dan fiskal. Saat itu, mayoritas strategi BUMN adalah bertahan untuk hidup (survival) melalui serangkaian opsi strategi korporasi seperti rightsizing, downsizing,dan corporate restructuring. Gelombang kedua kebangkitan BUMN adalah era internasionalisasi (regionalisasi) BUMN di ASEAN. 

Semakin banyak BUMN yang melebarkan sayap operasi di negara lain. Ini merupakan indikator yang baik di tengah persiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Secara lebih spesifik kita dapat menggarisbawahi momentum kebangkitan ke dalam empat indikator. Pertama, dukungan dan keterlibatan BUMN dalam sejumlah proyek strategis nasional. Kedua, semakin banyak BUMN yang melakukan ekspansi operasi di kawasan. 

Ketiga, semakin banyak BUMN yang mendapatkan pengakuan kinerja di tingkat internasional. Keempat, terjaganya misi dan fungsi BUMN dalam menjalankan amanat yang diberikan oleh negara. Korporatisasi BUMN dilakukan dengan tetap menjalankan tugas dan peran maupun fungsi dasar BUMN sebagai alat negara guna mewujudkan agenda pembangunan nasional. Indikator pertama kebangkitan perusahaan BUMN terlihat pada keterlibatan serta dukungan BUMN kepada sejumlah agenda strategis pembangunan, termasuk pembangunan infrastruktur dan sejumlah agenda strategis nasional. 

Belanja modal (capex) BUMN pada 2013 ditargetkan meningkat hingga menjadi Rp217,3 triliun. Kemampuan BUMN dalam pembangunan infrastruktur dan sektor riil telah membantu target pencapaian groundbreaking MP3EI. Perusahaan BUMN sangat aktif terlibat membangun dan meningkatkan infrastruktur seperti pelabuhan, bandara udara, jalan tol, pembangkit listrik, dan telekomunikasi. Selain itu, membaiknya kinerja sejumlah BUMN memberikan ruang ekspansi lebih besar dalam penambahan dan perbaikan fasilitas produksi. 

Indikator kedua terlihat ketika sejumlah BUMN saat ini melakukan ekspansi ke pasar ASEAN dan bahkan ke luar ASEAN. Beberapa perusahaan BUMN seperti Dirgantara Indonesia, Garuda, Pindad, Wika, PLN, Semen Indonesia, Pupuk Indonesia, Pertamina, Kimia Farma, dan Telkom secara agresif mampu berekspansi di pasar internasional. Masuknya BUMN ke sejumlah negara ASEAN seperti Vietnam, Brunei, Myanmar, dan Filipina menunjukkan ruang kapasitas pengelolaan korporasi BUMN yang jauh lebih besar dibandingkan dengan beberapa waktu lalu. 

Bahkan dorongan untuk terus berekspansi ke sejumlah negara tetangga seperti Papua Nugini dan Timor Leste juga tengah dijajaki. Meskipun terbilang terlambat untuk go international dibandingkan BUMN Singapura dan Malaysia, langkah BUMN kita yang telah berani berekspansi ke ASEAN perlu diapresiasi. Ini mengingat 15 tahun lalu, krisis ekonomi 1998 memukul perekonomian dan dunia usaha Indonesia sangat dalam. 

Namun, dalam kurun waktu tidak lebih dari 15 tahun, pemulihan kinerja perusahaan BUMN dapat dilakukan dan bahkan telah mampu berekspansi ke luar wilayah Indonesia. Ekspansi BUMN ke ASEAN membutuhkan kapabilitas, kompetensi, dan kemampuan yang lebih kompleks karena BUMN harus mampu bernegosiasi dengan karakteristik tiap negara seperti tata aturan regulasi, supplier, konsumen, jaringan distribusi, penyusunan kontrak internasional, dan hubungan industrial. 

Secara internal, BUMN nasional yang berekspansi ke luar negeri juga lebih memiliki kemampuan dalam sistem kontrol, pengawasan, sistem insentif, dan sistem operasi perusahaan yang jauh lebih kompleks demi memastikan kinerja operasi perusahaan berjalan baik. Indikator ketiga terlihat, manajemen dan pengelolaan beberapa BUMN mampu bersaing dan kompetitif di tingkat global. 

Hal ini tecermin dari pengakuan internasional terhadap standar manajemen dan pengelolaan perusahaan. Misalnya saja Pertamina barubaru ini masuk sebagai salah satu dari 500 perusahaan besar dunia dalam daftar Fortune Global 500. Pertamina menempati peringkat ke-122 dengan pendapatan pada 2012 sebesar USD70,9 miliar. Selain itu, baru-baru ini Perusahaan Gas Negara (PGN) menjadi BUMN pertama di Indonesia yang mendapatkan penghargaan sebagai peringkat pertama dunia dalam Top 100 Annual Report Worldwide Winners. 

Pencapaian ini menunjukkan kualitas penerapan good corporate governance (GCG) dan keterbukaan informasi salah satu BUMN kita telah berstandar internasional dan bahkan mampu mengungguli perusahaan multinasional negara lain. Tentunya masih banyak lagi prestasi internasional sebagai cermin bahwa manajemen dan pengelolaan BUMN mampu berkompetisi tidak hanya di tingkat regional, melainkan juga dunia. Indikator keempat, modernisasi serta ekspansi BUMN nasional tetap tidak melupakan dan mengabaikan tugas dan fungsi utama sebagai perusahaan milik negara. 

Bagaimanapun BUMN adalah alat negara untuk terus mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, makmur, dan berdaya saing. Fungsi untuk membangun, menyediakan sarana dan prasarana, serta pelayanan publik bagi masyarakat terus ditingkatkan. Gabungan antara modernisasi manajemen untuk lebih mandiri dengan tetap menjalankan tugas negara merupakan hal unik bagi manajemen BUMN. 

Namun kita percaya, hal ini bukanlah berada dalam posisi beroposisi secara diametral, tetapi merupakan hal yang saling menguatkan. Kendati begitu, beberapa tantangan untuk optimalisasi manajemen dan operasi BUMN masih perlu terus kita lakukan. Tantangan pertama adalah masih terdapatnya beberapa perusahaan BUMN yang merugi. Menurut Kementerian BUMN pada 2012 terdapat 16 BUMN yang masih merugi secara total sebesar Rp1,49 triliun. 

Hal ini merupakan tantangan bagi kita bersama untuk melakukan serangkaian program penyehatan BUMN. Tantangan kedua adalah intensifikasi serta ekstensifikasi pola kerja sama dan sinergi antarkluster BUMN untuk menjadikan BUMN sebagai powerhouse perekonomian nasional. Saat ini pembentukan sinergi berupa holding tengah berjalan. Berikutnya sinergi antar-holding menjadi fokus untuk membangun keterkaitan dan keterpaduan kompetensi BUMN untuk menjalankan baik fungsi sebagai alat negara maupun menghadapi dan menjadi aktor penting dalam keterbukaan pasar di ASEAN dan global. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar