Senin, 19 Maret 2018

Mengonsumsi Gosip di Media Sosial

Mengonsumsi Gosip di Media Sosial
Abdul Hair  ;   Peneliti di Lingkar Studi Media dan Kebudayaan (Lisan)
                                                    DETIKNEWS, 09 Maret 2018



                                                           
Bagi yang aktif di media sosial, terutama Instagram, pasti sudah tidak asing lagi dengan akun gosip seperti @lambeturah dan @lambenyinyir. Sampai dengan tulisan ini dibuat, @lambeturah sudah diikuti 4,5 juta pengguna. Sedangkan @lambenyinyir sudah diikuti 1,5 juta pengguna. Artinya peminat gosip di Indonesia, apapun medianya, tetap besar.

Alih-alih melihat gosip sebagai informasi yang tidak bermutu, saya ingin mendiskusikan hal lain mengenai gosip. Pertama, mengenai perbedaan cara masyarakat dalam mengonsumsi gosip di media arus utama dan media sosial. Kedua, mengenai gosip sebagai arena pertarungan wacana tentang perempuan. Untuk mendiskusikan kedua hal ini, saya akan menggunakan gosip pelakor (perebut laki-laki orang) yang sedang hangat akhir-akhir ini sebagai titik berangkatnya.

Pertama, pengguna internet tidak tepat lagi dilihat sebagai konsumen gosip semata. Sebab setiap aktivitas pengguna internet adalah aktivitas konsumsi dan produksi sekaligus. Berbeda dengan media arus utama yang mendapatkan informasi gosip dari wartawannya, di media sosial gosip justru berasal dari pengguna itu sendiri. Produksi dan konsumsi gosip di media sosial bersifat pengguna-ke-pengguna (many-to-many): diproduksi oleh banyak orang dan dikonsumsi untuk banyak orang pula.

Karena cara produksinya yang berubah, pihak yang digosipkan pun ikut berubah. Jika dulu yang digosipkan selalu dari kalangan selebritis, kini masyarakat biasa pun bisa menjadi bahan gosip. Bahkan dalam beberapa kasus, seperti gosip pelakor, informasi itu langsung diberikan oleh pihak yang berseteru melalui rekaman video di ponsel pribadinya. Biasanya gosip menyangkut masalah pribadi sangat dihindari untuk diumbar di depan publik. Dengan kehadiran media sosial, hal yang sebaliknya justru terjadi.

Bukannya semakin berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi (mengingat sifat informasi di media sosial yang sangat cair dan mudah menyebar), informasi justru datang langsung dari pihak yang digosipkan itu tanpa perlu diminta terlebih dahulu oleh wartawan atau masyarakat. Wartawan media arus utama semakin kecil peranannya sebagai sumber informasi. Karena di media sosial, orang yang sedang digosipkan juga bisa merangkap sebagai "wartawan" untuk gosip yang menyangkut dirinya sendiri.

Kedua, tidak hanya terlibat dalam aktivitas konsumsi (sekaligus produksi) gosip, lebih dari itu, gosip telah menjadi arena kontestasi pandangan politik masyarakat. Terutama pandangan politik menyangkut perempuan dan ide kesetaraan gender. Sebelum mendiskusikan hal ini lebih jauh, terlebih dulu akan saya bahas mengenai acara gosip di televisi (infotainment) dalam menyebarkan informasi yang mendukung gerakan perempuan.

Acara gosip, yang mayoritas ditonton oleh perempuan, sering dituduh tidak berpihak pada perempuan. Sebab acara ini bukannya semakin meningkatkan kapasitas intelektual dan peran perempuan dalam masyarakat, tetapi justru membujuk perempuan untuk tetap di rumah dan duduk berjam-jam di depan televisi. Artinya acara ini tidak membawa perempuan untuk menjadi lebih kritis terhadap nasib kaum mereka sendiri.

Di balik semua itu, ternyata acara gosip justru menjadi sumber pengetahuan bagi perempuan mengenai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Meskipun acara gosip sering menampilkan berita kekerasan dalam rumah tangga para selebritis, tapi dari sini pemirsa televisi menjadi tahu bahwa KDRT bukanlah sesuatu yang wajar dalam kehidupan rumah tangga. Melainkan tindakan kriminal serius yang bisa dilaporkan dan dipidanakan.

Artinya, acara gosip tidak bisa dimaknai sebagai acara yang sepenuhnya buruk bagi masyarakat, khususnya perempuan. Sebab acara gosip justru bisa digunakan untuk membantu menyebarkan ide-ide mengenai gerakan perempuan, sarana untuk menyebarkan informasi-informasi yang berguna bagi perempuan agar aktif membela kepentingan mereka sendiri, sekecil apapun itu. Hal ini salah satunya mewujud dalam kampanye anti KDRT seperti yang telah kita diskusikan di atas.

Tidak berbeda jauh dengan media arus utama, gosip di media sosial juga sering dituding menjadi sarana untuk mengukuhkan ideologi patriarki. Hal ini bisa dilihat dari gosip pelakor yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang netral. Satu-satunya yang patut dipersalahkan adalah perempuan yang telah "merebut" laki-laki orang tersebut.
Sama seperti acara gosip di televisi, gosip di media sosial juga tidak bisa dimaknai sepenuhnya buruk.

Kerangka pikir Stuart Hall dalam artikel Notes on Deconstructing 'the Popular' (1981) bisa membantu kita untuk membaca fenomena ini. Bagi Hall, budaya pop tidak bisa dimaknai sepenuhnya sebagai media yang mengukuhkan wacana dominan dalam masyarakat, tapi juga arena potensial untuk melawan wacana dominan itu. Artinya budaya pop lebih tepat dilihat dan dimaknai sebagai arena pertarungan wacana dan ideologi yang dominan dan tersubordinasi dalam masyarakat.

Gosip, yang notabene adalah budaya pop, juga bisa dimaknai demikian. Meskipun gosip pelakor di media sosial semakin mengukuhkan wacana dominan dalam masyarakat yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang netral, tetapi ada peluang yang bisa digunakan untuk melawan wacana itu. Peluang ini bisa ditemukan pada fitur komentar dan berbagi yang khas dari media sosial. Dengan kata lain, kedua fitur ini dapat dijadikan peluang untuk memperjuangkan ide-ide feminisme.

Dalam satu kiriman video pelakor di Instagram misalnya, kita tidak hanya bisa menjumpai komentar yang menyudutkan perempuan, yang dalam hal ini mewakili wacana dominan dalam masyarakat. Tetapi juga komentar yang ingin melawan wacana dominan itu, yang melihat bahwa setiap perselingkuhan selalu melibatkan dua pihak yang aktif.

Laki-laki yang berselingkuh bukanlah pihak netral apalagi pasif, tetapi pihak yang aktif dalam memutuskan dan menjalani hubungan dengan orang lain yang bukan istrinya. Tanpa ada keaktifan dari kedua belah pihak, mustahil perselingkuhan bisa terjadi.

Tidak hanya di kolom komentar, narasi yang sama juga bisa ditemukan ketika video itu dibagikan ulang. Di sini bisa kita lihat bahwa fitur komentar dan berbagi ini telah menjadi arena konstestasi terbuka atas wacana mengenai gender dan seksualitas.

Karena sumber gosip terbesar saat ini berasal dari media sosial, acara gosip (infotainment) di media arus utama seringkali menampilkan komentar pengguna media sosial mengenai gosip yang sedang berlangsung. Artinya, ada peluang komentar yang melawan wacana dominan ini untuk semakin menyebar, tidak hanya di media sosial, tapi juga di media arus utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar