Senin, 01 Mei 2017

Membumikan Ajaran Langit

Membumikan Ajaran Langit
Biyanto ;  Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya;
Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim
                                                       JAWA POS, 24 April 2017



                                                           
SENIN (24 April) bertepatan dengan 27 Rajab, umat Islam memperingati Isra dan Mikraj Nabi Muhammad. Peristiwa itu merupakan rangkaian perjalanan Rasulullah dari Masjid Al Haram di Makkah ke Masjid Al Aqsa di Jerusalem (Isra). Dari Masjid Al Aqsa, Rasulullah meneruskan perjalanan ke Sidrat Al Munthaha untuk menerima wahyu (Mikraj). Dalam rangkaian perjalanan suci itulah, Rasulullah akhirnya menerima perintah ibadah salat lima waktu.

Dalam sistem peribadatan, salat memiliki posisi yang sangat penting. Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda bahwa salat merupakan tiang agama. Barang siapa menjalankan salat, berarti mendirikan tiang agama. Sebaliknya, orang yang tidak mendirikan salat dianggap merobohkan tiang agama. Begitu penting ibadah salat sehingga sangat menentukan nasib seseorang di hadapan Allah SWT.

Pertanyaannya, adakah kaitan ibadah salat dengan amal sosial seseorang. Pertanyaan itu penting karena tujuan akhir beribadah adalah memperbaiki akhlak atau amal sosial seseorang. Dengan kata lain, jika seseorang rajin beribadah ritual, seharusnya baik pula amal sosialnya. Karena itu, ajaran Islam menekankan pentingnya keselarasan ibadah ritual dan amal sosial. Tegasnya, harus terwujud kesalehan individual dan kesalehan sosial.

Salah satu ajaran yang menunjukkan keterkaitan ibadah ritual dan amal sosial adalah salat. Salat sejatinya merupakan peribadatan yang bersifat sangat pribadi pada Allah. Dalam sabda Nabi ditegaskan, salat merupakan mikraj seorang mukmin kepada Tuhan-nya ( as shalatu mi’raj al mu’min). Selama menunaikan salat, seorang hamba hanya boleh menjalin hubungan dengan Allah.

Ajaran takbiratulihram (takbir yang mengharamkan) bermakna larangan hamba melakukan apa pun yang tidak berhubungan dengan salat. Tatkala mengangkat tangan seraya membaca Allahuakbar (Allah Mahabesar), seluruh pikiran harus fokus hanya pada Allah. Tetapi harus diingat, meski dimulai dengan takbiratulihram, salat diakhiri dengan salam. Ajaran salam dalam salat merupakan simbol hubungan baik pada sesama. Dengan begitu, ajaran salam meniscayakan seorang hamba berakhlak baik kepada sesama.

Selain membaca salam, orang yang mendirikan salat dianjurkan untuk menengok ke sebelah kanan dan kiri. Secara simbolis, ajaran salam berarti perintah memperhatikan orang-orang di sekitar seraya bertanya adakah di antara mereka yang membutuhkan pertolongan? Begitulah makna intrinsik dan ekstrinsik ibadah salat. Jika seluruh bacaan dan gerakan salat dicermati, ada banyak pesan yang bisa dipetik.

Substansi pesan yang diajarkan dalam salat adalah setiap hamba menjalin hubungan baik dengan Allah ( hablun minallah) dan sesama ( hablun minannas). Jika ada orang rajin beribadah, sedangkan amal sosialnya buruk, sesungguhnya dia gagal memahami substansi ajaran agama. Orang itu pasti tidak memahami makna ibadah ritual yang dijalankan.

Dimensi sosial dari ajaran agama penting dipahami dengan baik. Sebab, terkadang ada orang rajin beribadah haji dan umrah, tetapi sepulang dari Tanah Suci, dia tidak menjadi lebih baik. Bahkan, ada orang berangkat haji dan umrah dengan biaya hasil korupsi. Harapannya, melalui ibadah haji dan umrah, dosa-dosanya terhapus. Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad memang menjanjikan bahwa orang yang berhaji dan umrah akan diampuni dosanya. Saat pulang ke Tanah Air, para tamu Allah dikatakan bersih dari dosa layaknya bayi yang baru lahir (HR Bukhari, Muslim, dan Nasa’i).

Janji Rasulullah itu pasti tidak berlaku bagi mereka yang beribadah haji dan umrah dengan menggunakan uang haram. Sebab, tidak mungkin mencuci baju dengan air najis. Dalam sudut pandang psikologi, orang yang melaksanakan amalan baik dan buruk sekaligus berarti mengalami kepribadian terbelah (split of personality). Orang seperti itu bisa dikatakan sakit mental (mental illness).

Agama apa pun pasti tidak mengajari pemeluknya berkepribadian ganda. Ajaran agama pasti memerintah pemeluknya menjadi orang yang terbaik dalam pandangan Tuhan dan sesama. Bahkan, dalam kaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan, agama mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, Alquran mengutuk orang yang salat tetapi lalai dengan salatnya. Mereka yang dikatakan lalai adalah yang tidak tulus (riya) dan tidak mau menolong orang lain (QS Al Ma’un: 5–7).

Peringatan itu penting direnungkan agar seseorang terhindar dari label pendusta agama. Pendusta agama adalah mereka yang tidak mampu menerjemahkan ajaran salat dalam kehidupan sehari-hari. Itu berarti, setiap pribadi harus bisa membumikan makna ibadah salat yang merupakan hasil dari perjalan suci Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra dan Mikraj. Setiap pribadi dituntut untuk membumikan makna bacaan dan gerakan salat dalam kehidupan. Jika pesan salat bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, berarti sebagai pribadi kita sukses membumikan ajaran langit.