Selasa, 02 Mei 2017

Kunjungan Mike Pence dari Perspektif Intelijen

Kunjungan Mike Pence dari Perspektif Intelijen
Prayitno Ramelan  ;  Pengamat Intelijen
                                                   KORAN SINDO, 26 April 2017



                                                           
DALAM analisis intelijen, kata mengapa adalah bagian tersulit tetapi sangat penting bagi para analis, merupakan sebuah kesimpulan yang akan disampaikan kepada  ‘end user’  agar mereka tidak keliru dalam mengambil keputusan. Terlebih lagi bagi seorang pimpinan nasional sebuah negara.

Kita percaya bahwa kunjungan Wakil Presiden AS Mike Pence ke Indonesia, Kamis (20/4/2017) sudah dianalisis para pembantu presiden dengan mempertim­bangkan situasi di dunia internasional.

Penulis mencoba menganalisis apa sebenarnya tujuan seorang wapres negara superpower itu memilih Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia Tenggara yang dipilih untuk dikunjungi setelah Korea Selatan dan Jepang. Dari Indonesia, Pence kemudian mengunjungi Australia dan kembali ke Hawai.

Kunjungan Pence ke kawasan Asia-Pasifik ini merupakan lawatan keduanya sebagai wakil presiden. Kunjungan pertamanya dilakukan Februari 2017 ke Jerman dan Belgia untuk bertemu dengan para pejabat NATO dan Uni Eropa.

Secara pribadi, Pence berbeda dengan Presiden Trump. AP menjelaskan sosok Pence yang menarik, sebagai pendamping Trump. Jika Trump dikenal karena ketidakpastian dan suka berbicara blak-blakan, Pence memproyeksikan kerendahan hati Midwestern yang sopan dan lebih terukur dalam pidatonya.

Kunjungannya ke Jerman dan Belgia khusus untuk bertemu dengan para pejabat NATO dan Uni Eropa, yang lebih menunjukkan adanya jaminan bahwa AS akan meng­hormati komitmennya kepada NATO, bahkan setelah Trump mengatakan aliansi militer itu “barang usang”.

Konsep Hubungan Bilateral Amerika 

Saat mengunjungi Korea Selatan dan Jepang, Pence menegaskan bahwa Amerika akan tetap melindungi kedua negara sekutunya itu dari ancaman Korea Utara. Pernyataan Pence menindaklanjuti penekanan Presiden Trump yang tidak suka dengan pengembangan nuklir serta rudal dari Korea Utara.

Dikatakannya, “Era kesabaran strategis sudah usai”. AS kini mengerahkan gugusan kapal Induk Carl Vinson serta kapal penjelajah dan perusak berpeluru kendali ke Laut Jepang dan Semenanjung Korea, sementara di Yokosuka disiagakan kapal induk USS Ronald Reagan.

Selain itu, gugusan Nimitz telah melakukan latihan tempur di selatan California dalam Composite Training Unit Exercise  (COMPTUEX). Korea Selatan kini diperkuat dengan sistem pertahanan rudal tercanggih THAAD, akan diperkuat drone  penyerang.

Dari perkuatan alutsista tempur, AS kini siap tempur dalam melindungi sekutunya maupun siap untuk melakukan serangan terbatas ke  Korea Utara.

Saat bertemu dengan Wapres Jusuf Kalla, kedua pejabat membahas peningkatan kerja sama ekonomi, investasi maritim, penanggulangan terorisme, toleransi beragama, dan keberlanjutan peran Amerika Serikat di Asia-Pasifik, terutama Asia Tenggara.

JK mengatakan pembicaraan antara keduanya hanya menekankan soal penguatan hubungan bilateral antara kedua negara. Pence saat pertemuan itu, Kamis (20/4/2017), menyatakan keinginan hubungan AS-Indonesia tidak bersifat multilateral, tetapi lebih bersifat bilateral. 

Kepentingan AS di Kawasan Laut China Selatan 

Sebelumnya, Duta Besar AS untuk Indonesia, Joseph R Donovan yang menjelaskan  komitmen Washington ter­hadap Indonesia bisa terlihat dari kunjungan Pence. Dari empat negara, Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang dikunjungi Pence.

“Kunjungan Wapres Pence ini ditunjukkan sebagai komitmen kami yang mene­kan­kan pentingnya Indonesia sebagai negara mitra strategis AS,” kata Donovan di UII, Tangerang, Selasa (11/4/2017).

Berarti AS melihat Indonesia bukan dalam kapasitas sebagai anggota ASEAN, tetapi lebih dilihat pada posisi geografis strategis di kawasan Asia Tenggara.

Amerika telah memetakan ambisi China tentang penguasaan dan pengamanan kawasan LCS yang di perluas hingga Samudera Hindia hingga kawasan Afrika dan Eropa.

Presiden China Xi-Jinping mencanangkan visi Jalan Sutra Maritim (JSM) abad ke-21 berupa pembangunan prasarana transportasi laut dari China melintasi Asia Tenggara ke Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika, dengan anggaran USD40 miliar untuk pembangunan pelabuhan laut dalam (deep sea port) di lokasi-lokasi strategis di rute Jalan Sutra Maritim (JSM).

China telah melakukan pembangunan landasan pesawat dan pelabuhan laut di gugusan karang Paracel Island.

Presiden Barack Obama jauh hari, saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang, 14 November 2009 menyatakan kawasan Laut China Selatan tidak benar apabila hanya dikuasai oleh China.

Kini kawasan Asia-Pasifik, ekonomi yang terkendali telah digantikan dengan pasar terbuka, kediktatoran berubah menjadi demokrasi, standar kehidupan meningkat dan kemiskinan berkurang.

Amerika punya kepentingan bagi masa depan Asia-Pasifik. Pada 2011 Obama mengeluarkan kebijakan rebalancing, fokus AS bergeser dari Timur Tengah ke Asia-Pasifik. Dalam menghadapi tantangan di kawasan Asia-Pasifik, khususnya di Laut China Selatan, Amerika akan memperkuat persekutuan lamanya dengan Jepang, Korea Selatan, Australia, Thailand, dan Filipina. Sementara dua negara lain yang dinilai penting oleh AS adalah Malaysia dan Indonesia sebagai mitra baru. Keduanya dinilai sepaham karena menganut paham demokrasi dan semakin baik dalam mengembangkan perekonomiannya.

Kini muncul ancaman baru dari Korea Utara yang direspons AS dengan keras. Kementerian Luar Negeri China pada Selasa (4/4/2017) menyerukan agar semua pihak mengakhiri “Lingkaran setan yang bisa lepas kendali”. 

Stick and Carrot Policy 

Stand point dan course of action AS dalam mengimplementasikan ‘grand Strategy’  mereka di kawasan Asia-Pasifik tampak jelas dalam rangka membendung kebangkitan China sebagai global power. AS melaksanakan ‘Containment strategy’  yang jelas memerlukan sekutu dan kawan ataupun mitra.

Dalam mengimplementasikan strategi tersebut, AS sejak lama menerapkan ‘Stick and carrot policy’. Negara yang mau dan menurut akan diberi bantuan (carrot)  dan yang tidak menurut akan diberi tekanan (stick).

Nah, dalam kasus ini, tampaknya Malaysia masuk dalam kategori kedua. Oleh karena itu, kita harus cermat melihat kunjungan Pence. Mereka datang bukan sebagai “problem solver“ untuk permasalahan kita, namun untuk mencari peluang demi tercapainya ‘goal’ mereka.

Sebagai sebuah negara superpower, dari beberapa kasus-kasus yang terjadi, AS selalu beranggapan “the Worlds is USA.” Selama ada yang tidak mendukung kepentingan nasionalnya, mereka bisa tidak peduli, dan hal tersebut sah-sah saja, terutama bagi AS dan juga negara Barat lainnya yang meng­anut paham ërealismí dalam tata hubungan internasional.

Poin Penting Kunjungan Pence ke Indonesia 

Sejak 2013, AS kecewa dengan Malaysia di bawah PM Najib yang lebih berkiblat ke China, karena faktor per­dagangan. Malaysia menegaskan posisinya saat pertemuan ASEAN di Bali.

Tanpa dapat dibuktikan, penulis mencermati adanya serangan proksi (clandestine) ke Malaysia (kasus MH370, MH17, demo, dan diungkapnya isu korupsi Najib). Nah, melihat beberapa informasi tersebut, sebaiknya pemerintah membaca potensi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) dari kunjungan yang dinilai menaikkan gengsi, tetapi ada pesan tersembunyi.

Kita jangan terjebak dengan pandangan sebagian orang Indonesia yang merasa senang dan bangga bahwa AS melihat Indonesia demikian penting. Sebaiknya kita melihat apa pentingnya Indonesia bagi AS.

 Diperkirakan  konflik Timur Tengah akan bergeser ke Kawasan Asia-Pasifik dan bahkan Asia Tenggara. Apabila terjadi konflik militer di Laut China Selatan atau Semenanjung Korea, AS dan sekutunya akan membutuhkan Indonesia sebagai pangkalan transit atau pangkalan depan.

Inilah konsep sebuah peperang­an. Mereka tidak ingin pengerahan militer melalui jalur udara dan laut terganggu. Amerika penting bagi Indonesia dan merupakan mitra dagang terbesar keempat. Dari sisi investasi, AS merupakan investor asing terbesar ke-7 di Indonesia dengan nilai USD1,16 miliar untuk 540 proyek tahun lalu.

Kesimpulan 

Penulis melihat yang tersirat dari kunjungan Pence ke empat negara dalam rangka menata konsep strategis AS terkait dengan perkembangan situasi di Semenanjung Korea dan Laut China Selatan.

Ungkapan Pence di Korea Selatan dan Jepang, sangat jelas, kunjungannya merupakan upaya menghilangkan ancaman nasional baik ter­hadap AS maupun sekutu-sekutunya dari Korea Utara, serta kemungkinan China sebagai lawan potensial di masa depan.

Perlu pendalaman untuk menata hubungan bilateral kedua negara (pertahanan) dan sebaiknya dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Malaysia sudah di-delete sebagai mitra AS.

Pembacaan ATHG perlu diperdalam untuk menghindari gangguan serius terhadap pemerintah maupun keberlangsungan kepemimpinan Presiden Jokowi hingga 2019. Sebagai penutup, AS melihat Indonesia penting dan hanya menginginkan dua hal, “peningkatan” hubungan bilateral dan kemitraan. Carrot atau stick?