Selasa, 16 Mei 2017

Krisis dalam Jurnalisme

Krisis dalam Jurnalisme
SH Sarundajang  ;   Anggota Dewan Pers
                                                          KOMPAS, 15 Mei 2017


Artikel ini telah dimuat di MEDIA INDONESIA 2 Mei 2017


                                                           
Media berita telah menjadi kunci penggerak jurnalisme bagi masyarakat pada masa lalu. Namun, perkembangan dekade terakhir telah mengubah pemahaman ini.

Teknologi, ekonomi, dan transformasi politik yang tak terelakkan membentuk kembali lanskap komunikasi. Peliputan peristiwa-peristiwa besar seperti pemilihan umum serta referendum belakangan ini telah menimbulkan banyak pertanyaan tentang kualitas, dampak, dan kredibilitas jurnalisme, dengan kepentingan yang sangat luas.

Ada pemahaman bahwa media tradisional kehilangan kontrol atas definisi pemberitaan dan posisi utamanya sebagai sumber utama berita masyarakat. Hal ini telah digantikan desentralisasi, teknologi media yang diatur sesuka hati. Yang lain berpendapat bahwa merek berita tradisional tetap penting bagi generasi berita asli dan informasi tepercaya, serta setidaknya dalam teori merupakan jaminan kredibilitas.

Ada juga pandangan yang menyambut perluasan pluralisme media melalui munculnya media sosial, dan melihat ini sebagai alternatif selain jurnalisme tradisional (mainstream) yang terlalu sering mengalami penurunan dari standar profesional. Namun, perspektif lain menyesalkan potensi yangdisediakanmedsos bagi masyarakat, justru terperangkap dalam kepompong informasi yang tertutup serta ketidakmampuannya untuk membedakan kebenaran dari rekayasa.

Adalah benar yang disampaikan John Lloyd, wartawan harian Financial Times, yang menyampaikan bahwa ”surutnyaperan surat kabar secara fisik dan berpindah ke media internet telah menempatkannya ke dalam arus besar informasi, fantasi, bocoran, teori konspirasi, ekspresi kebajikan dan kebencian”.

Penurunan jumlah audiens media tradisional (televisi, radio, dan media cetak), menurunnya profit, serta klaim melebarnya kesenjangan antara media dan publik, berkembang biaknya hoaks(fake news) terkait peliputan sejumlah peristiwa politik besar pada tahun 2016 merupakan tantangan besar yang berdampak pada sektor media. Seperti halnya di negara lain, Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia juga sedang menghadapi tantangan penyebaran berita hoaks yang sangat meresahkan.

Fabrizio Moreira, politisi asal Ekuador yang hijrah ke Amerika Serikat karena menentang pemerintahan Rafael Carrera, mengatakan, ”Berita bohong dapat dengan sederhananya telah menyebarkan informasi yang keliru atau dengan bahayanya memoles propaganda yang penuh dengan kebencian.”

Apakah permasalahan yang dihadapi jurnalisme sebenarnya adalah masalah dengan budaya kita sendiri? Robert Biezenski, seorang profesor sosiologi, merasa bahwa di negara-negara lain media sedang memainkan peranan penting dalam perubahan di masyarakat. Surat kabar Barat sering kali hanya memberitakan pengungkapan masalah tanpa melihat perannya untuk menggerakkan masyarakat untuk peduli atau memecahkan masalah tersebut, sedangkan di bagian dunia lainnya dapat melihatnya.

Biezenski menunjuk pada Amerika Latin di mana kegiatan medianya sangat terkait dengan aktivitas politik dan selalu berpihak sebelah, dan ketika pemberitaannya terlalu jauh melangkah, sudah pasti akan terjadi kekerasan, wartawan terbunuh atau ditembak. Hal tersebut tidak terjadi di Amerika Utara karena jurnalis lebih menyentuh ke hal-hal yang praktis, berita entertaint dan sports. Dalam artian bahwa berita yang disampaikan tidak membuat jurnalisnya ”layak untuk terbunuh”. Sangat jarang menyentuh kepada sistem secara utuh yang berefek kepada kritik sosial, lebih kepada individu.

Media dan politik

Seperti halnya kondisi di Amerika Latin, media di Indonesia yang sebagian besar dimiliki pengusaha dan politisi pastinya akan memprioritaskan pemberitaan yang berat sebelah/berpihak. Stephen Whitworth, Pemimpin Redaksi Prairie Dog, berpendapat, sangatlah penting memastikan bahwa Anda terhubung dengan pembaca dan bahwa audiens Anda merasakan koran Anda adalah sesuatu yang nyaman untuk diambil dan dibaca.

Fokus jurnalisme bukan hanya fakta dari cerita, melainkan juga kemampuan untuk membentuk pemahaman akan cerita tersebut. Jurnalisme adalah sebuah proses seni. Jika Anda tidak memahami seni untuk berkomunikasi, menjangkau orang, dan menulis; Anda tidak akan dapat terhubung dengan masyarakat. Presentasi adalah penting untuk mendistribusikan informasi.

Keterikatan jurnalisme terhadap publik adalah bagaimana jurnalisme tersebut menjadi sesuatu yang dapat memperkuat kembali wacana publik dan ketertarikan mereka dalam politik. Jurnalisme harus menarik, dan relevan kepada publik. Apa yang terjadi saat ini adalah menarik, tetapi apa yang terjadi hari ini dan memberikan implikasi kepada kualitas hidup Anda di masa depan adalah penting.

Siapa pun yang menggeluti jurnalisme hendaknya terus bekerja menghadapi segala tantangan yang ada dan terus berupaya untuk mendidik masyarakat tentang apa yang sedang dikerjakan serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terbiasa dengan keberadaan media alternatif lainnya. Fakta menunjukkan sebuah koran ”alternatif” di Seattle bahkan mampu memenangi penghargaan bergengsi jurnalisme, Pulitzer.

Di dalam setiap tantangan atau hambatan selalu menawarkan tersedianya peluang. Jim Rutenberg dari harian New York Times menjelaskan, ledakan berita bohong/hoaks selama 2016 dapat saja justru meningkatkan nilai dari berita benar. Ia berkesimpulan: ”Jika demikian halnya, jurnalisme hebatlah yang akan menjadi penyelamat jurnalisme itu sendiri.” Jurnalisme asli, kritis, dan dari hasil telaah yang mendalam mungkin lebih dibutuhkan sekarang ini dibandingkan dengan masa yang lalu.

Yang harus kita sadari juga bahwa perubahan dan transformasi akan terus terjadi. Kemampuan untuk beradaptasi adalah hal yang sangat penting untuk mengantisipasinya dan jika perlu, lakukanlah revitalisasi.

Seperti diungkapkan Robert Biezenski: ”When society as a whole change, when the whole economy goes down the tube, when millions of people are suddenly unemployed. Then society will change. Not before. And then the media will change. Not before.” (Ketika masyarakat berubah secara utuh, ketika ekonomi jatuh, ketika jutaan orang tiba-tiba menganggur. Kemudian masyarakat akan berubah. Bukan sebelumnya. Dan kemudian media akan berubah. Bukan sebelum.)

Selamat Hari Kemerdekaan Pers Sedunia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar