Parpol dan
Peta Politik 2014
Syamsuddin Haris ; Kepala Pusat Penelitian Politik
Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
|
SINDO,
21 Januari 2013
Komisi
Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan 10 partai politik peserta Pemilu 2014. Apa
dampak keputusan KPU bagi persaingan antarparpol serta peta politik dan
kecenderungan seperti apa yang bisa dibayangkan dalam pemilu legislatif
mendatang?
Berbagai survei publik selama ini sebenarnya cukup
membantu kita dalam membaca arah kompetisi dalam pemilu legislatif mendatang.
Secara umum sejumlah survei tersebut mengarah pada beberapa kecenderungan. Pertama,
kemungkinan tersingkirnya Partai Demokrat sebagai parpol terbesar, digantikan
oleh Partai Golkar ataupun PDIP yang hampir selalu memiliki elektabilitas
lebih menjanjikan dibandingkan parpol yang digagas oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.
Badai internal yang tak kunjung berakhir terkait dugaan
keterlibatan beberapa pengurus teras dalam sejumlah kasus korupsi membuat
Demokrat masih akan terpenjara hingga momentum pemilu tiba. Kedua, peta politik
DPR ada kemungkinan lebih sederhana karena semakin berkurangnya jumlah parpol
yang dapat meraih kursi parlemen nasional akibat persentase ambang batas
parlemen yang ditingkatkan dari 2,5 menjadi 3,5 persen. Namun, kemungkinan
lain juga bisa terjadi, yakni tidak satu pun dari 10 parpol tersingkir.
Perkiraan terakhir bisa terjadi jika kompetisi
antarparpol ketat, di mana perolehan suara parpol terbesar tak lebih dari 30
persen, sehingga suara relatif terdistribusi ke semua parpol peserta pemilu.
Ketiga, jika peta politik Senayan lebih sederhana, maka parpol Islam dan
berbasis Islam sangat mungkin akan menjadi “korban” pertama struktur politik
baru hasil Pemilu 2014. Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa,
dan Partai Persatuan Pembangunan, secara sendiri-sendiri atau bersama-sama
bakal mengakhiri masa pengabdian mereka di DPR.
Namun, apabila tak satu pun parpol yang mampu meraih
lebih dari 30 persen suara, keputusan KPU merupakan “berkah tersembunyi” yang
dinikmati parpol-parpol Islam lantaran membuka peluang mereka untuk tetap
bertahan. Keempat, semakin meningkatnya jumlah mereka yang tidak menggunakan
hak pilih dalam pemilu mendatang sebagai akibat akumulasi kekecewaan terhadap
parpol yang berkuasa saat ini. Indikasi akan hal itu telah muncul melalui
hasil survei yang tecermin dari cukup besarnya swing voters, yakni mereka yang tidak atau belum memberikan
pilihan politik dalam survey-survei publik tersebut karena kecewa dengan
parpol yang berkuasasaatini.
Persaingan
Parpol Nasionalis
Meski kecenderungannya sudah tampak sejak Pemilu 2004
dan 2009 yang lalu, pemilu mendatang bakal menjadi ajang persaingan sengit di
antara partai-partai politik nasionalis. Setelah Partai Demokrat muncul
sebagai parpol nasionalis baru menjelang Pemilu 2004, dalam pemilu berikutnya
(2009) lahir Partai Gerindra yang didirikan Prabowo Subianto, serta Partai
Hanura yang didirikan mantan Panglima ABRI, Wiranto.
Demokrat berhasil menang secara fenomenal pada Pemilu
2009, sementara Gerindra dan Hanura berhasil lolos dari persyaratan ambang
batas parlemen mengalahkan parpol Islam yang relatif mapan, Partai Bulan
Bintang. Kini, menjelang Pemilu 2014 muncul lagi parpol nasionalis baru,
Partai NasDem, yang digagas Surya Paloh dan bermula dari ormas dengan nama
yang sama.NasDem,menurut sejumlah survei publik, memiliki elektabilitas
menjanjikan, sehingga bakal menjadi pesaing paling anyar bagi partai-partai
nasionalis yang telah ada, Golkar, PDI Perjuangan, Demokrat, Gerindra, dan
Hanura.
Jumlah parpol nasionalis yang bertambah dengan
kehadiran NasDem sudah tentu membuat persaingan semakin ketat karena segmen
pemilih keenam parpol tersebut relatif sama. Ada hal yang menarik,enam parpol
nasionalis yang lolos sebagai parpol peserta Pemilu 2014 tersebut memiliki
modal politik yang berbeda satu sama lain.
Demokrat dan PDI Perjuangan mengandalkan ketokohan
Presiden SBY dan mantan Presiden Megawati, sedangkan Gerindra dan Hanura
bermodalkan figur mantanmantan calon wakil presiden (Prabowo Subianto, 2009)
dan calon presiden serta wakil presiden sekaligus (Wiranto, 2004 dan 2009).
Di sisi lain, Golkar lebih mengandalkan kemampuan organisasi yang
terkonsolidasi, sedangkan NasDem lebih pada isu perubahan atau restorasi,
sebagai modal politik.
Parpol
dan Pamor Tokoh
Ulasan singkat di atas menggambarkan bahwa peta politik
pemilu legislatif pada 2014 turut ditentukan oleh kapasitas para figur
sentral parpol mengelola “pamor” mereka. Karena itu, nasib Demokrat sangat
ditentukan oleh kemampuan SBY mewariskan kinerja pemerintahan yang lebih baik
selama masa bakti tersisa menjelang 2014, selain faktor badai internal akibat
skandal korupsi sejumlah petinggi partai. Adapun peluang PDIP turut
ditentukan oleh pamor Megawati, apakah semakin meredup atau tidak menjelang
pemilu mendatang.
Hal yang sama berlaku pada Prabowo Subianto dan Wiranto
yang bakal menentukan masa depan Gerindra dan Hanura. Barangkali di sinilah
letak “keberuntungan” Golkar jika tidak terlalu memaksakan untuk “menjual”
Aburizal Bakrie yang relatif belum layak jual. Keberuntungan serupa bisa
dinikmati NasDem, juga apabila tidak terburu-buru menokohkan Surya Paloh
sebagai capres mendatang. Soalnya, pencitraan tokoh belum tentu berkorelasi
positif dengan keberhasilan parpol dalam pemilu legislatif.
Satu-satunya parpol Islam yang berpeluang bersaing
secara ketat dengan partai-partai nasionalis barangkali hanya Partai Keadilan
Sejahtera (PKS).Basis massa relatif loyal, kaderisasi dan soliditas internal
cukup memadai, serta tidak bergantung pada figur tunggal adalah beberapa
kelebihan PKS dibandingkan parpol Islam dan berbasis Islam lainnya.
Kecerdasan para petinggi parpol, baik nasionalis maupun
Islam, “membaca” aspirasi masyarakat, selain kemampuan menciptakan kiat dan branding sebagai parpol layak pilih, akan
menentukan keberhasilan parpol dalam Pemilu 2014. Karena itu jika parpol
Islam dan berbasis Islam di luar PKS tidak memiliki kecerdasan serupa, tidak
mustahil pemilu mendatang akan menjadi ajang pertaruhan terakhir bagi mereka.
●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar