Senin, 30 Agustus 2021

 

Kemerdekaan Profesi Dokter di Masa Pandemi

Moh Adib Khumaidi ;  Ketua Terpilih PB IDI

KOMPAS, 26 Agustus 2021

 

 

                                                           

Ilmu kedokteran selalu mengilhami para dokter Indonesia untuk melakukan evaluasi dan kritik terhadap kondisi sosial masyarakat. Demikian pula dalam kondisi pandemi saat ini.

 

Bidang kedokteran menawarkan metode, cara berpikir, dan metafor biologis dan fisiologi baru untuk menilai dan mendiagnosis ”tubuh sosial” saat ini, kemudian meresepkan intervensi terapeutik yang tepat, dan realitas-realitas yang dapat menghambat proses alamiah evolusi sosial. Hal inilah yang kemudian mengartikulasikan identitas profesional dan memuat pandangan tentang potensi dan peran nyata ilmu kedokteran di masa pandemi.

 

Proses perkembangan kedokteran dan kesehatan di Indonesia sejak 1910-an sampai zaman kemerdekaan RI dimulai dari sistem pendidikan kedokteran, sistem pelayanan kesehatan, termasuk juga keterlibatan para dokter dalam gerakan politik untuk menyuarakan kepentingan rakyat.

 

Bagaimana upaya menstimulasi kegiatan-kegiatan dalam rangka menghimpun dan menyebarkan pengetahuan, pencegahan dan penanggulangan penderitaan manusia, dan mempromosikan setiap elemen kemajuan manusia.

 

Selain itu, fokus pada pengembangan pendidikan kesehatan masyarakat dengan menganggap penyakit sebagai ”hal yang paling parah dalam hidup manusia dan sumber utama hampir semua penyakit manusia lainnya, termasuk kemiskinan, kejahatan, kelemahan moral, inefisiensi”.

 

Mereka melihat penyakit sebagai salah satu penyebab utama kemiskinan dan stagnasi ekonomi sehingga upaya memperbaiki kesehatan merupakan salah satu syarat terpenting untuk pengembangan ekonomi lebih lanjut.

 

Upaya pencegahan dan pendidikan kesehatan masyarakat jadi metode paling ekonomis untuk memperbaiki kesehatan masyarakat perdesaan. Melibatkan masyarakat untuk bekerja sama memperbaiki dan meningkatkan kehidupan mereka sendiri.

 

Sejarawan Sunil Amrith menyatakan, saat ini momen penting dalam pembentukan aliansi transnasional dalam pekerjaan kesehatan masyarakat. Salah satu tokoh kedokteran 1920-an, Dr Rasjid, juga menggunakan metafor biologis untuk menggambarkan komunitas tradisional sebagai organisme.

 

Ia juga merekomendasikan ”cara berpikir medis pada tingkat sosial dan politik”, yang berarti bahwa ”pengembangan lebih lanjut komunitas organik harus didasarkan pada prinsip tatanan yang sudah ada dan mengatur mereka”.

 

Dalam hal ini, pendekatan medis dinilai paling sesuai untuk memahami dinamika internal masyarakat dan para dokter adalah pemimpin alamiah mereka. Memimpin di komunitas dan memilih gaya hidup yang lebih sederhana dan otentik. Dokter Indonesia harus jadi tuas pengungkit pengembangan mutu penduduk.

 

Dokter nasionalis

 

Organisasi kesehatan pada dasarnya membentuk salah satu dari pilar yang di masa depan akan menjadi andalan dari bangunan negara yang lengkap. Para dokter Indonesia, yang sebelumnya dokter nasionalis, sekarang adalah dokter nasional, dokter medis yang bekerja di lembaga pemerintah.

 

Lantaran tak pernah gemar berpolitik selama masa penjajahan Belanda dan Jepang, elite medis Indonesia menjadi sangat apolitis di era Indonesia merdeka. Selama era Soekarno, mereka telah biasa berada dalam gejolak politik nasional, sementara tetap terus mempertahankan otonomi profesional.

 

Para dokter nasional Indonesia menyadari, meskipun posisi sosial mereka meningkat di tahun-tahun setelah kemerdekaan, keterlibatan politik yang dulu membuat profesi medis istimewa kini benar-benar lenyap. Setelah tak lagi menjadi elite subordinat dalam masyarakat kolonial, para dokter Indonesia memasuki dunia global, di mana mereka masih menjadi subordinat, bahkan dalam urusan kesehatan di negara sendiri.

 

Kemerdekaan profesi harus dapat mengembalikan profesi dokter seperti cita-cita para pendiri negara. Perkembangan kesehatan global harus menempatkan dokter Indonesia menjadi dokter nasionalis.

 

Dokter praktik mandiri/klinik swasta terlibat aktif dalam upaya kesehatan masyarakat dan keterjangkauan akses pelayanan ke seluruh masyarakat. Selain itu, dokter nasionalis terlibat dalam mendukung intervensi teknologi dan inovasi di bidang farmasi.

 

Dan yang lebih penting lagi, jika negara menempatkan profesi dokter sebagai SDM strategis dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat dan menjadikan para dokter referensi utama dalam mendiagnosis problem kesehatan dan penyakit sosial serta mengambil langkah intervensi terapeutik yang tepat pada saat pandemi sekarang ini, Indonesia diharapkan bisa segera terbebas dari pandemi.

 

Kemerdekaan profesi diharapkan juga mengembalikan kemandirian profesi dokter untuk menyuarakan politik kesehatan, bukan lagi politisasi kesehatan. Politik kesehatan dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat.

 

Juga advokasi pembiayaan dengan meningkatkan alokasi pada subsistem upaya preventif dan promotif, keterjangkauan akses pelayanan, serta optimalisasi pembiayaan dengan memberikan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat yang maksimal. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/baca/opini/2021/08/26/kemerdekaan-profesi-dokter-di-masa-pandemi/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar