Senin, 30 Agustus 2021

 

Jangan Cemas untuk Indonesia Emas

Suharso Monoarfa ;  Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan

KOMPAS, 25 Agustus 2021

 

 

                                                           

Setiap kita memperingati hari kemerdekaan, senantiasa berkumandang lagu-lagu nasional hampir di seluruh pelosok Nusantara. Terdengarlah beragam bentuk musik, dari bernada mars yang bersemangat hingga jenis himne atau gita puja. Salah satu himne yang tak pernah absen diputarulangkan adalah:

 

”Dari yakinku teguh / hati ikhlasku penuh / akan karunia-Mu

 

Tanah Air pusaka / Indonesia Merdeka

 

syukur aku sembahkan / ke hadirat-Mu Tuhan”

 

Adalah Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Mutahar, yang populer dikenal dengan nama Mutahar, yang menciptakan lagu dan syair tembang berjudul ”Syukur” tersebut.

 

Ketika beliau mangkat, majalah Tempo edisi 14-20 Juni 2004 menulis obituari tentang pendiri Paskibraka itu. Judulnya, ”Mutahar Sudah Merdeka”. Dengan tepat, Mutahar disebut sebagai representasi generasi pra-kemerdekaan. Generasi ini berciri cerdas, menguasai matematika, sejarah, bahasa, musik, dan sastra. Dan, yang terpenting, mereka punya standar moral. Kemudian keintelektualan dan standar moral itu disublimasikan ke dalam nilai-nilai kejuangan patriotik hingga akhir hayat mereka.

 

Obituari Mutahar itu menginspirasi Willem Berybe, seorang guru di SMA Katholik Giovanni, Kupang, untuk mengupas Mutahar dan tembang ”Syukur”-nya. Lagu yang dikenalkan kepada publik pada Januari 1945—persis tujuh bulan sebelum proklamasi—menurut Willem termasuk ”musik fungsional”.

 

Lagu ini berbicara tentang identitas bangsa dan kesatuan bangsa, merefleksi kembali fase-fase berat masa lalu, bertutur tentang korban berjatuhan di medan perang. Seorang Mutahar tahu betul dan yakin bahwa tanpa pengorbanan putra-putri terbaik bangsa di medan perang, niscaya kemerdekaan itu tak mungkin berhasil direngkuh dari tangan penjajah.

 

Ada yang menarik di sana. Tidak ada jarak keindonesiaan antara Willem dan Mutahar. Dari sisi usia mereka sungguh berjarak. Dari sisi agama, mereka berbeda. Tetapi, itu tak menghalangi Willem, seorang penganut Katolik yang taat, untuk mengapresiasi Mutahar yang Sayyid itu.

 

Komitmen untuk Indonesia Emas 2045

 

Komitmen ber-Indonesia memang tidak ditandai dengan pemilikan kartu tanda penduduk atau paspor. Tidak pula ditandai sekadar dengan sikap tegak sempurna menghormat bendera Merah Putih. Komitmen ber-Indonesia ditandai dengan kesediaan untuk hidup bersama dalam keragaman dalam sikap saling menghormati dan saling memuliakan.

 

Itulah, antara lain, yang menandai karakter generasi pendahulu. Mereka secara sekaligus memiliki kapasitas intelektual dan standar moral yang tinggi yang mendasari sikap patriotik yang teguh. Mereka bersetia pada Tanah Air-nya dengan memuliakan dan merayakan perbedaan sekaligus merawat persatuan.

 

Bangsa besar ini dibangun oleh generasi pendahulu yang tangguh seperti Mutahar itu. Adalah kewajiban generasi yang hidup di masa sekarang— termasuk dan terutama generasi milenial, generasi Z, generasi Alpha, dan generasi-generasi berikutnya—untuk melanjutkan dan menuntaskan pengabdian sejarah mereka. Masa depan Indonesia yang gemilang dijemput oleh berbagai generasi yang mampu membangun kapasitas dan kepribadiannya secara optimal sambil belajar dari generasi-generasi pendahulu mereka.

 

Kita mesti optimistis menyongsong 2045, generasi milenial, generasi Z, generasi Alpha, dan generasi sesudahnya akan menuliskan sejarah perayaan ulang tahun emas kemerdekaan kita kelak dengan tinta emas yang berkilau. Untuk itu, cerdas saja tak cukup. Kecerdasan harus senantiasa diinternalisasikan ke dalam praktik prinsip-prinsip moral. Sekali lagi dengan kedua modal itu, keintelektualan dan standar moral, akan terjamin bersemainya sikap-sikap patriotik yang didemonstrasikan sepanjang hayat.

 

Tahun 2045 sejatinya sudah di depan mata. Jarak kita darinya hanya 2,4 dekade. Orang bijak mengatakan, ”Masa depan adalah hari ini”. Kita hanya bisa menjemput masa depan dengan memperjuangkan di hari ini.

 

Menyongsong 2045, masing-masing dari kita sebagai anak bangsa semestinya terpanggil untuk memikul tugas-tugas sejarah yang sangat penting.

 

Itu berarti turut menjadi bagian dari kompleksitas yang konvergen menuju Indonesia Emas. Tentu dengan mempresentasikan yang terbaik dari diri kita masing-masing.

 

Maka, harus diakhiri krisis yang mengganggu dan mencederai kita, antara lain, krisis ketiadaan penghormatan terhadap perbedaan. Mesti dipahami bahwa berbeda tidak berarti bermusuhan. Bahwa kemajemukan dan perbedaan bukanlah zona tanpa toleransi.

 

Sering kali demokrasi diartikan jalan untuk uniformitas, padahal demokrasi adalah jalan untuk mencapai kesepakatan dari kemajemukan dan perbedaan. Demokrasi adalah instrumen atau tata cara untuk berlomba-lomba mewujudkan kebaikan dan kebajikan.

 

Demokrasi bukanlah alat untuk memecah belah. Demokrasi bukan alat untuk saling mencaci, apalagi membenci. Demokrasi wajib dijadikan instrumen untuk saling mendukung, memuliakan, dan saling membesarkan dengan berlomba-lomba menebar manfaat dan maslahat bagi sesama dan semesta.

 

Demokrasi, Islam, dan kesejahteraan

 

Dalam kerangka itu, tak ada pertentangan antara demokrasi dan Islam. Demokrasi bukanlah ideologi. Demokrasi adalah tata cara atau tata laksana. Sementara Islam adalah sebuah sistem nilai yang utuh dan menyeluruh untuk mengatur hidup manusia. Islam adalah sebuah jendela besar untuk melihat dunia yang membahagiakan lahir batin seutuhnya.

 

Kebajikan demokrasi yang terpokok adalah mengorientasikan langkah dan kebijakan kepada rakyat dan bangsa. Berdemokrasi bukanlah melayani segelintir elite yang berkuasa dan atau berpunya. Berdemokrasi adalah proses pembuktian bahwa tak ada satu pun orang atau pihak yang tertinggal atau ditinggal. No one left behind.

 

Islam rahmatan lil alamin mengajarkan bahwa fungsi terpokok demokrasi adalah menyejahterakan umat, memuliakan rakyat, dan membangun bangsa. Demokrasi wajib menghasilkan kesejahteraan. Demokrasi tanpa kesejahteraan adalah demokrasi yang gagal. Ibarat pohon, demokrasi adalah pohon dengan buah yang manis, bukan pohon yang berbuah pahit.

 

Menuju Indonesia Emas 2045, sebagai penduduk mayoritas, umat Islam harus berkomitmen untuk menjadi bagian penting dari ikhtiar besar dan mulia secara bersama untuk mencapai tiga impian dan cita-cita kebangsaan.

 

Pertama, menyandingkan Islam dan demokrasi. Selama ini, Islam dipandang tidak sejalan alias incompatible dengan demokrasi. Sebagai negara berpopulasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia harus bisa menjadi sebuah model yang penting dan sukses mempraktikkan demokrasi. Bahkan, mampu membuktikan bahwa dalam praktik bernegara dengan ideologi Pancasila, prinsip-prinsip Islam rahmatan lil alamin turut menyemaikan ideologi negara ke dalam kehidupan. Hasil akhirnya adalah Indonesia sejahtera dengan umat dan rakyatnya yang sejahtera, tanpa terkecuali—Indonesia adil makmur.

 

Kedua, menyandingkan demokrasi dan kesejahteraan. Selama ini, ada pandangan akademis, intelektual, dan politik bahwa hanya negara yang memiliki pendapatan per kapita tinggi saja yang bisa berdemokrasi. Indonesia patut jadi model untuk membalikkan anggapan ini dengan membuktikan bahwa untuk mencapai pendapatan per kapita yang tinggi itu, demokrasi adalah pilihan jalan yang paling tepat.

 

Ketiga, menyandingkan kebebasan dan stabilitas. Selama ini ada anggapan bahwa memilih kebebasan bermakna mengorbankan stabilitas. Sebaliknya, atas nama stabilitas maka kebebasan harus disingkirkan. Indonesia layak menjadi satu proyek percontohan bahwa kebebasan dan stabilitas dapat saling bersisian selayaknya dua sisi dari satu mata uang demokrasi.

 

Merawat persatuan

 

Bagi bangsa besar dan majemuk seperti Indonesia, ”persatuan” dan ”pembangunan” adalah tema yang terus relevan. Persatuan dan pembangunan tak bisa hanya diupayakan sekali untuk selamanya (once for all), tetapi harus terus-menerus tak henti-hentinya diikhtiarkan.

 

Saat ini bangsa kita, sebagaimana juga hampir semua bangsa di dunia, sedang diuji oleh pandemi. Pandemi tidak lagi sekadar peristiwa krisis kesehatan, tetapi dampaknya sangat luas dan mendatangkan kesulitan-kesulitan serius dalam bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Di dalamnya, persatuan dan pembangunan berhadapan dengan tantangan dan ancaman yang sangat serius.

 

Merawat persatuan menjadi salah satu pekerjaan rumah besar dan mulia kita sebagai bangsa. Dan, merawat persatuan hanya bisa dilakukan dengan terus melanjutkan dan meningkatkan pembangunan.

 

Membangun akan membuat kita bisa mencapai masyarakat adil, makmur, setara, berkeadilan. Hak-hak segenap rakyat kita penuhi sebagai hasil dari pembangunan. Maka, pembangunan adalah fondasi kokoh untuk persatuan.

 

Kita harus sadar sepenuhnya bahwa menjemput 2045 adalah momentum yang tepat untuk mengingatkan semua pihak agar bahu-membahu bekerja sama dan sama-sama bekerja memulihkan keadaan dengan membangun. Lalu dengan modal sukses pembangunan kita saling merapat dan bukan saling menjauh. Kita bersatu dan bukan terpecah belah. Kita harus senantiasa berada dalam lintasan perjalanan berbangsa dengan merawat kerukunan lintas agama, budaya, suku, dan golongan.

 

Profesor Noam Chomsky dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) pernah menulis dengan tandas: Jika sebuah masyarakat tak yakin dirinya bisa berubah, niscaya masyarakat itu tak akan berubah. Boleh jadi beliau diilhami Al Quran (Ar Raad Ayat 11) yang mengajarkan bahwa Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu melakukan perubahan dirinya.

 

Ada yang mencemaskan absennya peluang perubahan menuju Indonesia Emas. Kecemasan itu, antara lain, bersumber dari kekhawatiran atas kapasitas mengelola demokrasi untuk menghasilkan kesejahteraan dan ketidakmampuan mengelola politik identitas yang mempertentangkan Islam dengan negara-kebangsaan.

 

Kecemasan itu harus dijawab dengan menunaikan tugas sejarah dengan benar dan imperatif, sebagaimana generasi pra-kemerdekaan yang telah menunaikan bagiannya dengan gemilang. Maka, mencemaskan Indonesia 2045 tidak pada tempatnya. Dan, saat yang sama bersinarlah ”Indonesia Emas”.

 

”Dari yakinku teguh / Hati ikhlasku penuh / Akan karunia-Mu / Tanah Air Pusaka / Indonesia Merdeka / syukur aku sembahkan / ke hadirat-Mu, Tuhan.

 

Sumber :  https://www.kompas.id/baca/opini/2021/08/25/jangan-cemas-untuk-indonesia-emas/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar