Jumat, 07 Juli 2017

Psikologi Idul Fitri

Psikologi Idul Fitri
Muhbib Abdul Wahab  ;   Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah
dan UMJ
                                                   KORAN SINDO, 23 Juni 2017



                                                           
IDUL Fitri merupakan perayaan keagamaan yang sarat dengan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan bagi muslim yang sukses menyelesaikan ibadah Ramadan. Secara psikologis, Idul Fitri bukan sekadar “wisuda kelulusan” pendidikan Ramadan, tetapi merupakan manifestasi teologis atas kesucian asal usul jati diri (fitrah) manusia yang bertauhid, mencintai Tuhan, dan mencintai kemanusiaan. Karena itu, sebelum mengakhiri ibadah Ramadan dan melaksanakan salat Idul Fitri, setiap muslim yang mampu harus membayar zakat fitrah sebagai manifestasi dari kepedulian sosial dan spirit berbagi kebahagiaan kepada fakir miskin.

Penunaian zakat fitrah dan zakat harta (zakat mal) bagi yang berpuasa juga merupakan bentuk penyucian diri dari sifat kikir, bakhil, dan asosial serta sterilisasi harta kekayaan dari yang bukan menjadi haknya. Dalam Islam, harta kekayaan itu adalah titipan Tuhan (amanah) yang sebagiannya merupakan hak bagi para penerima zakat (mustahik).
  
Perayaan Idul Fitri, secara psikologis, tentu sangat dirindukan umat Islam di seluruh penjuru dunia karena momentum ini sarat makna serta nuansa spiritual dan sosial. Setidaknya terdapat tiga dimensi psikologi Idul Fitri, yaitu kemenangan, kebahagiaan, dan kerukunan, yang sangat penting dimaknai dan disyukuri dalam rangka meraih derajat ketakwaan dan merajut silaturahmi keumatan dan kebangsaan.

Psikologi Kemenangan
 
Idul Fitri sarat dengan spirit kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu dan memerdekakan diri dari syahwat perut dan di bawah perut, nafsu serakah, godaan setan, dan sebagainya. Menurut Imam Al-Ghazali, pendidikan Ramadan menjadi proses transformasi muslim dari manusia yang berwatak sebagai budak nafsu (abdulhawa) menjadi hamba Allah (abdullah) yang bertakwa: beriman, berilmu, dan beramal saleh.

Kemenangan atas “penjajahan hawa nafsu” ini merupakan modal utama menjadi manusia yang “berlebaran” dalam arti memperoleh ampunan dari Allah atas segala kesalahan dan dosa-dosa masa lalu. “Lebaran” kemenangan atas hawa nafsu dan godaan setan meneguhkan spirit “manusia baru” yang berkomitmen untuk menjadi hamba Tuhan yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia. Psikologi Lebaran meniscayakan peleburan aneka karakter kebinatangan untuk ditransformasi menjadi karakter dan nilai ketuhanan dengan meneladani sifat-sifat Allah dalam asmaul husna-Nya.

Jika selama Ramadan hamba senantiasa meminta maaf kepada Allah, di hari Idul Fitri dan seterusnya harus menjadi pemaaf. Jika selama Ramadan senan­tia­sa memohon rahmat atau kasih sayang Allah, di hari Idul Fitri dan seterusnya harus berkomitmen menjadi penyayang, bersikap welas asih, bermurah hati, dan sebagainya. Jadi Idul Fitri idealnya membentuk jiwa pemenang, bukan pecundang, terutama terhadap perjuangan melawan hawa nafsu dan godaan setan yang dihabituasi melalui puasa.

Psikologi Kebahagiaan
 
Psikologi Idul Fitri sarat dengan nuansa “pulang atau mudik”. Semua siswa ketika mendekati jam pulang sekolah pada umumnya bergembira. Suasana pulang kampung halaman adalah cerminan orang yang merindukan “asal-usul” kelahiran, mendambakan bertemu, bersilaturahmi, dan bercengkerama dengan keluarga. Psikologi Idul Fitri menjadi magnet sosial untuk melepas rindu, mengenang asal-usul primordial, meneguhkan spirit berbagi, dan saling mengohesifkan kebersamaan dan kekeluargaan sosial meskipun harus dilalui dengan perjuangan melelahkan karena kemacetan lalu lintas dan “ongkos finansial” yang tidak sedikit.

Selain itu psikologi Idul Fitri merupakan momentum kesadaran mental kolektif umat Islam untuk “pulang kembali” menuju fitrahnya yang mencintai Allah dan mencintai sesama manusia. Ketika Idul Fitri dirayakan, takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil dikumandangkan sebagai tanda syukur dan peneladanan sifat-sifat ketuhanan yang mencerminkan kekayaan jiwa yang rendah hati, tidak sombong, empati, dan senantiasa mengingat Allah (QS al-Baqarah [2]: 185).

Jadi Idul Fitri harus dimaknai sebagai jalan kemenangan mental spiritual yang mengantarkan pada harmoni, kedamaian hati, dan kebahagiaan sejati. Oleh sebab itu, mulai 1 Syawal (berarti: peningkatan) lulusan sekolah Ramadan idealnya mampu menindaklanjuti kedekatan vertikal (dengan Allah) dengan kedekatan horizontal (dengan sesama) dalam bentuk amal saleh, akhlak terpuji, antinarkoba dan miras, antikorupsi, antikekerasan, antiterorisme, dan sebagainya.

Sebaliknya wisudawan Ramadan harus memperlihatkan sikap dan perilaku yang penuh keadaban, perdamaian, persaudaraan, toleransi, kebersamaan, dan persamaan. Itulah esensi makna kembali ke fitrah sosial kemanusiaan dan kebangsaan yang pada gilirannya dapat membuahkan kebahagiaan bersama. Pesan moral dari psikologi Idul Fitri lainnya adalah penyadaran manusia terhadap pentingnya kembali pada jati diri eksistensialnya yang paling asasi, yaitu sebagai makhluk sosial religius yang setia memperjuangkan dan membela nilai-nilai kebaikan, kebenaran, dan keadilan (QS Ar-Rum [30]: 30).

Salah satu bentuk komitmen dan aktualisasi nilai-nilai kebaikan dan kebenaran adalah mengembangkan hubungan cinta kasih terhadap sesama, baik melalui “mudik fisik”: pulang kampung untuk bersilaturahmi, bermaaf-maafan, dan berbagi maupun “mudik mental spiritual”: memulangkan kesucian hati dan pikiran menuju persaudaraan sejati, kerukunan, kekeluargaan, kebersamaan dan persatuan kebangsaan.

Meski tidak cukup hanya pada Hari Raya Idul Fitri, merajut silaturahmi dan saling memaafkan dengan sesama merupakan suasana psikologis yang tidak hanya mendamaikan hati, tetapi juga sarat dengan aktualisasi nilai sosial kultural dan nasionalisme sebagai bangsa yang plural dan multikultural. Idul Fitri di Tanah Air terbukti merupakan budaya bangsa berbasis agama yang mampu menyatukan dan mempersaudarakan keluarga besar Indonesia. Mudik nasional juga menjadi faktor psikologis yang mampu menggerakkan mobilitas sosial eko­no­mi yang berdampak positif bagi pembangunan nasional.

Psikologi Kerukunan
 
Psikologi Idul Fitri menyadarkan pentingnya “mudik sosial kultural” dengan mengintensifkan komunikasi sosial (silaturahmi) dalam bentuk saling mengucapkan selamat, saling memohon maaf, saling berbagi, saling menyayangi, dan saling menghargai. Silaturahmi memang merupakan langkah strategis dan efektif untuk mewujudkan harmoni sosial dan kerukunan nasional.

Karena silaturahmi itu idealnya harus dimaknai sebagai transformasi sosial, bukan sekadar bertemu kangen, bersambung rasa, tapi juga harus membuahkan agenda perubahan dan program-program bersama demi peningkatan dan perbaikan masa depan sesuai dengan nilai-nilai moral yang diwariskan oleh pendidikan Ramadan. Dengan demikian, psikologi Idul Fitri harus dimaknai sebagai kerukunan sosial dan nasional dalam rangka memerdekakan diri dari segala penyakit hati yang tercela dan korup serta memerdekakan bangsa ini dari segala bentuk mafia, persekongkolan jahat, dan intervensi asing yang sarat dengan kepentingan liberalisme dan kapitalisme global.

Psikologi kerukunan esensinya adalah sikap dan komitmen bersama untuk memerdekakan diri dari segala penyakit hati dan bebas dari segala bentuk intervensi serta hegemoni asing dengan memperkuat ketahanan nasional dalam berbagai bidang. Fakta menunjukkan bahwa melalui budaya mudik dalam rangka Idul Fitri, transformasi dan distribusi sosial ekonomi menjadi sangat dinamis dan merata ke seluruh wilayah Nusantara.

Karena itu lulusan Ramadan yang telah sukses meraih kemenangan dalam melawan hawa nafsu dan sifat-sifat buruk sudah semestinya mampu berperan konstruktif dan beristikamah mempertahankan fitrah kemanusiaannya yang suci dan luhur, fitrah yang mencintai dan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan: kejujuran, kebenaran, kedamaian, kebersamaan, kearifan, toleransi, kerukunan dan keadilan sosial bagi semua dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan Ramadan dengan totalitas puasa yang dijalaninya (puasa perut, puasa pancaindra, puasa anggota badan, puasa hati, dan puasa pikiran dari hal-hal negatif) harus membuahkan integritas dan mentalitas manusia bertakwa yang sejati. Psikologi manusia bertakwa sejati adalah manusia yang selalu mendekatkan diri kepadaNya dan kepada sesamanya, jujur, setia kawan, berempati, rendah hati, sabar, memaafkan, toleran, selalu bersyukur, berbahagia, dan hidup penuh kerukunan. Saling memaafkan dan bersilaturahmi adalah kunci kedamaian hati dan kerukunan nasional.